alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Pertama di Indonesia, UIN KHAS Jember adakan Pelatihan Kader Ulama

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membangun mahasiswa yang unggul di bidang keagamaan, khususnya bidang kitab kuning, menjadi fokus tersendiri oleh Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Hal itu diwujudkan dalam bentuk Pelatihan Kader Ulama untuk Mahasiswa (PKUM) angkatan pertama Sabtu (27/11), yang diselenggarakan oleh Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Pelatihan kader ulama itu secara khusus sebagai wadah dalam mempersiapkan bekal menjadi ulama muda. Terlebih lagi, keahlian membaca kitab kuning menjadi sarana pendidikan moralitas yang harus dimiliki mahasiswa, serta menjadi syarat formil untuk menjadi hakim Pengadilan Agama (PA). Bahkan memiliki korelasi terhadap jenjang karir hakim.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejumlah narasumber dari ulama terkemuka Jawa Timur turut dihadirkan. Seperti Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin dan Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag. Keduanya menguraikan mengenai proses lahir dan kedudukan ulama, yang telah melewati proses panjang dalam menuntut ilmu, memiliki adab dan akhlak, serta ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Prof Dr M Noor Harisudin M Fil I, mengatakan, pelatihan kader ulama untuk mahasiswa itu merupakan kali pertama dan satu-satunya di Indonesia. “Harapannya, mahasiswa tahu terlebih dahulu tahu esensi dari ulama, sebagai orang yang alim, ahli ibadah, tidak terikat dengan dunia dan peka dengan realita sosial,” ujar Haris dalam sambutannya.

Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag menjelaskan tentang orientasi metode baca kitab kuning dengan menggunakan metode Al-Bidayah. Menurutnya, kunci seseorang yang menyatakan komitmen dalam ilmu agama adalah menguasai nahwu dan sharaf.

“Kalau kita bergerak di bidang keagamaan, maka wajib mengerti kitab. Karena sumber utama umat Islam adalah Alquran dan Hadis yang menggunakan Bahasa Arab. Dan kunci memahami bahasa dua sumber itu adalah dengan menguasai nahwu sharaf,” terang Kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bidayah tersebut.

Haris menjelaskan, metode Al-Bidayah merupakan orientasi metode baca kitab kuning yang menawarkan sistem berpikir secara maksimal. Dibutuhkan konsistensi kebijakan dan waktu yang banyak untuk mampu memahami kitab kuning.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membangun mahasiswa yang unggul di bidang keagamaan, khususnya bidang kitab kuning, menjadi fokus tersendiri oleh Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Hal itu diwujudkan dalam bentuk Pelatihan Kader Ulama untuk Mahasiswa (PKUM) angkatan pertama Sabtu (27/11), yang diselenggarakan oleh Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Pelatihan kader ulama itu secara khusus sebagai wadah dalam mempersiapkan bekal menjadi ulama muda. Terlebih lagi, keahlian membaca kitab kuning menjadi sarana pendidikan moralitas yang harus dimiliki mahasiswa, serta menjadi syarat formil untuk menjadi hakim Pengadilan Agama (PA). Bahkan memiliki korelasi terhadap jenjang karir hakim.

Sejumlah narasumber dari ulama terkemuka Jawa Timur turut dihadirkan. Seperti Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin dan Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag. Keduanya menguraikan mengenai proses lahir dan kedudukan ulama, yang telah melewati proses panjang dalam menuntut ilmu, memiliki adab dan akhlak, serta ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Prof Dr M Noor Harisudin M Fil I, mengatakan, pelatihan kader ulama untuk mahasiswa itu merupakan kali pertama dan satu-satunya di Indonesia. “Harapannya, mahasiswa tahu terlebih dahulu tahu esensi dari ulama, sebagai orang yang alim, ahli ibadah, tidak terikat dengan dunia dan peka dengan realita sosial,” ujar Haris dalam sambutannya.

Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag menjelaskan tentang orientasi metode baca kitab kuning dengan menggunakan metode Al-Bidayah. Menurutnya, kunci seseorang yang menyatakan komitmen dalam ilmu agama adalah menguasai nahwu dan sharaf.

“Kalau kita bergerak di bidang keagamaan, maka wajib mengerti kitab. Karena sumber utama umat Islam adalah Alquran dan Hadis yang menggunakan Bahasa Arab. Dan kunci memahami bahasa dua sumber itu adalah dengan menguasai nahwu sharaf,” terang Kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bidayah tersebut.

Haris menjelaskan, metode Al-Bidayah merupakan orientasi metode baca kitab kuning yang menawarkan sistem berpikir secara maksimal. Dibutuhkan konsistensi kebijakan dan waktu yang banyak untuk mampu memahami kitab kuning.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Membangun mahasiswa yang unggul di bidang keagamaan, khususnya bidang kitab kuning, menjadi fokus tersendiri oleh Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Hal itu diwujudkan dalam bentuk Pelatihan Kader Ulama untuk Mahasiswa (PKUM) angkatan pertama Sabtu (27/11), yang diselenggarakan oleh Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.

Pelatihan kader ulama itu secara khusus sebagai wadah dalam mempersiapkan bekal menjadi ulama muda. Terlebih lagi, keahlian membaca kitab kuning menjadi sarana pendidikan moralitas yang harus dimiliki mahasiswa, serta menjadi syarat formil untuk menjadi hakim Pengadilan Agama (PA). Bahkan memiliki korelasi terhadap jenjang karir hakim.

Sejumlah narasumber dari ulama terkemuka Jawa Timur turut dihadirkan. Seperti Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin dan Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag. Keduanya menguraikan mengenai proses lahir dan kedudukan ulama, yang telah melewati proses panjang dalam menuntut ilmu, memiliki adab dan akhlak, serta ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Prof Dr M Noor Harisudin M Fil I, mengatakan, pelatihan kader ulama untuk mahasiswa itu merupakan kali pertama dan satu-satunya di Indonesia. “Harapannya, mahasiswa tahu terlebih dahulu tahu esensi dari ulama, sebagai orang yang alim, ahli ibadah, tidak terikat dengan dunia dan peka dengan realita sosial,” ujar Haris dalam sambutannya.

Ketua MUI Jember Dr KH Abdul Haris M Ag menjelaskan tentang orientasi metode baca kitab kuning dengan menggunakan metode Al-Bidayah. Menurutnya, kunci seseorang yang menyatakan komitmen dalam ilmu agama adalah menguasai nahwu dan sharaf.

“Kalau kita bergerak di bidang keagamaan, maka wajib mengerti kitab. Karena sumber utama umat Islam adalah Alquran dan Hadis yang menggunakan Bahasa Arab. Dan kunci memahami bahasa dua sumber itu adalah dengan menguasai nahwu sharaf,” terang Kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bidayah tersebut.

Haris menjelaskan, metode Al-Bidayah merupakan orientasi metode baca kitab kuning yang menawarkan sistem berpikir secara maksimal. Dibutuhkan konsistensi kebijakan dan waktu yang banyak untuk mampu memahami kitab kuning.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca