alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Program Pendampingan Anak Petani dan Buruh Tani Tembakau di Jember 2021

Tumbuhkan Semangat Belajar dan Kreativitas Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai negara agraris, sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan perekonomian Indonesia. Akan tetapi, isu pekerja anak di sektor pertanian menjadi salah satu masalah serius yang memerlukan perhatian semua pihak. Hasil kajian menunjukkan, pelibatan anak dalam pertanian tidak sekadar akibat kondisi perekonomian, melainkan juga terkait faktor sosial dan budaya masyarakat setempat.

GAYENG: Proses belajar bersama yang didampingi oleh pendidik sebaya. Anak-anak petani dan buruh tani tembakau ini sangat antusias mengikuti belajar kelompok. Anak-anak dampingan STAPA Center belajar membuat kerajinan berbahan kertas daur ulang. Proses berkreasi ini cukup menyenangkan, karena anak-anak tak hanya bisa berkarya, tapi juga bermain.

Dalam upaya mengentaskan pekerja anak dalam komunitas petani binaan, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), mengadakan pendampingan dan edukasi berkelanjutan bagi komunitas petani. Melalui payung program keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia, Sampoerna meningkatkan kesadaran komunitas petani tentang larangan pelibatan anak dalam kegiatan bertani.

Mobile_AP_Rectangle 2

Program tersebut telah berjalan sejak 2012. Bermula hanya sebatas sosialisasi bagi para petani, program ini telah bertumbuh hingga menjangkau keluarga petani dan para buruh tani. Kini, khususnya pada saat musim tanam tembakau setiap tahunnya, Sampoerna menggelar program pendampingan bagi anak-anak keluarga petani.

Berpegang pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam kode praktik pekerja pertanian perusahaan, atau Agricultural Labor Practices Code (ALP Code), Sampoerna dengan tegas melarang keterlibatan anak dalam seluruh proses produksi. Bahkan, ALP Code tersebut menjadi bagian dari perjanjian dalam kemitraan Sampoerna dengan para petani tembakau.

Pendampingan Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal 2020 berdampak pada masyarakat. Tak terkecuali petani dan buruh tani di perdesaan. Bahkan proses belajar mengajar harus dilakukan secara daring. Hal ini menimbulkan masalah baru berkaitan dengan kemampuan orang tua dalam mendampingi anak belajar, sarana pendukung berbasis IT, hingga waktu luang anak yang makin banyak per harinya.

Merespons kondisi ini, Sampoerna bekerja sama dengan Yayasan STAPA Center menjangkau 450 anak petani dan buruh tani yang duduk di sekolah dasar. Para pelajar menerima pendampingan belajar selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, mereka juga diundang untuk belajar bersama dalam kelompok belajar yang dibuka di tingkat dusun. Hal ini bertujuan untuk membantu anak tetap memperhatikan tugas-tugas sekolah dan memanfaatkan waktu dengan lebih baik. Sekaligus menghindarkan anak terlibat dalam pekerjaan di pertanian tembakau. Program tersebut dilaksanakan di Desa Kalisat, Gumuksari, Pakusari, Jatian, dan Mrawan di Jember, Jawa Timur.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai negara agraris, sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan perekonomian Indonesia. Akan tetapi, isu pekerja anak di sektor pertanian menjadi salah satu masalah serius yang memerlukan perhatian semua pihak. Hasil kajian menunjukkan, pelibatan anak dalam pertanian tidak sekadar akibat kondisi perekonomian, melainkan juga terkait faktor sosial dan budaya masyarakat setempat.

GAYENG: Proses belajar bersama yang didampingi oleh pendidik sebaya. Anak-anak petani dan buruh tani tembakau ini sangat antusias mengikuti belajar kelompok. Anak-anak dampingan STAPA Center belajar membuat kerajinan berbahan kertas daur ulang. Proses berkreasi ini cukup menyenangkan, karena anak-anak tak hanya bisa berkarya, tapi juga bermain.

Dalam upaya mengentaskan pekerja anak dalam komunitas petani binaan, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), mengadakan pendampingan dan edukasi berkelanjutan bagi komunitas petani. Melalui payung program keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia, Sampoerna meningkatkan kesadaran komunitas petani tentang larangan pelibatan anak dalam kegiatan bertani.

Program tersebut telah berjalan sejak 2012. Bermula hanya sebatas sosialisasi bagi para petani, program ini telah bertumbuh hingga menjangkau keluarga petani dan para buruh tani. Kini, khususnya pada saat musim tanam tembakau setiap tahunnya, Sampoerna menggelar program pendampingan bagi anak-anak keluarga petani.

Berpegang pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam kode praktik pekerja pertanian perusahaan, atau Agricultural Labor Practices Code (ALP Code), Sampoerna dengan tegas melarang keterlibatan anak dalam seluruh proses produksi. Bahkan, ALP Code tersebut menjadi bagian dari perjanjian dalam kemitraan Sampoerna dengan para petani tembakau.

Pendampingan Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal 2020 berdampak pada masyarakat. Tak terkecuali petani dan buruh tani di perdesaan. Bahkan proses belajar mengajar harus dilakukan secara daring. Hal ini menimbulkan masalah baru berkaitan dengan kemampuan orang tua dalam mendampingi anak belajar, sarana pendukung berbasis IT, hingga waktu luang anak yang makin banyak per harinya.

Merespons kondisi ini, Sampoerna bekerja sama dengan Yayasan STAPA Center menjangkau 450 anak petani dan buruh tani yang duduk di sekolah dasar. Para pelajar menerima pendampingan belajar selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, mereka juga diundang untuk belajar bersama dalam kelompok belajar yang dibuka di tingkat dusun. Hal ini bertujuan untuk membantu anak tetap memperhatikan tugas-tugas sekolah dan memanfaatkan waktu dengan lebih baik. Sekaligus menghindarkan anak terlibat dalam pekerjaan di pertanian tembakau. Program tersebut dilaksanakan di Desa Kalisat, Gumuksari, Pakusari, Jatian, dan Mrawan di Jember, Jawa Timur.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagai negara agraris, sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan perekonomian Indonesia. Akan tetapi, isu pekerja anak di sektor pertanian menjadi salah satu masalah serius yang memerlukan perhatian semua pihak. Hasil kajian menunjukkan, pelibatan anak dalam pertanian tidak sekadar akibat kondisi perekonomian, melainkan juga terkait faktor sosial dan budaya masyarakat setempat.

GAYENG: Proses belajar bersama yang didampingi oleh pendidik sebaya. Anak-anak petani dan buruh tani tembakau ini sangat antusias mengikuti belajar kelompok. Anak-anak dampingan STAPA Center belajar membuat kerajinan berbahan kertas daur ulang. Proses berkreasi ini cukup menyenangkan, karena anak-anak tak hanya bisa berkarya, tapi juga bermain.

Dalam upaya mengentaskan pekerja anak dalam komunitas petani binaan, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna), mengadakan pendampingan dan edukasi berkelanjutan bagi komunitas petani. Melalui payung program keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia, Sampoerna meningkatkan kesadaran komunitas petani tentang larangan pelibatan anak dalam kegiatan bertani.

Program tersebut telah berjalan sejak 2012. Bermula hanya sebatas sosialisasi bagi para petani, program ini telah bertumbuh hingga menjangkau keluarga petani dan para buruh tani. Kini, khususnya pada saat musim tanam tembakau setiap tahunnya, Sampoerna menggelar program pendampingan bagi anak-anak keluarga petani.

Berpegang pada prinsip-prinsip yang tertuang dalam kode praktik pekerja pertanian perusahaan, atau Agricultural Labor Practices Code (ALP Code), Sampoerna dengan tegas melarang keterlibatan anak dalam seluruh proses produksi. Bahkan, ALP Code tersebut menjadi bagian dari perjanjian dalam kemitraan Sampoerna dengan para petani tembakau.

Pendampingan Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal 2020 berdampak pada masyarakat. Tak terkecuali petani dan buruh tani di perdesaan. Bahkan proses belajar mengajar harus dilakukan secara daring. Hal ini menimbulkan masalah baru berkaitan dengan kemampuan orang tua dalam mendampingi anak belajar, sarana pendukung berbasis IT, hingga waktu luang anak yang makin banyak per harinya.

Merespons kondisi ini, Sampoerna bekerja sama dengan Yayasan STAPA Center menjangkau 450 anak petani dan buruh tani yang duduk di sekolah dasar. Para pelajar menerima pendampingan belajar selama masa pandemi Covid-19. Selain itu, mereka juga diundang untuk belajar bersama dalam kelompok belajar yang dibuka di tingkat dusun. Hal ini bertujuan untuk membantu anak tetap memperhatikan tugas-tugas sekolah dan memanfaatkan waktu dengan lebih baik. Sekaligus menghindarkan anak terlibat dalam pekerjaan di pertanian tembakau. Program tersebut dilaksanakan di Desa Kalisat, Gumuksari, Pakusari, Jatian, dan Mrawan di Jember, Jawa Timur.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/