alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Jejak dan Kiprah Ketua Partai Termuda

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Namanya sudah tak asing di telinga kancah perpolitikan Bondowoso bahkan sebelum ia menginjakkan kakinya di ruang parlemen. Dunia aktivis kampus dan akademik mengantarnya ke dunia politik pada pemilu 2014.

Ia adalah Ady Kriesna. Ia pernah menjadi Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jember (2000-2001) dan menakhodai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember pada tahun 2002-2003.

Pria yang terkenal sebagai singa podium sejak dibangku kuliah ini merupakan salah satu generasi Reformasi 98 yang juga aktif menulis di media cetak sejak berstatus mahasiswa. Tulisannya dimuat di majalah kampus dan koran lokal. Artikelnya yang tercatat di Radar Jember antara lain : Partai Ojek, Kiprah Pemuda di Era Reformasi, Tidak Ada Tuhan dalam Pilkada.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak heran, selepas menjabat Presiden BEM, ia mampu menjadi Ketua HMI Cabang Jember yang membawahi Kabupaten Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo. “Dengan berorganisasi, saya bisa belajar banyak. Bahkan organisasilah yang memengaruhi jalan hidup saya,” tuturnya.

Kriesna mengaku, sebelumnya tidak pernah membayangkan menjadi anggota DPRD. Ia hanya punya cita-cita untuk bermanfaat bagi banyak orang melalui jalur hukum, sesuai dengan ilmu yang ia tempuh dibangku kuliah. “Secara materi saya tidak siap saat itu. Tapi saya percaya kepada teman-teman dan yakin Tuhan akan memberi kemudahan kepada orang yang niatnya mengabdikan diri,” kata Kriesna.

Dirinya mendefinisikan kekuasaan sebagai jalan tercepat dalam pengabdian. Karena itu, ia memilih politik sebagai jalan hidupnya. Tapi ia juga menyadari bahwa pengabdian tidak selalu harus dengan kekuasaan. Baginya, di mana pun dan kapan pun tugas utama manusia adalah mengabdi kepada masyarakatnya. Slogan terkenalnya, “Kalau bisa bermanfaat tanpa berkuasa, untuk apa harus merebut kekuasaan”.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Namanya sudah tak asing di telinga kancah perpolitikan Bondowoso bahkan sebelum ia menginjakkan kakinya di ruang parlemen. Dunia aktivis kampus dan akademik mengantarnya ke dunia politik pada pemilu 2014.

Ia adalah Ady Kriesna. Ia pernah menjadi Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jember (2000-2001) dan menakhodai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember pada tahun 2002-2003.

Pria yang terkenal sebagai singa podium sejak dibangku kuliah ini merupakan salah satu generasi Reformasi 98 yang juga aktif menulis di media cetak sejak berstatus mahasiswa. Tulisannya dimuat di majalah kampus dan koran lokal. Artikelnya yang tercatat di Radar Jember antara lain : Partai Ojek, Kiprah Pemuda di Era Reformasi, Tidak Ada Tuhan dalam Pilkada.

Tak heran, selepas menjabat Presiden BEM, ia mampu menjadi Ketua HMI Cabang Jember yang membawahi Kabupaten Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo. “Dengan berorganisasi, saya bisa belajar banyak. Bahkan organisasilah yang memengaruhi jalan hidup saya,” tuturnya.

Kriesna mengaku, sebelumnya tidak pernah membayangkan menjadi anggota DPRD. Ia hanya punya cita-cita untuk bermanfaat bagi banyak orang melalui jalur hukum, sesuai dengan ilmu yang ia tempuh dibangku kuliah. “Secara materi saya tidak siap saat itu. Tapi saya percaya kepada teman-teman dan yakin Tuhan akan memberi kemudahan kepada orang yang niatnya mengabdikan diri,” kata Kriesna.

Dirinya mendefinisikan kekuasaan sebagai jalan tercepat dalam pengabdian. Karena itu, ia memilih politik sebagai jalan hidupnya. Tapi ia juga menyadari bahwa pengabdian tidak selalu harus dengan kekuasaan. Baginya, di mana pun dan kapan pun tugas utama manusia adalah mengabdi kepada masyarakatnya. Slogan terkenalnya, “Kalau bisa bermanfaat tanpa berkuasa, untuk apa harus merebut kekuasaan”.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Namanya sudah tak asing di telinga kancah perpolitikan Bondowoso bahkan sebelum ia menginjakkan kakinya di ruang parlemen. Dunia aktivis kampus dan akademik mengantarnya ke dunia politik pada pemilu 2014.

Ia adalah Ady Kriesna. Ia pernah menjadi Presiden BEM Universitas Muhammadiyah Jember (2000-2001) dan menakhodai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jember pada tahun 2002-2003.

Pria yang terkenal sebagai singa podium sejak dibangku kuliah ini merupakan salah satu generasi Reformasi 98 yang juga aktif menulis di media cetak sejak berstatus mahasiswa. Tulisannya dimuat di majalah kampus dan koran lokal. Artikelnya yang tercatat di Radar Jember antara lain : Partai Ojek, Kiprah Pemuda di Era Reformasi, Tidak Ada Tuhan dalam Pilkada.

Tak heran, selepas menjabat Presiden BEM, ia mampu menjadi Ketua HMI Cabang Jember yang membawahi Kabupaten Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo. “Dengan berorganisasi, saya bisa belajar banyak. Bahkan organisasilah yang memengaruhi jalan hidup saya,” tuturnya.

Kriesna mengaku, sebelumnya tidak pernah membayangkan menjadi anggota DPRD. Ia hanya punya cita-cita untuk bermanfaat bagi banyak orang melalui jalur hukum, sesuai dengan ilmu yang ia tempuh dibangku kuliah. “Secara materi saya tidak siap saat itu. Tapi saya percaya kepada teman-teman dan yakin Tuhan akan memberi kemudahan kepada orang yang niatnya mengabdikan diri,” kata Kriesna.

Dirinya mendefinisikan kekuasaan sebagai jalan tercepat dalam pengabdian. Karena itu, ia memilih politik sebagai jalan hidupnya. Tapi ia juga menyadari bahwa pengabdian tidak selalu harus dengan kekuasaan. Baginya, di mana pun dan kapan pun tugas utama manusia adalah mengabdi kepada masyarakatnya. Slogan terkenalnya, “Kalau bisa bermanfaat tanpa berkuasa, untuk apa harus merebut kekuasaan”.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/