alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

PELUANG PENGEMBANGAN PRODUK AGRIBISNIS OLAHAN KELAPA INDONESIA

MINYAK KELAPA MURNI DENGAN METODE SENTRIFUGAL: PELUANG PENGEMBANGAN PRODUK AGRIBISNIS OLAHAN KELAPA INDONESIA Oleh: Usken Fisdiana, dan Dyah Nuning Erawati* Politeknik Negeri Jember | dyah_nuning_e@polije.ac.id

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –Minyak kelapa murni atau dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO) sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai produk agribisnis olahan kelapa Indonesia karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Menurut Kementerian Perdagangan RI (2017), tren permintaan VCO dunia mengalami kenaikan rata-rata 1,8% per tahun selama 2011-2015. Indonesia menjadi supplier VCO terbesar kedua di dunia pada tahun 2015 sebesar 24,7%, atau setara dengan 364,4 juta USD. Rinaldi (2021) melansir data dari ITC bahwa pasar yang paling potensial untuk mengekspor produk VCO Indonesia adalah Amerika Serikat karena Amerika Serikat merupakan importir terbesar pada tahun 2018 dengan capaian 487 juta USD. Amerika Serikat juga memiliki potensi pasar yang besar terhadap permintaan VCO Indonesia dengan estimasi sebesar 218 juta USD.

Usken Fisdiana selaku dosen Politeknik Negeri Jember menuturkan bahwa minyak kelapa murni diperoleh dengan memeras daging buah kelapa yang masih segar kemudian diekstraksi dengan proses mekanis tanpa perubahan kimia. Proses mekanis melalui metode sentrifugal akan menghasilkan minyak kelapa murni yang berkualitas. “Metode ini dilakukan untuk memutuskan ikatan lemak dengan protein pada santan dengan cara pemutaran melalui gaya sentrifugal. Setelah dilakukan sentrifugal maka air dan minyak akan terpisah dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena berat jenis minyak dan air yang berbeda” imbuhnya. Pembuatan VCO secara sederhana dapat dilakukan untuk pengembangan industri minyak kelapa murni skala rumahtangga (home industry).

Tahapan pembuatan VCO secara mekanis dengan metode sentrifugal dimulai dengan memilih buah kelapa tua yang segar dan memisahkan daging buah dari sabut, tempurung, air dan kulit ari serta mencuci buah kelapa dengan menggunakan air hangat. Buah kelapa diparut dan menambahkan air dengan perbandingan 1:1,5 (1 kg kelapa parut : 1,5 liter air) untuk mendapatkan santan. Santan yang telah disaring kemudian didiamkan selama 2 jam hingga terbentuk 2 lapisan yang terdiri dari krim santan dan skim santan. Krim santan berada di bagian atas karena mengandung minyak dan skim pada bagian bawah karena mengandung air dan protein. Krim santan dan skim santan dipisahkan kemudian skim santan dibuang dan krim santan dimixer dengan kecepatan 1500 rpm. Krim santan dimasukkan ke dalam toples kaca dan didiamkan selama 20 jam hingga terbentuk 3 lapisan yaitu minyak, blondo dan air. Selanjutnya lapisan dipisahkan dengan penyaringan untuk memisahkan minyak. Penyaringan dilakukan 2 kali agar mendapatkan hasil VCO yang benar-benar bersih.
Centre for the Promotion of Imports from developing countries (CBI) terkait VCO memberikan ulasan bahwa hasil minyak yang didapatkan dari metode sentrifugal lebih baik dibandingkan dengan metode pemanasan ataupun secara fermentasi. VCO yang dihasilkan dari metode sentrifugal akan menghasilkan rendemen yang tinggi, karena pada metode ini pemisahan yang terjadi secara alami tanpa memerlukan pemanasan ataupun bantuan fermentor. Minyak tetap dalam bentuk yang paling alami dan dapat mempertahankan bau dan rasa kelapa serta kandungan tinggi vitamin E, mineral dan asam lemak rantai menengah yang sehat. Minyak kelapa murni tidak memiliki asam lemak trans, memiliki tingkat asam laurat yang tinggi (sekitar 50%) dan juga rendah asam lemak tak jenuh ganda (CBI, 2016).
Hasil penelitian Bagus Ari Kusuma dari Politeknik Negeri Jember pada tahun 2020 memperlihatkan hasil bahwa VCO yang diperoleh dengan metode sentrifugal 1.500 rpm selama 20-25 menit menghasilkan minyak kelapa murni dengan rendemen 13,77-13,90%; kadar air 0,19-0,23%; asam lemak bebas 0,18-0,19% serta kandungan asam laurat 51,90-52,30%. Metode sentrifugal tersebut bisa menjadi rekomendasi pembuatan VCO karena hasil minyak mempunyai kualitas yang sesuai dengan SNI Minyak Kelapa Murni. Standar mutu minyak kelapa murni berdasarkan SNI No. 7381-2008 memiliki bau dan rasa khas kelapa dan tidak tengik dengan warna yang jernih/tidak berwarna sampai warna kuning pucat dengan batas kadar air dan senyawa yang menguap maksimal 0,2%. Batas kandungan asam lemak bebas (FTA) maksimal 0,2% dan kandungan lemak laurat 43,1-53,2% (BSN, 2008).
Asam laurat merupakan asam lemak jenuh rantai menengah dengan 12 atom karbon dan tanpa ikatan rangkap. Asam laurat mempunyai banyak manfaat diantaranya didalam tubuh manusia dapat berperan sebagai antivirus, antiprotozoa dan antibakteri (Pratiwi, dkk., 2018). Asam laurat dapat membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya berasal dari asam lemak (lipid coated microorganism). Sifat asam laurat dapat melarutkan membran virus berupa lipid sehingga akan mengganggu kekebalan virus dan menyebabkan virus menjadi inaktif. Oleh karena itu, konsumsi VCO secara rutin berpeluang untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti HIV, hepatitis C, herpes dan penyakit lain yang disebabkan oleh virus. Laporan Ika (2021) pada laman ugm.ac.id/news telah melaporkan bahwa studi VCO sebagai terapi adjuvan Covid-19 diterapkan di rumah sakit Yogyakarta. Pakar Pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr. Sardjito dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD., KP., FINASIM., menyampaikan bahwa VCO juga dapat digunakan dalam terapi Covid-19 karena kandungan VCO memiliki aktivitas antivirus seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) beserta derivatnya. VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin yang mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus. VCO bekerja dengan merusak membran sel pada virus. Monolaurin saat berinteraksi dengan membran sel virus akan merusak lapisan lipid pada sel tersebut sehingga membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.
VCO juga mengandung asam lemak rantai sedang yang mudah dicerna dan dioksidasi oleh tubuh, sehingga dapat mencegah penimbunan di dalam tubuh. Salah satu senyawa tokoferol yang terdapat dalam VCO adalah α-tokoferol yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiradikal bebas (Muis, 2014). Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralisir radikal bebas serta berfungsi untuk mencegah penuaan dini dan menjaga vitalitas tubuh. Menurut Anastasya (2020), VCO memiliki citra kuat di pasar ekspor Amerika Serikat dan Eropa sebagai minyak yang sehat. VCO terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol dan obesitas. Hal ini dikarenakan kandungan lauric acid yang tinggi dan tidak ada trans-fatty acid serta kandungan PFA yang lebih rendah daripada minyak nabati lainnya.
Kualitas VCO tetap tinggi apabila disimpan dengan cara yang benar. Dyah Nuning Erawati yang juga merupakan dosen Politeknik Negeri Jember lebih lanjut memaparkan bahwa “minyak kelapa murni harus disimpan pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Minyak akan tetap tidak berwarna, bebas endapan, dengan aroma kelapa segar alami dan bebas dari bau atau rasa tengik”. Kadar air didalam minyak dapat mempengaruhi daya simpan minyak. Semakin tinggi kadar air yang terdapat di dalam minyak VCO, maka akan menyebabkan proses oksidasi yang berdampak pada ketengikan minyak. Cara efektif untuk menjaga kadar air dan untuk meningkatkan daya simpan hasil minyak VCO yaitu dengan memenuhi standart kadar air dibawah 0,2% sesuai SNI No. 7381-2008.

Mobile_AP_Rectangle 2

Referensi:
Anastasya, A. 2020. Potensi Ekspor Produk Kelapa. https://www.ukmindonesia.id/

BSN. 2008. SNI 7381-2008 : Syarat Mutu Minyak Kelapa Virgin (VCO). Badan Standarisasi Nasional Jakarta Indonesia

CBI. 2016. Exporting Virgin Coconut Oil. Centre for the Promotion of Imports from developing countries. https://www.cbi.eu/market-information/vegetable-oils/virgin-coconut-oil

Ika. 2021. VCO as Adjuvant Therapy for Covid-19 in Indonesia. https://ugm.ac.id/en/news/

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –Minyak kelapa murni atau dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO) sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai produk agribisnis olahan kelapa Indonesia karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Menurut Kementerian Perdagangan RI (2017), tren permintaan VCO dunia mengalami kenaikan rata-rata 1,8% per tahun selama 2011-2015. Indonesia menjadi supplier VCO terbesar kedua di dunia pada tahun 2015 sebesar 24,7%, atau setara dengan 364,4 juta USD. Rinaldi (2021) melansir data dari ITC bahwa pasar yang paling potensial untuk mengekspor produk VCO Indonesia adalah Amerika Serikat karena Amerika Serikat merupakan importir terbesar pada tahun 2018 dengan capaian 487 juta USD. Amerika Serikat juga memiliki potensi pasar yang besar terhadap permintaan VCO Indonesia dengan estimasi sebesar 218 juta USD.

Usken Fisdiana selaku dosen Politeknik Negeri Jember menuturkan bahwa minyak kelapa murni diperoleh dengan memeras daging buah kelapa yang masih segar kemudian diekstraksi dengan proses mekanis tanpa perubahan kimia. Proses mekanis melalui metode sentrifugal akan menghasilkan minyak kelapa murni yang berkualitas. “Metode ini dilakukan untuk memutuskan ikatan lemak dengan protein pada santan dengan cara pemutaran melalui gaya sentrifugal. Setelah dilakukan sentrifugal maka air dan minyak akan terpisah dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena berat jenis minyak dan air yang berbeda” imbuhnya. Pembuatan VCO secara sederhana dapat dilakukan untuk pengembangan industri minyak kelapa murni skala rumahtangga (home industry).

Tahapan pembuatan VCO secara mekanis dengan metode sentrifugal dimulai dengan memilih buah kelapa tua yang segar dan memisahkan daging buah dari sabut, tempurung, air dan kulit ari serta mencuci buah kelapa dengan menggunakan air hangat. Buah kelapa diparut dan menambahkan air dengan perbandingan 1:1,5 (1 kg kelapa parut : 1,5 liter air) untuk mendapatkan santan. Santan yang telah disaring kemudian didiamkan selama 2 jam hingga terbentuk 2 lapisan yang terdiri dari krim santan dan skim santan. Krim santan berada di bagian atas karena mengandung minyak dan skim pada bagian bawah karena mengandung air dan protein. Krim santan dan skim santan dipisahkan kemudian skim santan dibuang dan krim santan dimixer dengan kecepatan 1500 rpm. Krim santan dimasukkan ke dalam toples kaca dan didiamkan selama 20 jam hingga terbentuk 3 lapisan yaitu minyak, blondo dan air. Selanjutnya lapisan dipisahkan dengan penyaringan untuk memisahkan minyak. Penyaringan dilakukan 2 kali agar mendapatkan hasil VCO yang benar-benar bersih.
Centre for the Promotion of Imports from developing countries (CBI) terkait VCO memberikan ulasan bahwa hasil minyak yang didapatkan dari metode sentrifugal lebih baik dibandingkan dengan metode pemanasan ataupun secara fermentasi. VCO yang dihasilkan dari metode sentrifugal akan menghasilkan rendemen yang tinggi, karena pada metode ini pemisahan yang terjadi secara alami tanpa memerlukan pemanasan ataupun bantuan fermentor. Minyak tetap dalam bentuk yang paling alami dan dapat mempertahankan bau dan rasa kelapa serta kandungan tinggi vitamin E, mineral dan asam lemak rantai menengah yang sehat. Minyak kelapa murni tidak memiliki asam lemak trans, memiliki tingkat asam laurat yang tinggi (sekitar 50%) dan juga rendah asam lemak tak jenuh ganda (CBI, 2016).
Hasil penelitian Bagus Ari Kusuma dari Politeknik Negeri Jember pada tahun 2020 memperlihatkan hasil bahwa VCO yang diperoleh dengan metode sentrifugal 1.500 rpm selama 20-25 menit menghasilkan minyak kelapa murni dengan rendemen 13,77-13,90%; kadar air 0,19-0,23%; asam lemak bebas 0,18-0,19% serta kandungan asam laurat 51,90-52,30%. Metode sentrifugal tersebut bisa menjadi rekomendasi pembuatan VCO karena hasil minyak mempunyai kualitas yang sesuai dengan SNI Minyak Kelapa Murni. Standar mutu minyak kelapa murni berdasarkan SNI No. 7381-2008 memiliki bau dan rasa khas kelapa dan tidak tengik dengan warna yang jernih/tidak berwarna sampai warna kuning pucat dengan batas kadar air dan senyawa yang menguap maksimal 0,2%. Batas kandungan asam lemak bebas (FTA) maksimal 0,2% dan kandungan lemak laurat 43,1-53,2% (BSN, 2008).
Asam laurat merupakan asam lemak jenuh rantai menengah dengan 12 atom karbon dan tanpa ikatan rangkap. Asam laurat mempunyai banyak manfaat diantaranya didalam tubuh manusia dapat berperan sebagai antivirus, antiprotozoa dan antibakteri (Pratiwi, dkk., 2018). Asam laurat dapat membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya berasal dari asam lemak (lipid coated microorganism). Sifat asam laurat dapat melarutkan membran virus berupa lipid sehingga akan mengganggu kekebalan virus dan menyebabkan virus menjadi inaktif. Oleh karena itu, konsumsi VCO secara rutin berpeluang untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti HIV, hepatitis C, herpes dan penyakit lain yang disebabkan oleh virus. Laporan Ika (2021) pada laman ugm.ac.id/news telah melaporkan bahwa studi VCO sebagai terapi adjuvan Covid-19 diterapkan di rumah sakit Yogyakarta. Pakar Pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr. Sardjito dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD., KP., FINASIM., menyampaikan bahwa VCO juga dapat digunakan dalam terapi Covid-19 karena kandungan VCO memiliki aktivitas antivirus seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) beserta derivatnya. VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin yang mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus. VCO bekerja dengan merusak membran sel pada virus. Monolaurin saat berinteraksi dengan membran sel virus akan merusak lapisan lipid pada sel tersebut sehingga membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.
VCO juga mengandung asam lemak rantai sedang yang mudah dicerna dan dioksidasi oleh tubuh, sehingga dapat mencegah penimbunan di dalam tubuh. Salah satu senyawa tokoferol yang terdapat dalam VCO adalah α-tokoferol yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiradikal bebas (Muis, 2014). Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralisir radikal bebas serta berfungsi untuk mencegah penuaan dini dan menjaga vitalitas tubuh. Menurut Anastasya (2020), VCO memiliki citra kuat di pasar ekspor Amerika Serikat dan Eropa sebagai minyak yang sehat. VCO terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol dan obesitas. Hal ini dikarenakan kandungan lauric acid yang tinggi dan tidak ada trans-fatty acid serta kandungan PFA yang lebih rendah daripada minyak nabati lainnya.
Kualitas VCO tetap tinggi apabila disimpan dengan cara yang benar. Dyah Nuning Erawati yang juga merupakan dosen Politeknik Negeri Jember lebih lanjut memaparkan bahwa “minyak kelapa murni harus disimpan pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Minyak akan tetap tidak berwarna, bebas endapan, dengan aroma kelapa segar alami dan bebas dari bau atau rasa tengik”. Kadar air didalam minyak dapat mempengaruhi daya simpan minyak. Semakin tinggi kadar air yang terdapat di dalam minyak VCO, maka akan menyebabkan proses oksidasi yang berdampak pada ketengikan minyak. Cara efektif untuk menjaga kadar air dan untuk meningkatkan daya simpan hasil minyak VCO yaitu dengan memenuhi standart kadar air dibawah 0,2% sesuai SNI No. 7381-2008.

Referensi:
Anastasya, A. 2020. Potensi Ekspor Produk Kelapa. https://www.ukmindonesia.id/

BSN. 2008. SNI 7381-2008 : Syarat Mutu Minyak Kelapa Virgin (VCO). Badan Standarisasi Nasional Jakarta Indonesia

CBI. 2016. Exporting Virgin Coconut Oil. Centre for the Promotion of Imports from developing countries. https://www.cbi.eu/market-information/vegetable-oils/virgin-coconut-oil

Ika. 2021. VCO as Adjuvant Therapy for Covid-19 in Indonesia. https://ugm.ac.id/en/news/

JEMBER, RADARJEMBER.ID –Minyak kelapa murni atau dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO) sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai produk agribisnis olahan kelapa Indonesia karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Menurut Kementerian Perdagangan RI (2017), tren permintaan VCO dunia mengalami kenaikan rata-rata 1,8% per tahun selama 2011-2015. Indonesia menjadi supplier VCO terbesar kedua di dunia pada tahun 2015 sebesar 24,7%, atau setara dengan 364,4 juta USD. Rinaldi (2021) melansir data dari ITC bahwa pasar yang paling potensial untuk mengekspor produk VCO Indonesia adalah Amerika Serikat karena Amerika Serikat merupakan importir terbesar pada tahun 2018 dengan capaian 487 juta USD. Amerika Serikat juga memiliki potensi pasar yang besar terhadap permintaan VCO Indonesia dengan estimasi sebesar 218 juta USD.

Usken Fisdiana selaku dosen Politeknik Negeri Jember menuturkan bahwa minyak kelapa murni diperoleh dengan memeras daging buah kelapa yang masih segar kemudian diekstraksi dengan proses mekanis tanpa perubahan kimia. Proses mekanis melalui metode sentrifugal akan menghasilkan minyak kelapa murni yang berkualitas. “Metode ini dilakukan untuk memutuskan ikatan lemak dengan protein pada santan dengan cara pemutaran melalui gaya sentrifugal. Setelah dilakukan sentrifugal maka air dan minyak akan terpisah dengan sendirinya. Hal ini terjadi karena berat jenis minyak dan air yang berbeda” imbuhnya. Pembuatan VCO secara sederhana dapat dilakukan untuk pengembangan industri minyak kelapa murni skala rumahtangga (home industry).

Tahapan pembuatan VCO secara mekanis dengan metode sentrifugal dimulai dengan memilih buah kelapa tua yang segar dan memisahkan daging buah dari sabut, tempurung, air dan kulit ari serta mencuci buah kelapa dengan menggunakan air hangat. Buah kelapa diparut dan menambahkan air dengan perbandingan 1:1,5 (1 kg kelapa parut : 1,5 liter air) untuk mendapatkan santan. Santan yang telah disaring kemudian didiamkan selama 2 jam hingga terbentuk 2 lapisan yang terdiri dari krim santan dan skim santan. Krim santan berada di bagian atas karena mengandung minyak dan skim pada bagian bawah karena mengandung air dan protein. Krim santan dan skim santan dipisahkan kemudian skim santan dibuang dan krim santan dimixer dengan kecepatan 1500 rpm. Krim santan dimasukkan ke dalam toples kaca dan didiamkan selama 20 jam hingga terbentuk 3 lapisan yaitu minyak, blondo dan air. Selanjutnya lapisan dipisahkan dengan penyaringan untuk memisahkan minyak. Penyaringan dilakukan 2 kali agar mendapatkan hasil VCO yang benar-benar bersih.
Centre for the Promotion of Imports from developing countries (CBI) terkait VCO memberikan ulasan bahwa hasil minyak yang didapatkan dari metode sentrifugal lebih baik dibandingkan dengan metode pemanasan ataupun secara fermentasi. VCO yang dihasilkan dari metode sentrifugal akan menghasilkan rendemen yang tinggi, karena pada metode ini pemisahan yang terjadi secara alami tanpa memerlukan pemanasan ataupun bantuan fermentor. Minyak tetap dalam bentuk yang paling alami dan dapat mempertahankan bau dan rasa kelapa serta kandungan tinggi vitamin E, mineral dan asam lemak rantai menengah yang sehat. Minyak kelapa murni tidak memiliki asam lemak trans, memiliki tingkat asam laurat yang tinggi (sekitar 50%) dan juga rendah asam lemak tak jenuh ganda (CBI, 2016).
Hasil penelitian Bagus Ari Kusuma dari Politeknik Negeri Jember pada tahun 2020 memperlihatkan hasil bahwa VCO yang diperoleh dengan metode sentrifugal 1.500 rpm selama 20-25 menit menghasilkan minyak kelapa murni dengan rendemen 13,77-13,90%; kadar air 0,19-0,23%; asam lemak bebas 0,18-0,19% serta kandungan asam laurat 51,90-52,30%. Metode sentrifugal tersebut bisa menjadi rekomendasi pembuatan VCO karena hasil minyak mempunyai kualitas yang sesuai dengan SNI Minyak Kelapa Murni. Standar mutu minyak kelapa murni berdasarkan SNI No. 7381-2008 memiliki bau dan rasa khas kelapa dan tidak tengik dengan warna yang jernih/tidak berwarna sampai warna kuning pucat dengan batas kadar air dan senyawa yang menguap maksimal 0,2%. Batas kandungan asam lemak bebas (FTA) maksimal 0,2% dan kandungan lemak laurat 43,1-53,2% (BSN, 2008).
Asam laurat merupakan asam lemak jenuh rantai menengah dengan 12 atom karbon dan tanpa ikatan rangkap. Asam laurat mempunyai banyak manfaat diantaranya didalam tubuh manusia dapat berperan sebagai antivirus, antiprotozoa dan antibakteri (Pratiwi, dkk., 2018). Asam laurat dapat membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya berasal dari asam lemak (lipid coated microorganism). Sifat asam laurat dapat melarutkan membran virus berupa lipid sehingga akan mengganggu kekebalan virus dan menyebabkan virus menjadi inaktif. Oleh karena itu, konsumsi VCO secara rutin berpeluang untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti HIV, hepatitis C, herpes dan penyakit lain yang disebabkan oleh virus. Laporan Ika (2021) pada laman ugm.ac.id/news telah melaporkan bahwa studi VCO sebagai terapi adjuvan Covid-19 diterapkan di rumah sakit Yogyakarta. Pakar Pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr. Sardjito dr. Ika Trisnawati, M.Sc., Sp.PD., KP., FINASIM., menyampaikan bahwa VCO juga dapat digunakan dalam terapi Covid-19 karena kandungan VCO memiliki aktivitas antivirus seperti asam laurat (C12) dan monolaurin (ML) beserta derivatnya. VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin yang mempunyai efek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus. VCO bekerja dengan merusak membran sel pada virus. Monolaurin saat berinteraksi dengan membran sel virus akan merusak lapisan lipid pada sel tersebut sehingga membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.
VCO juga mengandung asam lemak rantai sedang yang mudah dicerna dan dioksidasi oleh tubuh, sehingga dapat mencegah penimbunan di dalam tubuh. Salah satu senyawa tokoferol yang terdapat dalam VCO adalah α-tokoferol yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiradikal bebas (Muis, 2014). Antioksidan merupakan zat yang dapat menetralisir radikal bebas serta berfungsi untuk mencegah penuaan dini dan menjaga vitalitas tubuh. Menurut Anastasya (2020), VCO memiliki citra kuat di pasar ekspor Amerika Serikat dan Eropa sebagai minyak yang sehat. VCO terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol dan obesitas. Hal ini dikarenakan kandungan lauric acid yang tinggi dan tidak ada trans-fatty acid serta kandungan PFA yang lebih rendah daripada minyak nabati lainnya.
Kualitas VCO tetap tinggi apabila disimpan dengan cara yang benar. Dyah Nuning Erawati yang juga merupakan dosen Politeknik Negeri Jember lebih lanjut memaparkan bahwa “minyak kelapa murni harus disimpan pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Minyak akan tetap tidak berwarna, bebas endapan, dengan aroma kelapa segar alami dan bebas dari bau atau rasa tengik”. Kadar air didalam minyak dapat mempengaruhi daya simpan minyak. Semakin tinggi kadar air yang terdapat di dalam minyak VCO, maka akan menyebabkan proses oksidasi yang berdampak pada ketengikan minyak. Cara efektif untuk menjaga kadar air dan untuk meningkatkan daya simpan hasil minyak VCO yaitu dengan memenuhi standart kadar air dibawah 0,2% sesuai SNI No. 7381-2008.

Referensi:
Anastasya, A. 2020. Potensi Ekspor Produk Kelapa. https://www.ukmindonesia.id/

BSN. 2008. SNI 7381-2008 : Syarat Mutu Minyak Kelapa Virgin (VCO). Badan Standarisasi Nasional Jakarta Indonesia

CBI. 2016. Exporting Virgin Coconut Oil. Centre for the Promotion of Imports from developing countries. https://www.cbi.eu/market-information/vegetable-oils/virgin-coconut-oil

Ika. 2021. VCO as Adjuvant Therapy for Covid-19 in Indonesia. https://ugm.ac.id/en/news/

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/