alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

UNICEF dan LPKIPI Launching Rumah Curhat Kirana Lumajang

Mobile_AP_Rectangle 1

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak maupun kekerasan terhadap anak di Lumajang masih cukup tinggi. Sebagai upaya menekan kasus, UNICEF bersama Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang. Hal ini sebagai bagian dari komitmen dan kepedulian UNICEF dan LPKIPI terhadap masa depan anak-anak Lumajang.

Audiensi ini diterima langsung Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati di Ruang Mahameru, Kantor Bupati Lumajang, Rabu (10/8). Bersama dengan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, beragam permasalahan anak diurai. Sebab, diskusi ini bertujuan mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tidak terkecuali permasalahan sanitasi.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud apresiasi UNICEF kepada pemerintah daerah yang memiliki komitmen tinggi terhadap permasalahan anak dan sanitasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Perketat Keberadaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di Lumajang

Di Lumajang, kata Arie, ada tiga hal yang ingin diwujudkan. Yakni pencegahan dan pengurangan perkawinan anak, sanitasi aman dan peningkatan gizi yang massif. “Kami mendukung inovasi program yang selaras dengan upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di Lumajang. Yakni dengan mencegah atau mengurangi perkawinan anak. Kami juga ada program SAFE4C atau Safe & Friendly Environment for Children. Dan di tingkat desa, forum anak desa sudah terbentuk,” katanya.

DEMI MASA DEPAN: Sejumlah anak berpose bersama seusai launching Rumah Curhat Kirana di Lumajang.

Arie juga mengapresiasi raihan Open Defecation Free (ODF) di Lumajang. Oleh karena itu, pihaknya bakal mendampingi agar terwujud sanitasi aman hingga kawasan perkotaan. Minimal, masyarakat tidak lagi BAB sembarangan.

Sementara, mengenai gizi seimbang, pihaknya mendukung program pemenuhan nutrisi gizi. Sehingga angka stunting di Lumajang berangsur turun dan angka konsumsi ikannya semakin naik.

“Kami berharap nantinya ini terwujud. Baik ruang anak-anak untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapatnya, mereka terlindungi dari segala jenis kekerasan. Sanitasi yang ada memang nyaman dan anak-anak Lumajang sehat, terimunisasi, gizi dan asupan nutrisinya seimbang,” harapnya.

Wakil Bupati Lumajang Bunda Indah mengucapkan terimakasih kepada UNICEF yang telah membantu daerah, khususnya Lumajang. Menurutnya, UNICEF berperan besar dalam menyelesaikan permasalahan anak dan sanitasi.

“Harus diperbaiki akar masalahnya supaya kita bisa lakukan penyelesaian. Ini kita juga dibantu oleh PKK dan kadernya untuk datang ke rumah warga secara langsung,” ungkapnya. Bunda berharap permasalahan perlindungan dan kesejahteraan anak ataupun sanitasi aman bisa segera tuntas dengan kolaborasi pemerintah daerah dan UNICEF.

Wadah Penyelesaian Masalah

Setelah audiensi, UNICEF berkunjung ke Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro. Bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq, Rumah Curhat Kirana diresmikan. Rumah curhat ini diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak, remaja dan seluruh masyarakat menyelesaikan masalah.

Ning Farin, sapaan akrab Ketua TP PKK Lumajang, menyampaikan, sebenarnya Rumah Curhat Kirana sudah ada sejak tahun 2015. Namun, baru berjalan dua tahun, rumah curhat vakum.

Dia mengungkapkan angka pernikahan anak di Lumajang cukup tinggi. Seperti di Kecamatan Randuagung, Pasirian dan Candipuro. Oleh karena itu pada tahun 2019, pihaknya mengajukan kembali pengaktifan Rumah Curhat Kirana. Hingga kini, sedikitnya sembilan rumah curhat aktif lagi.

“Kami sangat berharap forum Rumah Curhat Kirana dapat membantu dan menyelesaikan penyebab-penyebab terjadinya pernikahan anak. Selain itu semoga dapat mengurangi kasus pernikahan anak di Lumajang. Terima kasih UNICEF dan LPKIPI yang sudah mendukung program pencegahan pernikahan anak di Lumajang,” ujarnya.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara berharap, pembentukan Rumah Curhat Kirana dapat menjadi ujung tombak menekan angka pernikahan anak. Sebab, rumah ini menjadi wadah penyelesaian kesejahteraan anak. Baik haknya yang terenggut maupun kekerasan yang dialami oleh anak. (*)

Reporter             : Muhammad Sidkin Ali

Fotografer          : Muhammad Sidkin Ali

Editor                 : Mahrus Sholih

- Advertisement -

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak maupun kekerasan terhadap anak di Lumajang masih cukup tinggi. Sebagai upaya menekan kasus, UNICEF bersama Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang. Hal ini sebagai bagian dari komitmen dan kepedulian UNICEF dan LPKIPI terhadap masa depan anak-anak Lumajang.

Audiensi ini diterima langsung Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati di Ruang Mahameru, Kantor Bupati Lumajang, Rabu (10/8). Bersama dengan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, beragam permasalahan anak diurai. Sebab, diskusi ini bertujuan mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tidak terkecuali permasalahan sanitasi.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud apresiasi UNICEF kepada pemerintah daerah yang memiliki komitmen tinggi terhadap permasalahan anak dan sanitasi.

BACA JUGA: Perketat Keberadaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di Lumajang

Di Lumajang, kata Arie, ada tiga hal yang ingin diwujudkan. Yakni pencegahan dan pengurangan perkawinan anak, sanitasi aman dan peningkatan gizi yang massif. “Kami mendukung inovasi program yang selaras dengan upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di Lumajang. Yakni dengan mencegah atau mengurangi perkawinan anak. Kami juga ada program SAFE4C atau Safe & Friendly Environment for Children. Dan di tingkat desa, forum anak desa sudah terbentuk,” katanya.

DEMI MASA DEPAN: Sejumlah anak berpose bersama seusai launching Rumah Curhat Kirana di Lumajang.

Arie juga mengapresiasi raihan Open Defecation Free (ODF) di Lumajang. Oleh karena itu, pihaknya bakal mendampingi agar terwujud sanitasi aman hingga kawasan perkotaan. Minimal, masyarakat tidak lagi BAB sembarangan.

Sementara, mengenai gizi seimbang, pihaknya mendukung program pemenuhan nutrisi gizi. Sehingga angka stunting di Lumajang berangsur turun dan angka konsumsi ikannya semakin naik.

“Kami berharap nantinya ini terwujud. Baik ruang anak-anak untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapatnya, mereka terlindungi dari segala jenis kekerasan. Sanitasi yang ada memang nyaman dan anak-anak Lumajang sehat, terimunisasi, gizi dan asupan nutrisinya seimbang,” harapnya.

Wakil Bupati Lumajang Bunda Indah mengucapkan terimakasih kepada UNICEF yang telah membantu daerah, khususnya Lumajang. Menurutnya, UNICEF berperan besar dalam menyelesaikan permasalahan anak dan sanitasi.

“Harus diperbaiki akar masalahnya supaya kita bisa lakukan penyelesaian. Ini kita juga dibantu oleh PKK dan kadernya untuk datang ke rumah warga secara langsung,” ungkapnya. Bunda berharap permasalahan perlindungan dan kesejahteraan anak ataupun sanitasi aman bisa segera tuntas dengan kolaborasi pemerintah daerah dan UNICEF.

Wadah Penyelesaian Masalah

Setelah audiensi, UNICEF berkunjung ke Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro. Bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq, Rumah Curhat Kirana diresmikan. Rumah curhat ini diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak, remaja dan seluruh masyarakat menyelesaikan masalah.

Ning Farin, sapaan akrab Ketua TP PKK Lumajang, menyampaikan, sebenarnya Rumah Curhat Kirana sudah ada sejak tahun 2015. Namun, baru berjalan dua tahun, rumah curhat vakum.

Dia mengungkapkan angka pernikahan anak di Lumajang cukup tinggi. Seperti di Kecamatan Randuagung, Pasirian dan Candipuro. Oleh karena itu pada tahun 2019, pihaknya mengajukan kembali pengaktifan Rumah Curhat Kirana. Hingga kini, sedikitnya sembilan rumah curhat aktif lagi.

“Kami sangat berharap forum Rumah Curhat Kirana dapat membantu dan menyelesaikan penyebab-penyebab terjadinya pernikahan anak. Selain itu semoga dapat mengurangi kasus pernikahan anak di Lumajang. Terima kasih UNICEF dan LPKIPI yang sudah mendukung program pencegahan pernikahan anak di Lumajang,” ujarnya.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara berharap, pembentukan Rumah Curhat Kirana dapat menjadi ujung tombak menekan angka pernikahan anak. Sebab, rumah ini menjadi wadah penyelesaian kesejahteraan anak. Baik haknya yang terenggut maupun kekerasan yang dialami oleh anak. (*)

Reporter             : Muhammad Sidkin Ali

Fotografer          : Muhammad Sidkin Ali

Editor                 : Mahrus Sholih

LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak maupun kekerasan terhadap anak di Lumajang masih cukup tinggi. Sebagai upaya menekan kasus, UNICEF bersama Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI) melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang. Hal ini sebagai bagian dari komitmen dan kepedulian UNICEF dan LPKIPI terhadap masa depan anak-anak Lumajang.

Audiensi ini diterima langsung Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati di Ruang Mahameru, Kantor Bupati Lumajang, Rabu (10/8). Bersama dengan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, beragam permasalahan anak diurai. Sebab, diskusi ini bertujuan mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tidak terkecuali permasalahan sanitasi.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara mengatakan, kegiatan ini sebagai wujud apresiasi UNICEF kepada pemerintah daerah yang memiliki komitmen tinggi terhadap permasalahan anak dan sanitasi.

BACA JUGA: Perketat Keberadaan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di Lumajang

Di Lumajang, kata Arie, ada tiga hal yang ingin diwujudkan. Yakni pencegahan dan pengurangan perkawinan anak, sanitasi aman dan peningkatan gizi yang massif. “Kami mendukung inovasi program yang selaras dengan upaya perlindungan anak dan pemenuhan hak anak di Lumajang. Yakni dengan mencegah atau mengurangi perkawinan anak. Kami juga ada program SAFE4C atau Safe & Friendly Environment for Children. Dan di tingkat desa, forum anak desa sudah terbentuk,” katanya.

DEMI MASA DEPAN: Sejumlah anak berpose bersama seusai launching Rumah Curhat Kirana di Lumajang.

Arie juga mengapresiasi raihan Open Defecation Free (ODF) di Lumajang. Oleh karena itu, pihaknya bakal mendampingi agar terwujud sanitasi aman hingga kawasan perkotaan. Minimal, masyarakat tidak lagi BAB sembarangan.

Sementara, mengenai gizi seimbang, pihaknya mendukung program pemenuhan nutrisi gizi. Sehingga angka stunting di Lumajang berangsur turun dan angka konsumsi ikannya semakin naik.

“Kami berharap nantinya ini terwujud. Baik ruang anak-anak untuk berpartisipasi dan menyampaikan pendapatnya, mereka terlindungi dari segala jenis kekerasan. Sanitasi yang ada memang nyaman dan anak-anak Lumajang sehat, terimunisasi, gizi dan asupan nutrisinya seimbang,” harapnya.

Wakil Bupati Lumajang Bunda Indah mengucapkan terimakasih kepada UNICEF yang telah membantu daerah, khususnya Lumajang. Menurutnya, UNICEF berperan besar dalam menyelesaikan permasalahan anak dan sanitasi.

“Harus diperbaiki akar masalahnya supaya kita bisa lakukan penyelesaian. Ini kita juga dibantu oleh PKK dan kadernya untuk datang ke rumah warga secara langsung,” ungkapnya. Bunda berharap permasalahan perlindungan dan kesejahteraan anak ataupun sanitasi aman bisa segera tuntas dengan kolaborasi pemerintah daerah dan UNICEF.

Wadah Penyelesaian Masalah

Setelah audiensi, UNICEF berkunjung ke Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro. Bersama Ketua TP PKK Lumajang Musfarinah Thoriq, Rumah Curhat Kirana diresmikan. Rumah curhat ini diharapkan menjadi wadah bagi anak-anak, remaja dan seluruh masyarakat menyelesaikan masalah.

Ning Farin, sapaan akrab Ketua TP PKK Lumajang, menyampaikan, sebenarnya Rumah Curhat Kirana sudah ada sejak tahun 2015. Namun, baru berjalan dua tahun, rumah curhat vakum.

Dia mengungkapkan angka pernikahan anak di Lumajang cukup tinggi. Seperti di Kecamatan Randuagung, Pasirian dan Candipuro. Oleh karena itu pada tahun 2019, pihaknya mengajukan kembali pengaktifan Rumah Curhat Kirana. Hingga kini, sedikitnya sembilan rumah curhat aktif lagi.

“Kami sangat berharap forum Rumah Curhat Kirana dapat membantu dan menyelesaikan penyebab-penyebab terjadinya pernikahan anak. Selain itu semoga dapat mengurangi kasus pernikahan anak di Lumajang. Terima kasih UNICEF dan LPKIPI yang sudah mendukung program pencegahan pernikahan anak di Lumajang,” ujarnya.

Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa Bali Arie Rukmantara berharap, pembentukan Rumah Curhat Kirana dapat menjadi ujung tombak menekan angka pernikahan anak. Sebab, rumah ini menjadi wadah penyelesaian kesejahteraan anak. Baik haknya yang terenggut maupun kekerasan yang dialami oleh anak. (*)

Reporter             : Muhammad Sidkin Ali

Fotografer          : Muhammad Sidkin Ali

Editor                 : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/