alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Mendag: Produk Panel Surya Indonesia Siap Bersiang di Pasar AS

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

- Advertisement -

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

Sebelumnya, AS telah mengenakan produk panel surya BMTP sejak 23 Januari 2018 hingga 6 Februari 2022. Selanjutnya, pengenaan BMTP diperpanjang selama empat tahun hingga 6 Februari 2026 atas permintaan dari industri panel surya dalam negeri AS. Pemohon mengklaim telah terjadi kerugian serius akibat pembelian produk solar panel pada 2015—2018. hal ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya agar lolos dari kebijakan pengenaan BMTP oleh AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno menanggapi keputusan AS dengan optimisme tinggi. Menurutnya, Pemerintah Indonesia telah terlibat aktif dan kooperatif sejak awal inisiasi penyelidikan guna membela pengusaha/eksportir Indonesia. Di sisi lain, penyelidikan AS juga transparan dan objektif dalam investigasi panel surya tersebut.

“Pemerintah Indonesia melalui koordinasi Direktorat Pengamanan Perdagangan (DPP) yang terlibat aktif selama proses penyelidikan dengan menambahkan sejumlah pembelaan tertulis kepada otoritas AS. Selain itu, proses penyelidikan ini diikuti dengan kooperatif dengan tujuan agar Indonesia dibebaskan dari BMTP sehingga memberikan peluang bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar di AS,” terang Natan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022, nilai ekspor produk solar panel Indonesia ke dunia cenderung mengalami tren peningkatan sebesar 12,26 persen dalam lima tahun terakhir (2016—2021). Nilai ekspor tertinggi Indonesia ke AS untuk produk ini terjadi pada 2021 yakni sebesar USD 22,69 juta. Pada tahun tersebut, AS menjadi negara tujuan ekspor produk solar panel Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 34 persen. Selain AS, negara tujuan utama ekspor Indonesia untuk produk yang dimaksud adalah Singapura, Belanda, Tiongkok, dan Jepang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/