alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Sinergi Akademi dan Teknologi Akuntansi di Era Society 5.0

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Revolusi Industri 4.0 yang berujung pada munculnya Society 5.0 mengharuskan seluruh masyarakat untuk bersiap dengan tantangan digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di bidang akademik dan dunia kerja. Pun halnya di sektor akuntansi. Tantangan terbesar adalah bagaimana mempersiapkan tenaga profesional di bidang akuntansi dan perpajakan untuk berkiprah dalam era Society 5.0 yang penuh dengan digitalisasi.

DARING: Tangkapan layar salah satu pemateri yang menjelaskan mengenai riset akuntansi dan perpajakan dalam seminar nasional Program Studi Magister Akuntansi Universitas Jember, kemarin (14/6).

Hal inilah yang menjadi tema besar dalam rangkaian acara Gebyar Tujuh Tahun Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember. Seminar ini merupakan bagian dari sejumlah agenda yang sebelumnya telah berlangsung. Mulai dari diseminasi karya ilmiah mahasiswa dan dosen, accounting & audit expo, workshop dengan tema Artificial Intelligence and Auditing, focus group discussion bertema Akreditasi Internasional dan Embrio Prodi Baru Internal Auditing dan Magister Perpajakan, lomba video Creavid Contest, serta Internal Audit Case Challenge.

Hadir sebagai pemateri dalam sesi pertama seminar tersebut yakni Dr Waluyo MSc Ak dari LSK Perpajakan, Direktur Eksekutif The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia Nur Abdillah Ak MM CA CPSAK QIA CACP GRCP GRCA, dan Board of Governor IIA Indonesia Nur Mokhlas Iryo Sukaimi MSc Ak CMA QIA CIA CGAP CCSA PMIIA CA CRMA CPA CISA CPA (Aust). Kemudian, di sesi kedua diisi oleh pemateri Kaprodi Magister Akuntansi FEB Unej Dr Siti Maria Wardayati Msi Ak CA CPA CSRS CRMO, serta Associate Director Deloitte Abdiansyah Prahasto MBA CIA dan Kaprodi Magister Akuntansi Universitas Diponegoro Prof Faisal PhD CMA CRP CERG.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wakil Rektor I Universitas Jember Prof Slamin dalam sambutannya menerangkan, dalam era Society 5.0, masyarakat banyak dihadapkan dengan teknologi canggih, sehingga mengurangi pekerjaan yang dilakukan manusia. Namun, di sisi lain hal ini memunculkan dunia kerja baru. “Sehingga kita harus siap beradaptasi dengan lahan kerja yang baru dan mempersiapkan para mahasiswa dan alumni dengan kompetensi yang baru,” paparnya.

Sektor akuntansi dan perpajakan pun tak ketinggalan mencicipi tantangan ini. Dr Waluyo menuturkan bahwa, agar dapat sukses menyongsong era Society 5.0, butuh sinergi dan kolaborasi dengan berbagai sektor. “Misalnya dengan sektor hukum, ekonomi dan bisnis, teknik informatika, dan lainnya,” ujarnya kepada 75 peserta yang terdiri atas mahasiswa S-2 Akuntansi tahun 2019 dan 2020 serta alumni dan dosen pascasarjana.

Meski demikian, lanjut dia, ada banyak kompetensi yang bisa dikerjakan di sektor akuntansi. Salah satunya di bidang riset. Riset akuntansi di era Society 5.0 mempunyai cakupan yang lebih luas dengan memperhatikan fenomena pengembangan ekonomi digital. “Kebutuhan riset akuntansi dan perpajakan masih sangat besar. Apalagi kapasitasnya multidimensi, sehingga bisa dirujuk ke berbagai bidang,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Abdillah memaparkan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menggabungkan lima komponen, yakni manusia, cloud computing, internet of things, artificial intelligence, dan big data. Faktor manusia inilah yang harus direbut dan tak bisa digilas oleh mesin. “Kita harus mencari celah mana yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Revolusi Industri 4.0 yang berujung pada munculnya Society 5.0 mengharuskan seluruh masyarakat untuk bersiap dengan tantangan digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di bidang akademik dan dunia kerja. Pun halnya di sektor akuntansi. Tantangan terbesar adalah bagaimana mempersiapkan tenaga profesional di bidang akuntansi dan perpajakan untuk berkiprah dalam era Society 5.0 yang penuh dengan digitalisasi.

DARING: Tangkapan layar salah satu pemateri yang menjelaskan mengenai riset akuntansi dan perpajakan dalam seminar nasional Program Studi Magister Akuntansi Universitas Jember, kemarin (14/6).

Hal inilah yang menjadi tema besar dalam rangkaian acara Gebyar Tujuh Tahun Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember. Seminar ini merupakan bagian dari sejumlah agenda yang sebelumnya telah berlangsung. Mulai dari diseminasi karya ilmiah mahasiswa dan dosen, accounting & audit expo, workshop dengan tema Artificial Intelligence and Auditing, focus group discussion bertema Akreditasi Internasional dan Embrio Prodi Baru Internal Auditing dan Magister Perpajakan, lomba video Creavid Contest, serta Internal Audit Case Challenge.

Hadir sebagai pemateri dalam sesi pertama seminar tersebut yakni Dr Waluyo MSc Ak dari LSK Perpajakan, Direktur Eksekutif The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia Nur Abdillah Ak MM CA CPSAK QIA CACP GRCP GRCA, dan Board of Governor IIA Indonesia Nur Mokhlas Iryo Sukaimi MSc Ak CMA QIA CIA CGAP CCSA PMIIA CA CRMA CPA CISA CPA (Aust). Kemudian, di sesi kedua diisi oleh pemateri Kaprodi Magister Akuntansi FEB Unej Dr Siti Maria Wardayati Msi Ak CA CPA CSRS CRMO, serta Associate Director Deloitte Abdiansyah Prahasto MBA CIA dan Kaprodi Magister Akuntansi Universitas Diponegoro Prof Faisal PhD CMA CRP CERG.

Wakil Rektor I Universitas Jember Prof Slamin dalam sambutannya menerangkan, dalam era Society 5.0, masyarakat banyak dihadapkan dengan teknologi canggih, sehingga mengurangi pekerjaan yang dilakukan manusia. Namun, di sisi lain hal ini memunculkan dunia kerja baru. “Sehingga kita harus siap beradaptasi dengan lahan kerja yang baru dan mempersiapkan para mahasiswa dan alumni dengan kompetensi yang baru,” paparnya.

Sektor akuntansi dan perpajakan pun tak ketinggalan mencicipi tantangan ini. Dr Waluyo menuturkan bahwa, agar dapat sukses menyongsong era Society 5.0, butuh sinergi dan kolaborasi dengan berbagai sektor. “Misalnya dengan sektor hukum, ekonomi dan bisnis, teknik informatika, dan lainnya,” ujarnya kepada 75 peserta yang terdiri atas mahasiswa S-2 Akuntansi tahun 2019 dan 2020 serta alumni dan dosen pascasarjana.

Meski demikian, lanjut dia, ada banyak kompetensi yang bisa dikerjakan di sektor akuntansi. Salah satunya di bidang riset. Riset akuntansi di era Society 5.0 mempunyai cakupan yang lebih luas dengan memperhatikan fenomena pengembangan ekonomi digital. “Kebutuhan riset akuntansi dan perpajakan masih sangat besar. Apalagi kapasitasnya multidimensi, sehingga bisa dirujuk ke berbagai bidang,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Abdillah memaparkan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menggabungkan lima komponen, yakni manusia, cloud computing, internet of things, artificial intelligence, dan big data. Faktor manusia inilah yang harus direbut dan tak bisa digilas oleh mesin. “Kita harus mencari celah mana yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kehadiran Revolusi Industri 4.0 yang berujung pada munculnya Society 5.0 mengharuskan seluruh masyarakat untuk bersiap dengan tantangan digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di bidang akademik dan dunia kerja. Pun halnya di sektor akuntansi. Tantangan terbesar adalah bagaimana mempersiapkan tenaga profesional di bidang akuntansi dan perpajakan untuk berkiprah dalam era Society 5.0 yang penuh dengan digitalisasi.

DARING: Tangkapan layar salah satu pemateri yang menjelaskan mengenai riset akuntansi dan perpajakan dalam seminar nasional Program Studi Magister Akuntansi Universitas Jember, kemarin (14/6).

Hal inilah yang menjadi tema besar dalam rangkaian acara Gebyar Tujuh Tahun Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember. Seminar ini merupakan bagian dari sejumlah agenda yang sebelumnya telah berlangsung. Mulai dari diseminasi karya ilmiah mahasiswa dan dosen, accounting & audit expo, workshop dengan tema Artificial Intelligence and Auditing, focus group discussion bertema Akreditasi Internasional dan Embrio Prodi Baru Internal Auditing dan Magister Perpajakan, lomba video Creavid Contest, serta Internal Audit Case Challenge.

Hadir sebagai pemateri dalam sesi pertama seminar tersebut yakni Dr Waluyo MSc Ak dari LSK Perpajakan, Direktur Eksekutif The Institute of Internal Auditors (IIA) Indonesia Nur Abdillah Ak MM CA CPSAK QIA CACP GRCP GRCA, dan Board of Governor IIA Indonesia Nur Mokhlas Iryo Sukaimi MSc Ak CMA QIA CIA CGAP CCSA PMIIA CA CRMA CPA CISA CPA (Aust). Kemudian, di sesi kedua diisi oleh pemateri Kaprodi Magister Akuntansi FEB Unej Dr Siti Maria Wardayati Msi Ak CA CPA CSRS CRMO, serta Associate Director Deloitte Abdiansyah Prahasto MBA CIA dan Kaprodi Magister Akuntansi Universitas Diponegoro Prof Faisal PhD CMA CRP CERG.

Wakil Rektor I Universitas Jember Prof Slamin dalam sambutannya menerangkan, dalam era Society 5.0, masyarakat banyak dihadapkan dengan teknologi canggih, sehingga mengurangi pekerjaan yang dilakukan manusia. Namun, di sisi lain hal ini memunculkan dunia kerja baru. “Sehingga kita harus siap beradaptasi dengan lahan kerja yang baru dan mempersiapkan para mahasiswa dan alumni dengan kompetensi yang baru,” paparnya.

Sektor akuntansi dan perpajakan pun tak ketinggalan mencicipi tantangan ini. Dr Waluyo menuturkan bahwa, agar dapat sukses menyongsong era Society 5.0, butuh sinergi dan kolaborasi dengan berbagai sektor. “Misalnya dengan sektor hukum, ekonomi dan bisnis, teknik informatika, dan lainnya,” ujarnya kepada 75 peserta yang terdiri atas mahasiswa S-2 Akuntansi tahun 2019 dan 2020 serta alumni dan dosen pascasarjana.

Meski demikian, lanjut dia, ada banyak kompetensi yang bisa dikerjakan di sektor akuntansi. Salah satunya di bidang riset. Riset akuntansi di era Society 5.0 mempunyai cakupan yang lebih luas dengan memperhatikan fenomena pengembangan ekonomi digital. “Kebutuhan riset akuntansi dan perpajakan masih sangat besar. Apalagi kapasitasnya multidimensi, sehingga bisa dirujuk ke berbagai bidang,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Abdillah memaparkan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menggabungkan lima komponen, yakni manusia, cloud computing, internet of things, artificial intelligence, dan big data. Faktor manusia inilah yang harus direbut dan tak bisa digilas oleh mesin. “Kita harus mencari celah mana yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/