alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Inovasi Plastik Ramah Lingkungan Karya Siswa MA Unggulan Nuris Jember

Hasil penelitian tiga siswa MA Unggulan Nuris ini sangat kreatif. Memanfaatkan limbah batang pisang dan umbi suweg, mereka menyulapnya menjadi plastik. Setelah teruji ramah lingkungan, karya mereka juga mendapat apresiasi sebagai juara III dalam LKTI Nasional.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa MA Unggulan Nuris kembali mencatatkan nama di level nasional. Mereka adalah Taufiqur Rahman, Natasya Naura Maulida, dan Safrina Ila Madania. Ketiga siswa yang duduk di kelas XI itu dinobatkan sebagai juara tiga nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bertema Developing Ideas to Strengthen the State Stability after The Corona Pandemic, di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik, beberapa pekan lalu.

Dalam event tersebut, mereka membawakan sebuah karya penelitian yang diberi nama POLUSTIC (Amorphophallus Paeoniifolius and Musa Sp Steam of Bioplastic). Sebuah studi efektivitas pencampuran umbi suweg dan limbah batang pisang sebagai inovasi plastik yang ramah lingkungan.

Ketua tim penelitian, Taufiqur Rahman mengatakan, latar belakang munculnya penelitian itu karena banyaknya limbah penggunaan barang-barang dari plastik yang banyak berserakan di berbagai tempat. “Padahal kita tahu, plastik butuh waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, untuk bisa terurai dalam tanah,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu, faktor banyaknya limbah batang pisang yang cukup mudah ditemui di pasar-pasar menjadi salah satu alasan mereka memilih bahan tersebut. Sementara, umbi suweg dipilih karena selama ini banyak tumbuh liar, namun jarang ada masyarakat yang mengonsumsinya. “Dari situ kami juga tahu lebih banyak bahwa setiap barang itu, jika dimanfaatkan, akan memiliki nilai guna,” tambah Safrina, anggota tim.

Mereka menjelaskan, penelitian itu diawali dari batang pisang yang diperas, lalu diambil airnya. Sedangkan umbi suweg diparut lalu diperas dan diambil airnya juga. Dari situ kemudian, kedua bahan tersebut dicampurkan dan ditambahkan dengan gliserol, senyawa kimia untuk melenturkan plastik.

Setelah proses itu, campuran bahan lalu dipanaskan hingga mencapai suhu 70 derajat. Memasuki langkah terakhir, bahan campuran ditiriskan. Plastik siap dicetak sesuai kebutuhan dan dijemur sekitar tiga hari untuk proses pengeringan. “Plastik ini kami khususkan untuk makanan cepat saji (junk food, Red). Hasilnya seperti kresek plastik, tapi ada elastisnya,” tambah Safrina.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa MA Unggulan Nuris kembali mencatatkan nama di level nasional. Mereka adalah Taufiqur Rahman, Natasya Naura Maulida, dan Safrina Ila Madania. Ketiga siswa yang duduk di kelas XI itu dinobatkan sebagai juara tiga nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bertema Developing Ideas to Strengthen the State Stability after The Corona Pandemic, di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik, beberapa pekan lalu.

Dalam event tersebut, mereka membawakan sebuah karya penelitian yang diberi nama POLUSTIC (Amorphophallus Paeoniifolius and Musa Sp Steam of Bioplastic). Sebuah studi efektivitas pencampuran umbi suweg dan limbah batang pisang sebagai inovasi plastik yang ramah lingkungan.

Ketua tim penelitian, Taufiqur Rahman mengatakan, latar belakang munculnya penelitian itu karena banyaknya limbah penggunaan barang-barang dari plastik yang banyak berserakan di berbagai tempat. “Padahal kita tahu, plastik butuh waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, untuk bisa terurai dalam tanah,” ujarnya.

Selain itu, faktor banyaknya limbah batang pisang yang cukup mudah ditemui di pasar-pasar menjadi salah satu alasan mereka memilih bahan tersebut. Sementara, umbi suweg dipilih karena selama ini banyak tumbuh liar, namun jarang ada masyarakat yang mengonsumsinya. “Dari situ kami juga tahu lebih banyak bahwa setiap barang itu, jika dimanfaatkan, akan memiliki nilai guna,” tambah Safrina, anggota tim.

Mereka menjelaskan, penelitian itu diawali dari batang pisang yang diperas, lalu diambil airnya. Sedangkan umbi suweg diparut lalu diperas dan diambil airnya juga. Dari situ kemudian, kedua bahan tersebut dicampurkan dan ditambahkan dengan gliserol, senyawa kimia untuk melenturkan plastik.

Setelah proses itu, campuran bahan lalu dipanaskan hingga mencapai suhu 70 derajat. Memasuki langkah terakhir, bahan campuran ditiriskan. Plastik siap dicetak sesuai kebutuhan dan dijemur sekitar tiga hari untuk proses pengeringan. “Plastik ini kami khususkan untuk makanan cepat saji (junk food, Red). Hasilnya seperti kresek plastik, tapi ada elastisnya,” tambah Safrina.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siswa MA Unggulan Nuris kembali mencatatkan nama di level nasional. Mereka adalah Taufiqur Rahman, Natasya Naura Maulida, dan Safrina Ila Madania. Ketiga siswa yang duduk di kelas XI itu dinobatkan sebagai juara tiga nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bertema Developing Ideas to Strengthen the State Stability after The Corona Pandemic, di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik, beberapa pekan lalu.

Dalam event tersebut, mereka membawakan sebuah karya penelitian yang diberi nama POLUSTIC (Amorphophallus Paeoniifolius and Musa Sp Steam of Bioplastic). Sebuah studi efektivitas pencampuran umbi suweg dan limbah batang pisang sebagai inovasi plastik yang ramah lingkungan.

Ketua tim penelitian, Taufiqur Rahman mengatakan, latar belakang munculnya penelitian itu karena banyaknya limbah penggunaan barang-barang dari plastik yang banyak berserakan di berbagai tempat. “Padahal kita tahu, plastik butuh waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, untuk bisa terurai dalam tanah,” ujarnya.

Selain itu, faktor banyaknya limbah batang pisang yang cukup mudah ditemui di pasar-pasar menjadi salah satu alasan mereka memilih bahan tersebut. Sementara, umbi suweg dipilih karena selama ini banyak tumbuh liar, namun jarang ada masyarakat yang mengonsumsinya. “Dari situ kami juga tahu lebih banyak bahwa setiap barang itu, jika dimanfaatkan, akan memiliki nilai guna,” tambah Safrina, anggota tim.

Mereka menjelaskan, penelitian itu diawali dari batang pisang yang diperas, lalu diambil airnya. Sedangkan umbi suweg diparut lalu diperas dan diambil airnya juga. Dari situ kemudian, kedua bahan tersebut dicampurkan dan ditambahkan dengan gliserol, senyawa kimia untuk melenturkan plastik.

Setelah proses itu, campuran bahan lalu dipanaskan hingga mencapai suhu 70 derajat. Memasuki langkah terakhir, bahan campuran ditiriskan. Plastik siap dicetak sesuai kebutuhan dan dijemur sekitar tiga hari untuk proses pengeringan. “Plastik ini kami khususkan untuk makanan cepat saji (junk food, Red). Hasilnya seperti kresek plastik, tapi ada elastisnya,” tambah Safrina.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/