alexametrics
22.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Kenali Kerentanan DBD pada Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWATES, Radar Jember – Memasuki musim yang tidak normal ini, masyarakat diimbau untuk terus waspada dengan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia dini. Sebab, besarnya angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas berawal dari penyakit demam berdarah dengue. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum (RSU) Kaliwates Jember, dr Edga D Armina Sp A.

BACA JUGA : 32.165 Kendaraan Buatan China Dijual Tesla

Dia mengatakan, penyakit DBD tidak hanya marak di musim hujan saja. Namun, juga terjadi di musim kemarau. Apalagi cuaca sekarang masih masa peralihan, sangat rentan dengan sebaran penyakit DBD. “Berubahnya kondisi iklim sekarang harus diwaspadai. DBD tidak hanya terjadi pada musuh hujan saja. Bahkan menjelang kemarau harus diwaspadai,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebab, kuman patogen yang terkandung dalam nyamuk dikatakan sangat cepat menular kepada tubuh manusia. Jika tidak diantisipasi, penyakit tersebut dengan mudah menyerang organ tubuh. “Siklus kehidupan nyamuk itu hanya butuh 8 sampai 10 hari dari sejak bertelur. Pertumbuhannya sangat cepat,” imbuh dr Edga saat ditemui di RSU Kaliwates.

Penyakit DBD, tambah Edga, kerap menyerang anak. Sebab, antibodi tubuh anak masih cukup lemah. Hal ini disampaikan ketika banyaknya kasus penanganan kasus DBD di RSU Kaliwates. “Anak itu sangat rentan kena DBD. Biasanya usia 5 sampai 10 tahun, penyakit ini cukup banyak yang dilaporkan,” paparnya.

Bahkan, angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas disebabkan oleh DBD yang telah sampai pada fase kritis, sehingga tidak bisa ditangani. “Tahun ini, angka kematian anak dan balita di Jember cukup tinggi. Bukan hanya kurang gizi, tapi juga didominasi oleh DBD yang sudah masuk fase kritis,” beber dokter cantik tersebut.

- Advertisement -

KALIWATES, Radar Jember – Memasuki musim yang tidak normal ini, masyarakat diimbau untuk terus waspada dengan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia dini. Sebab, besarnya angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas berawal dari penyakit demam berdarah dengue. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum (RSU) Kaliwates Jember, dr Edga D Armina Sp A.

BACA JUGA : 32.165 Kendaraan Buatan China Dijual Tesla

Dia mengatakan, penyakit DBD tidak hanya marak di musim hujan saja. Namun, juga terjadi di musim kemarau. Apalagi cuaca sekarang masih masa peralihan, sangat rentan dengan sebaran penyakit DBD. “Berubahnya kondisi iklim sekarang harus diwaspadai. DBD tidak hanya terjadi pada musuh hujan saja. Bahkan menjelang kemarau harus diwaspadai,” katanya.

Sebab, kuman patogen yang terkandung dalam nyamuk dikatakan sangat cepat menular kepada tubuh manusia. Jika tidak diantisipasi, penyakit tersebut dengan mudah menyerang organ tubuh. “Siklus kehidupan nyamuk itu hanya butuh 8 sampai 10 hari dari sejak bertelur. Pertumbuhannya sangat cepat,” imbuh dr Edga saat ditemui di RSU Kaliwates.

Penyakit DBD, tambah Edga, kerap menyerang anak. Sebab, antibodi tubuh anak masih cukup lemah. Hal ini disampaikan ketika banyaknya kasus penanganan kasus DBD di RSU Kaliwates. “Anak itu sangat rentan kena DBD. Biasanya usia 5 sampai 10 tahun, penyakit ini cukup banyak yang dilaporkan,” paparnya.

Bahkan, angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas disebabkan oleh DBD yang telah sampai pada fase kritis, sehingga tidak bisa ditangani. “Tahun ini, angka kematian anak dan balita di Jember cukup tinggi. Bukan hanya kurang gizi, tapi juga didominasi oleh DBD yang sudah masuk fase kritis,” beber dokter cantik tersebut.

KALIWATES, Radar Jember – Memasuki musim yang tidak normal ini, masyarakat diimbau untuk terus waspada dengan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia dini. Sebab, besarnya angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas berawal dari penyakit demam berdarah dengue. Sebagaimana yang disampaikan oleh dokter spesialis anak di Rumah Sakit Umum (RSU) Kaliwates Jember, dr Edga D Armina Sp A.

BACA JUGA : 32.165 Kendaraan Buatan China Dijual Tesla

Dia mengatakan, penyakit DBD tidak hanya marak di musim hujan saja. Namun, juga terjadi di musim kemarau. Apalagi cuaca sekarang masih masa peralihan, sangat rentan dengan sebaran penyakit DBD. “Berubahnya kondisi iklim sekarang harus diwaspadai. DBD tidak hanya terjadi pada musuh hujan saja. Bahkan menjelang kemarau harus diwaspadai,” katanya.

Sebab, kuman patogen yang terkandung dalam nyamuk dikatakan sangat cepat menular kepada tubuh manusia. Jika tidak diantisipasi, penyakit tersebut dengan mudah menyerang organ tubuh. “Siklus kehidupan nyamuk itu hanya butuh 8 sampai 10 hari dari sejak bertelur. Pertumbuhannya sangat cepat,” imbuh dr Edga saat ditemui di RSU Kaliwates.

Penyakit DBD, tambah Edga, kerap menyerang anak. Sebab, antibodi tubuh anak masih cukup lemah. Hal ini disampaikan ketika banyaknya kasus penanganan kasus DBD di RSU Kaliwates. “Anak itu sangat rentan kena DBD. Biasanya usia 5 sampai 10 tahun, penyakit ini cukup banyak yang dilaporkan,” paparnya.

Bahkan, angka kematian anak dan balita di Jember mayoritas disebabkan oleh DBD yang telah sampai pada fase kritis, sehingga tidak bisa ditangani. “Tahun ini, angka kematian anak dan balita di Jember cukup tinggi. Bukan hanya kurang gizi, tapi juga didominasi oleh DBD yang sudah masuk fase kritis,” beber dokter cantik tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/