alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Disiplin 3M Sama Pentingnya dengan Vaksin 

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Kehadiran vaksin sebagai senjata pamungkas menekan penyebaran COVID-19, tidak serta merta memberikan kelonggaran bagi masyarakat. Terutama disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, 3M, Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan masih menjadi keharusan, meskipun program vaksinasi nantinya telah dijalankan.

“Saya kira bahkan setelah kita mendapat vaksin pun, untuk jangka waktu 6 bulan sampai satu tahun pun, kita tetap harus disiplin protokol kesehatan,” pesan dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D, Ahli Epidemiologi FKM UI dalam Dialog Produktif dengan tema, ‘Vaksin+3M: Jurus Ampuh Lawan COVID-19’ yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (3/12/2020).

Menurut sang epidemiolog, vaksin membutuhkan waktu untuk menciptakan kekebalan dalam tubuh seseorang. Selain itu, tidak mungkin seluruh masyarakat akan dapat langsung divaksinasi karena proses pemberian vaksin bertahap.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mencontohkan, meskipun saat ini ada puluhan vaksin, namun dari tahun 1940-an, dunia mencatat kemunculan 365 penyakit baru dan hanya satu penyakit yang dapat tereradikasi (musnah) yaitu cacar (smallpox). “Kita bisa mampu menghilangkan smallpox dari muka bumi, itu karena kita mendeteksi, men-tracing, mengkarantina. Jadi semua termasuk 3M adalah satu paket. Langkah terpadu menghadapi wabah,” jelasnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, kehadiran vaksin yang lebih cepat dari biasanya adalah hal normal. Karena kemampuan para peneliti didukung kemajuan teknologi. Para peneliti dunia dikatakannya dapat mengidentifikasi COVID-19 hanya dalam 7 hari, dan sangat jauh jika dibandingkan dengan penelitian pada penyakit HIV/AIDS yang butuh waktu 2 tahun. “Ini menunjukkan saat ini sebetulnya dunia cukup baik. Sudah maju sekali dalam bidang virologi,” ungkapnya.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Kehadiran vaksin sebagai senjata pamungkas menekan penyebaran COVID-19, tidak serta merta memberikan kelonggaran bagi masyarakat. Terutama disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, 3M, Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan masih menjadi keharusan, meskipun program vaksinasi nantinya telah dijalankan.

“Saya kira bahkan setelah kita mendapat vaksin pun, untuk jangka waktu 6 bulan sampai satu tahun pun, kita tetap harus disiplin protokol kesehatan,” pesan dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D, Ahli Epidemiologi FKM UI dalam Dialog Produktif dengan tema, ‘Vaksin+3M: Jurus Ampuh Lawan COVID-19’ yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (3/12/2020).

Menurut sang epidemiolog, vaksin membutuhkan waktu untuk menciptakan kekebalan dalam tubuh seseorang. Selain itu, tidak mungkin seluruh masyarakat akan dapat langsung divaksinasi karena proses pemberian vaksin bertahap.

Ia mencontohkan, meskipun saat ini ada puluhan vaksin, namun dari tahun 1940-an, dunia mencatat kemunculan 365 penyakit baru dan hanya satu penyakit yang dapat tereradikasi (musnah) yaitu cacar (smallpox). “Kita bisa mampu menghilangkan smallpox dari muka bumi, itu karena kita mendeteksi, men-tracing, mengkarantina. Jadi semua termasuk 3M adalah satu paket. Langkah terpadu menghadapi wabah,” jelasnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, kehadiran vaksin yang lebih cepat dari biasanya adalah hal normal. Karena kemampuan para peneliti didukung kemajuan teknologi. Para peneliti dunia dikatakannya dapat mengidentifikasi COVID-19 hanya dalam 7 hari, dan sangat jauh jika dibandingkan dengan penelitian pada penyakit HIV/AIDS yang butuh waktu 2 tahun. “Ini menunjukkan saat ini sebetulnya dunia cukup baik. Sudah maju sekali dalam bidang virologi,” ungkapnya.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Kehadiran vaksin sebagai senjata pamungkas menekan penyebaran COVID-19, tidak serta merta memberikan kelonggaran bagi masyarakat. Terutama disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, 3M, Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan masih menjadi keharusan, meskipun program vaksinasi nantinya telah dijalankan.

“Saya kira bahkan setelah kita mendapat vaksin pun, untuk jangka waktu 6 bulan sampai satu tahun pun, kita tetap harus disiplin protokol kesehatan,” pesan dr. Syahrizal Syarif, MPH, Ph.D, Ahli Epidemiologi FKM UI dalam Dialog Produktif dengan tema, ‘Vaksin+3M: Jurus Ampuh Lawan COVID-19’ yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (3/12/2020).

Menurut sang epidemiolog, vaksin membutuhkan waktu untuk menciptakan kekebalan dalam tubuh seseorang. Selain itu, tidak mungkin seluruh masyarakat akan dapat langsung divaksinasi karena proses pemberian vaksin bertahap.

Ia mencontohkan, meskipun saat ini ada puluhan vaksin, namun dari tahun 1940-an, dunia mencatat kemunculan 365 penyakit baru dan hanya satu penyakit yang dapat tereradikasi (musnah) yaitu cacar (smallpox). “Kita bisa mampu menghilangkan smallpox dari muka bumi, itu karena kita mendeteksi, men-tracing, mengkarantina. Jadi semua termasuk 3M adalah satu paket. Langkah terpadu menghadapi wabah,” jelasnya.

Dijelaskannya lebih lanjut, kehadiran vaksin yang lebih cepat dari biasanya adalah hal normal. Karena kemampuan para peneliti didukung kemajuan teknologi. Para peneliti dunia dikatakannya dapat mengidentifikasi COVID-19 hanya dalam 7 hari, dan sangat jauh jika dibandingkan dengan penelitian pada penyakit HIV/AIDS yang butuh waktu 2 tahun. “Ini menunjukkan saat ini sebetulnya dunia cukup baik. Sudah maju sekali dalam bidang virologi,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/