alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Batu Bara Bikin Harga Listrik Indonesia Murah, Begini Penjelasannya

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER – Batu bara menjadi komoditas utama energi nasional dengan kontribusi paling besar dibandingkan energi lain. Sumber daya ini juga menyebabkan harga tarif dasar listrik di Indonesia cenderung murah.

Sebagai negara penghasil batu bara terbesar di dunia, komoditas ini ikut memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Salah satunya berdampak pada tarif dasar listrilk nasional.

Baca Juga: Ratusan Santri Wati Nurul Jadid asal Jember Balik ke Pondok Bareng-Bareng

Selama ini, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara masih menjadi pembangkit listrik paling kompetitif dibandingkan dengan pembangkit lainnya. Pemerintah dalam beberapa kesempatan menjabarkan bahwa saat ini harga listik dari PLTU hanya sekitar US$6 – 8 sen per kWh.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harga tersebut sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya + baterai. PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa biaya produksi listrik untuk PLTS + baterai dapat mencapai US$12 sen per kWh. Namun begitu, harga EBT diharapkan dapat terus turun di masa depan seiring pelaksanaan transisi energi.

Dari jenis pembangkitnya, hingga kini PLTU masih menguasai pembangkit secara nasional dengan porsi 36,9 gigawatt (GW) listrik. Jumlah ini setara 50 persen dari total kapasitas terpasang energi nasional yakni sekitar 73,73 GW sampai Desember 2021. Selain itu disusul oleh PLTGU 12,4 GW, PLTG/MG 8,5 GW, PLTD 4,9 GW hingga PLTA 6,4 GW.

“Listrik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat modern. Saya piker kita semua sepakat, bahwa kita bisa bayangkan kehidupan kita kalau tidak ada listrik,” jelas Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Puji Muhardi, Puji Muhardi.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER – Batu bara menjadi komoditas utama energi nasional dengan kontribusi paling besar dibandingkan energi lain. Sumber daya ini juga menyebabkan harga tarif dasar listrik di Indonesia cenderung murah.

Sebagai negara penghasil batu bara terbesar di dunia, komoditas ini ikut memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Salah satunya berdampak pada tarif dasar listrilk nasional.

Baca Juga: Ratusan Santri Wati Nurul Jadid asal Jember Balik ke Pondok Bareng-Bareng

Selama ini, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara masih menjadi pembangkit listrik paling kompetitif dibandingkan dengan pembangkit lainnya. Pemerintah dalam beberapa kesempatan menjabarkan bahwa saat ini harga listik dari PLTU hanya sekitar US$6 – 8 sen per kWh.

Harga tersebut sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya + baterai. PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa biaya produksi listrik untuk PLTS + baterai dapat mencapai US$12 sen per kWh. Namun begitu, harga EBT diharapkan dapat terus turun di masa depan seiring pelaksanaan transisi energi.

Dari jenis pembangkitnya, hingga kini PLTU masih menguasai pembangkit secara nasional dengan porsi 36,9 gigawatt (GW) listrik. Jumlah ini setara 50 persen dari total kapasitas terpasang energi nasional yakni sekitar 73,73 GW sampai Desember 2021. Selain itu disusul oleh PLTGU 12,4 GW, PLTG/MG 8,5 GW, PLTD 4,9 GW hingga PLTA 6,4 GW.

“Listrik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat modern. Saya piker kita semua sepakat, bahwa kita bisa bayangkan kehidupan kita kalau tidak ada listrik,” jelas Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Puji Muhardi, Puji Muhardi.

JAKARTA, RADARJEMBER – Batu bara menjadi komoditas utama energi nasional dengan kontribusi paling besar dibandingkan energi lain. Sumber daya ini juga menyebabkan harga tarif dasar listrik di Indonesia cenderung murah.

Sebagai negara penghasil batu bara terbesar di dunia, komoditas ini ikut memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Salah satunya berdampak pada tarif dasar listrilk nasional.

Baca Juga: Ratusan Santri Wati Nurul Jadid asal Jember Balik ke Pondok Bareng-Bareng

Selama ini, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara masih menjadi pembangkit listrik paling kompetitif dibandingkan dengan pembangkit lainnya. Pemerintah dalam beberapa kesempatan menjabarkan bahwa saat ini harga listik dari PLTU hanya sekitar US$6 – 8 sen per kWh.

Harga tersebut sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya + baterai. PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa biaya produksi listrik untuk PLTS + baterai dapat mencapai US$12 sen per kWh. Namun begitu, harga EBT diharapkan dapat terus turun di masa depan seiring pelaksanaan transisi energi.

Dari jenis pembangkitnya, hingga kini PLTU masih menguasai pembangkit secara nasional dengan porsi 36,9 gigawatt (GW) listrik. Jumlah ini setara 50 persen dari total kapasitas terpasang energi nasional yakni sekitar 73,73 GW sampai Desember 2021. Selain itu disusul oleh PLTGU 12,4 GW, PLTG/MG 8,5 GW, PLTD 4,9 GW hingga PLTA 6,4 GW.

“Listrik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat modern. Saya piker kita semua sepakat, bahwa kita bisa bayangkan kehidupan kita kalau tidak ada listrik,” jelas Ketua Umum Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI) Puji Muhardi, Puji Muhardi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/