Bupati Jembrana I Putu Artha (kanan) didampingi Kepala Kantor Kemenag Jembrana I Made Sudarmita (kiri) saat hari santri kemarin. (M.Basir/Radar Bali)

NEGARA  – Setiap 22 Oktober, sejak empat tahun terakhir ditetapkan sebagai hari santri nasional.

IKLAN

Dalam memperingati hari santri nasional, seribuan pelajar dari sejumlah sekolah dan pesantren di Jembrana mengikuti upacara peringatan hari santri nasional di lapangan umum Negara, Selasa (22/10) kemarin.

Pada upacara peringatan hari santri nasional di Jembrana, Bupati Jembrana I Putu Artha selaku pembina upacara, para ulama, kementerian agama,

jajaran forkopimda, Muslimat NU, Fatayat, IPNU, IPPNU, Ansor, Banser, siswa siswi dari MI, MTS, serta MAN se-Jembrana, serta santri dari sejumlah pondik pesantren di Jembrana.

Pada peringatan hari santri nasional 2019 dengan tema Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia, seluruh santri mengucapkan ikrar santri.

Pertama, sebagai Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai, dan tradisi Islam Ahlusunah wal jama’ah.

Kedua, sebagai Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertanah air satu tanah air Indonesia,

berideologi negara satu ideologi Pancasila, berkonstitusi satu Undang Undang Dasar 1945, berkebudayaan satu kebudayaan Bhineka Tunggal Ika.

Ketiga, Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, selalu bersedia dan siap siaga, menyerahkan jiwa dan raga,

membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian dunia.

Keempat, sebagai Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, lahir dan batin, untuk seluruh rakyat Indonesia.

Kelima, sebagai Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, pantang menyerah, pantang putus asa serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang

akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI dan  Bhineka Tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya  yang bertentangan dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Bupati Jembrana I Putu Artha mengungkapkan, tema pada peringatan hari santri nasional sangat relevan karena pesantren sebagai laboratorium perdamaian.

Pesantren sebagai tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama.

“Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang prural dan multikultural,

sehingga dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud,” ujar Bupati Artha.

Tema ini juga memiliki makna sangat dalam, semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk ikut berkontribusi

menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

“Saya berharap santri menjadi garda terdepan dalam merawat perdamaian dunia,“ tambahnya.

Bupati Artha juga mengajak masyarakat Jembrana untuk selalu bersyukur dan berbangga, dengan semakin tingginya sikap toleransi antar agama dan suku,

menunjukkan kerukunan dan saling menghormati satu dengan yang lain, bahkan hingga saling membantu.

“Saya ucapkan Selamat Hari Santri 2019, Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia. Jagalah bersama-sama Ukhuwah Islamiyah,

jagalah ukhuwah wathoniyah, agar persatuan, persaudaraan, kerukunan, keharmonisan bangsa dan khususnya di Kabupaten Jembrana,” pungkasnya.

Kasi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jembrana, Sukur, M.Pd menyampaikan,

upacara hari santri nasional 2019 di Kabupaten Jembrana dilaksanakan untuk mengenang, meneladani dan melanjutkan peran ulama dan santri dalam

membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Sekaligus sebagai wujud nyata upaya menangkal faham radikal sehingga tercipta moderasi kehidupan beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya. (rba)

(rb/bas/mus/JPR)