alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Manfaatkan Limbah Kulit Kopi dan Ketela Pohon Menjadi Briket

Indonesia menjadi negara dengan banyak potensi energi. Hal sepele yang dianggap tak berguna, ternyata bisa menghasilkan energi. Inilah yang dilakukan mahasiswa Prodi Energi Terbarukan Politeknik Negeri Jember. Yakni, memanfaatkan limbah kulit kopi dan kulit ketela pohon untuk dijadikan briket ramah lingkungan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik matahari tidak mengurungkan niat Ahmad Mustafil Masyudi untuk kembali membuat briket dari kulit kopi dan kulit ketela pohon. Mahasiswa Prodi Teknik Energi Terbarukan, Jurusan Teknik, Politeknik Negeri Jember, ini dibantu dua temannya. Dengan memakai masker hitam, mereka langsung menghancurkan kulit kopi yang telah kering itu menjadi berukuran kecil. “Pakai blender juga bisa, tapi jangan sampai lembut,” kata Mustafil.

Menghancurkan kulit kopi itu dimaksudkan untuk mempermudah proses pengeringan dan perekatan nantinya. Kulit kopi itu kemudian disangrai sebentar hingga menghitam. Setelah terkumpul, barulah menuangkan cairan kental dari kulit ketela pohon yang disiapkan sebelumnya. Enzim yang ada di kulit ketela pohon adalah perekat alaminya. Perekat alami inilah untuk melengketkan kulit kopi.

Alat pencetak manual dengan tekanan pun dikeluarkan. Alat cetak sederhana itu yang membentuk kulit kopi menjadi briket atau arang. Senyum Masyudi pun kian lebar saat sinar matahari siang itu terik sekali. “Tinggal jemur. Kalau udah kering, bisa langsung dipakai. Cara kerjanya seperti arang. Bisa untuk nyate, bisa untuk arang shisha. Juga bisa pengganti briket selama ini yang terbuat dari batu bara,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai mahasiswa yang concern terhadap energi terbarukan, berbagai proses dalam menyelesaikan tugas akhir setidaknya bisa menemukan sesuatu menjadi energi. Ide kulit kopi itu berawal ketika Mustafil berkunjung ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Desa penghasil kopi robusta di tanah Jember itu juga menghasilkan limbah kulit kopi.

Nah, kulit kopi yang berserakan itu, jika sudah terlanjur basah, justru menjadi masalah baru bagi lingkungan. Sehingga, ide memanfaatkan kulit kopi pun muncul. Kendalanya pada waktu itu adalah bagaimana cara merekatkan kulit kopi. “Jika memakai bahan kimia tentu menghasilkan residu yang kurang baik, apalagi mengeluarkan biaya,” kenangnya.

Jalan keluar akhirnya bisa terpecahkan, lewat ketela pohon. “Ketela pohon itu memang ada unsur perekat, seperti tepung tapioka yang dijadikan pengental masakan,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik matahari tidak mengurungkan niat Ahmad Mustafil Masyudi untuk kembali membuat briket dari kulit kopi dan kulit ketela pohon. Mahasiswa Prodi Teknik Energi Terbarukan, Jurusan Teknik, Politeknik Negeri Jember, ini dibantu dua temannya. Dengan memakai masker hitam, mereka langsung menghancurkan kulit kopi yang telah kering itu menjadi berukuran kecil. “Pakai blender juga bisa, tapi jangan sampai lembut,” kata Mustafil.

Menghancurkan kulit kopi itu dimaksudkan untuk mempermudah proses pengeringan dan perekatan nantinya. Kulit kopi itu kemudian disangrai sebentar hingga menghitam. Setelah terkumpul, barulah menuangkan cairan kental dari kulit ketela pohon yang disiapkan sebelumnya. Enzim yang ada di kulit ketela pohon adalah perekat alaminya. Perekat alami inilah untuk melengketkan kulit kopi.

Alat pencetak manual dengan tekanan pun dikeluarkan. Alat cetak sederhana itu yang membentuk kulit kopi menjadi briket atau arang. Senyum Masyudi pun kian lebar saat sinar matahari siang itu terik sekali. “Tinggal jemur. Kalau udah kering, bisa langsung dipakai. Cara kerjanya seperti arang. Bisa untuk nyate, bisa untuk arang shisha. Juga bisa pengganti briket selama ini yang terbuat dari batu bara,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa yang concern terhadap energi terbarukan, berbagai proses dalam menyelesaikan tugas akhir setidaknya bisa menemukan sesuatu menjadi energi. Ide kulit kopi itu berawal ketika Mustafil berkunjung ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Desa penghasil kopi robusta di tanah Jember itu juga menghasilkan limbah kulit kopi.

Nah, kulit kopi yang berserakan itu, jika sudah terlanjur basah, justru menjadi masalah baru bagi lingkungan. Sehingga, ide memanfaatkan kulit kopi pun muncul. Kendalanya pada waktu itu adalah bagaimana cara merekatkan kulit kopi. “Jika memakai bahan kimia tentu menghasilkan residu yang kurang baik, apalagi mengeluarkan biaya,” kenangnya.

Jalan keluar akhirnya bisa terpecahkan, lewat ketela pohon. “Ketela pohon itu memang ada unsur perekat, seperti tepung tapioka yang dijadikan pengental masakan,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik matahari tidak mengurungkan niat Ahmad Mustafil Masyudi untuk kembali membuat briket dari kulit kopi dan kulit ketela pohon. Mahasiswa Prodi Teknik Energi Terbarukan, Jurusan Teknik, Politeknik Negeri Jember, ini dibantu dua temannya. Dengan memakai masker hitam, mereka langsung menghancurkan kulit kopi yang telah kering itu menjadi berukuran kecil. “Pakai blender juga bisa, tapi jangan sampai lembut,” kata Mustafil.

Menghancurkan kulit kopi itu dimaksudkan untuk mempermudah proses pengeringan dan perekatan nantinya. Kulit kopi itu kemudian disangrai sebentar hingga menghitam. Setelah terkumpul, barulah menuangkan cairan kental dari kulit ketela pohon yang disiapkan sebelumnya. Enzim yang ada di kulit ketela pohon adalah perekat alaminya. Perekat alami inilah untuk melengketkan kulit kopi.

Alat pencetak manual dengan tekanan pun dikeluarkan. Alat cetak sederhana itu yang membentuk kulit kopi menjadi briket atau arang. Senyum Masyudi pun kian lebar saat sinar matahari siang itu terik sekali. “Tinggal jemur. Kalau udah kering, bisa langsung dipakai. Cara kerjanya seperti arang. Bisa untuk nyate, bisa untuk arang shisha. Juga bisa pengganti briket selama ini yang terbuat dari batu bara,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa yang concern terhadap energi terbarukan, berbagai proses dalam menyelesaikan tugas akhir setidaknya bisa menemukan sesuatu menjadi energi. Ide kulit kopi itu berawal ketika Mustafil berkunjung ke Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Desa penghasil kopi robusta di tanah Jember itu juga menghasilkan limbah kulit kopi.

Nah, kulit kopi yang berserakan itu, jika sudah terlanjur basah, justru menjadi masalah baru bagi lingkungan. Sehingga, ide memanfaatkan kulit kopi pun muncul. Kendalanya pada waktu itu adalah bagaimana cara merekatkan kulit kopi. “Jika memakai bahan kimia tentu menghasilkan residu yang kurang baik, apalagi mengeluarkan biaya,” kenangnya.

Jalan keluar akhirnya bisa terpecahkan, lewat ketela pohon. “Ketela pohon itu memang ada unsur perekat, seperti tepung tapioka yang dijadikan pengental masakan,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/