23.9 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Potensi Ekspor Buah Tropis Indonesia, Jadi Primadona Baru Dunia

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Potensi ekspor buah tropis asli Indonesia, seperti mangga dan manggis, masih terbuka lebar. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Ronnie Susman Natawidjaja menilai, perlu kerja sama semua pihak agar potensi tersebut dapat tergarap secara maksimal.

“Kita produsen mangga terbesar ke-6 di dunia. Tapi ekspor kita masih di bawah 10% dari total produksi nasional. Ini kan mestinya bisa dimajukan. Karena secara kualitas, mangga kita lebih manis dibandingkan mangga asal Filipina, India, atau negara penghasil mangga lainnya,” tutur Ronnie ketika dihubungi belum lama ini.

Menurut Ronnie, salah satu permasalahan yang ada, yaitu rendahnya kualitas pascapanen. Dia mencontohkan, Filipina sudah mapan dalam penanganan industri pengolahan mangga. Filipina bisa menghasilkan buah mangga yang tahan lama setelah dipanen.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kualitas pascapanen kita jelek. Idealnya, mangga itu harusnya dibungkus satu persatu untuk menghindari lalat buah. Sumber daya kita rendah, jadi mungkin terbatas untuk membungkusnya,” tuturnya.

Lain halnya dengan buah manggis. Menurut Ronnie, masalah utama manggis adalah belum diterapkannya budidaya manggis. Ronnie menuturkan, ada dua wilayah penghasil mangga di Indonesia, yaitu di Tasikmalaya hingga Ciamis, Jawa Barat, serta di Padang, Sumatera Barat. Budidaya manggis sudah diterapkan di sebagian besar Tasikmalaya. Akan tetapi, sebagian besar wilayah Padang belum menerapkannya.

Hal ini merugikan, karena kualitas buah manggis secara keseluruhan tidak bisa dikontrol dengan baik. Ditambahkannya, selain buahnya, kulit manggis juga bisa dimanfaatkan oleh industri obat-obatan.

“Kita manggis itu kebanyakan dari hutan, bukan manggis budidaya. Jadi kualitas kulitnya tidak mulus, dan mahkotanya pun ada yang tidak utuh. Ini tidak sesuai dengan permintaan pasar. Padahal kulit manggis ini kan dipakai juga oleh industri obat-obatan,” tuturnya.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Potensi ekspor buah tropis asli Indonesia, seperti mangga dan manggis, masih terbuka lebar. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Ronnie Susman Natawidjaja menilai, perlu kerja sama semua pihak agar potensi tersebut dapat tergarap secara maksimal.

“Kita produsen mangga terbesar ke-6 di dunia. Tapi ekspor kita masih di bawah 10% dari total produksi nasional. Ini kan mestinya bisa dimajukan. Karena secara kualitas, mangga kita lebih manis dibandingkan mangga asal Filipina, India, atau negara penghasil mangga lainnya,” tutur Ronnie ketika dihubungi belum lama ini.

Menurut Ronnie, salah satu permasalahan yang ada, yaitu rendahnya kualitas pascapanen. Dia mencontohkan, Filipina sudah mapan dalam penanganan industri pengolahan mangga. Filipina bisa menghasilkan buah mangga yang tahan lama setelah dipanen.

“Kualitas pascapanen kita jelek. Idealnya, mangga itu harusnya dibungkus satu persatu untuk menghindari lalat buah. Sumber daya kita rendah, jadi mungkin terbatas untuk membungkusnya,” tuturnya.

Lain halnya dengan buah manggis. Menurut Ronnie, masalah utama manggis adalah belum diterapkannya budidaya manggis. Ronnie menuturkan, ada dua wilayah penghasil mangga di Indonesia, yaitu di Tasikmalaya hingga Ciamis, Jawa Barat, serta di Padang, Sumatera Barat. Budidaya manggis sudah diterapkan di sebagian besar Tasikmalaya. Akan tetapi, sebagian besar wilayah Padang belum menerapkannya.

Hal ini merugikan, karena kualitas buah manggis secara keseluruhan tidak bisa dikontrol dengan baik. Ditambahkannya, selain buahnya, kulit manggis juga bisa dimanfaatkan oleh industri obat-obatan.

“Kita manggis itu kebanyakan dari hutan, bukan manggis budidaya. Jadi kualitas kulitnya tidak mulus, dan mahkotanya pun ada yang tidak utuh. Ini tidak sesuai dengan permintaan pasar. Padahal kulit manggis ini kan dipakai juga oleh industri obat-obatan,” tuturnya.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Potensi ekspor buah tropis asli Indonesia, seperti mangga dan manggis, masih terbuka lebar. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Ronnie Susman Natawidjaja menilai, perlu kerja sama semua pihak agar potensi tersebut dapat tergarap secara maksimal.

“Kita produsen mangga terbesar ke-6 di dunia. Tapi ekspor kita masih di bawah 10% dari total produksi nasional. Ini kan mestinya bisa dimajukan. Karena secara kualitas, mangga kita lebih manis dibandingkan mangga asal Filipina, India, atau negara penghasil mangga lainnya,” tutur Ronnie ketika dihubungi belum lama ini.

Menurut Ronnie, salah satu permasalahan yang ada, yaitu rendahnya kualitas pascapanen. Dia mencontohkan, Filipina sudah mapan dalam penanganan industri pengolahan mangga. Filipina bisa menghasilkan buah mangga yang tahan lama setelah dipanen.

“Kualitas pascapanen kita jelek. Idealnya, mangga itu harusnya dibungkus satu persatu untuk menghindari lalat buah. Sumber daya kita rendah, jadi mungkin terbatas untuk membungkusnya,” tuturnya.

Lain halnya dengan buah manggis. Menurut Ronnie, masalah utama manggis adalah belum diterapkannya budidaya manggis. Ronnie menuturkan, ada dua wilayah penghasil mangga di Indonesia, yaitu di Tasikmalaya hingga Ciamis, Jawa Barat, serta di Padang, Sumatera Barat. Budidaya manggis sudah diterapkan di sebagian besar Tasikmalaya. Akan tetapi, sebagian besar wilayah Padang belum menerapkannya.

Hal ini merugikan, karena kualitas buah manggis secara keseluruhan tidak bisa dikontrol dengan baik. Ditambahkannya, selain buahnya, kulit manggis juga bisa dimanfaatkan oleh industri obat-obatan.

“Kita manggis itu kebanyakan dari hutan, bukan manggis budidaya. Jadi kualitas kulitnya tidak mulus, dan mahkotanya pun ada yang tidak utuh. Ini tidak sesuai dengan permintaan pasar. Padahal kulit manggis ini kan dipakai juga oleh industri obat-obatan,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca