Bom Air Bakal Padamkan Kebakaran Gunung Panderman

Kebakaran Gunung paderman,Minggu malam (21/07). Belum diketahui peyebab utama kebakaran karena tiupan angin yang kecang. Api cepat membesar dan menyebar sehingga terlihat jelas di sekitar Kota Batu. (Darmono/Jawa Pos Radar Malang)

JawaPos.com – Api di Gunung Panderman belum sepenuhnya bisa dipadamkan. Kepulan asap sampai tadi malam masih membubung. Kini yang dikhawatirkan, kebakaran menyasar puluhan ribu hektare lahan Perhutani di sebelah barat gunung di Kota Batu, Jatim, itu.

IKLAN

“Ya, tentu musim kemarau saat ini patut diwaspadai. Belum ada langkah ke depan untuk antisipasi (jika kebakaran merembet sampai lahan yang dimaksud, Red),” papar Administrator KPH Malang Hengki Herwanto kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin (22/7).

Lahan yang dimaksud Hengki itu seluas 38.194,9 hektare dan masuk wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang. Berada di sebelah barat Gunung Panderman. Adapun luas hutan Panderman total mencapai 164 hektare. Sedangkan asap yang masih mengepul lebih mengarah ke wilayah Kabupaten Malang.

Karena itu, aktivitas di Kota Batu, salah satu destinasi wisata andalan Jawa Timur, relatif tidak terganggu sampai kemarin. Kota berhawa sejuk tersebut memang dikelilingi wilayah Kota dan Kabupaten Malang.

Kebakaran Gunung paderman,Minggu malam (21/07). Belum diketahui peyebab utama kebakaran karena tiupan angin yang kecang. Api cepat membesar dan menyebar sehingga terlihat jelas di sekitar Kota Batu. (Darmono/Jawa Pos Radar Malang)

Saat dihubungi Jawa Pos, Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur Oman Suherman menyatakan, luas area yang terbakar sampai tadi malam mencapai 60 hektare. “Penyebab kebakaran diduga suhu panas dan cuaca kering,” katanya.

Api diketahui bermula dari kawasan Petak 227 Resor Pengelolaan Hutan (RPH) Oro-Oro Ombo yang masuk wilayah Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Kota Batu. Sebelum kemudian menyebar ke dua titik lain: puncak dan lereng gunung.

Titik awal api itu juga berada di bagian barat Panderman, berdekatan dengan puluhan hektare lahan yang dikhawatirkan bakal terbakar. Sampai berita ini selesai ditulis tadi malam, baru kebakaran di kawasan lereng yang bisa dipadamkan. Jarak wilayah yang terbakar sekitar 5 kilometer dari perkampungan terdekat.

Untung, saat api yang berkobar mulai terdengar, dua pendaki dari Mojokerto yang tengah berkemah di puncak, Muhammad Adnan Fanani, 26, dan Firgiawan Listanto, 25, terbangun dari tidur. Sempat sulit dikontak, keduanya akhirnya berhasil dievakuasi pada Minggu sekitar pukul 22.00. Dua belas jam berselang atau kemarin pagi Fanani dan Firgiawan sudah dipulangkan.

“Awalnya, ada 25 orang yang terdaftar di pos pantau. Dua puluh tiga orang sudah turun sebelum api muncul,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Choirur Rochim kepada Jawa Pos Radar Malang.

Berdasar rekap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, pada 2012 kebakaran juga melanda Gunung Panderman. Saat itu area seluas 17 hektare ikut hangus. Sedangkan pada 2013 hingga 2018, kebakaran hanya terjadi di area lereng.

Menurut Rochim, sejak Minggu malam 50 personel BPBD diterjunkan untuk memadamkan kobaran api secara manual. Para petugas menggunakan daun dan kayu untuk memadamkan si jago merah. Itu dilakukan lantaran sulitnya akses dan jauhnya lokasi kebakaran dari sumber air.

Dengan keterbatasan alat dan personel, upaya pemadaman akan dilanjutkan hari ini. Dia menambahkan, jika api tak kunjung padam, bantuan water bombing alias bom air dari TNI juga dikerahkan hari ini.

Seperti Oman, BPBD Kota Batu belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Namun, Rochim menduga api muncul bukan dari pendaki yang hendak berkemah di sana. Sebab, titik api kali pertama muncul dari kawasan hutan lindung yang jauh dari jalur para pendaki. “Mungkin ya karena kondisi kemarau, api kemudian muncul,” katanya.

Namun, lanjut dia, bisa saja itu sabotase. “Karena titik api berada di kawasan hutan lindung. Namun, kami belum berani menyimpulkan itu,” tambahnya.

Direktur Pengendalian Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rafles B. Panjaitan mengungkapkan, pihaknya terus memantau perkembangan dan meminta laporan dari Perhutani. “Petugas di lapangan sudah menciptakan sekat-sekat untuk mencegah api menyebar,” jelas dia kepada Jawa Pos.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Batu Zadiem Efisiensi mengatakan bahwa pihaknya telah membentuk tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait buat menangani kebakaran tersebut. Antara lain, BPBD, Perhutani, dinas sosial, dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lain. Koordinasi itu, antara lain, terkait dengan perlunya segera membangun tenda fungsional di lokasi kebakaran. “Untuk para relawan BPBD, polres, TNI, dan Perhutani yang masih berjibaku di lapangan,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (mh/tau/c11/ttg)

Reporter :

Fotografer :

Editor :