Komang Arnawa menunjukan gula merah produksinya. (Wayan Putra/Radar Bali)

AMLAPURA – Gula merah yang juga disebut gula semut semakin diminati pasar. Menurut perajin gula semut asal Banjar Muntig, Desa Amerta Bhuana, Selat, I Komang Arnawa, 35, gula semut produksinya mengandung vitamin B, B1, B2 dan kalsium.

IKLAN

Gula merah diakuinya bisa mencegah anemia, wasir serta menurunkan kolesterol. Bahkan mencegah diabetes.

Kaur Pemerintahan Desa Amerta Bhuana ini mengatakan, produksi gula yang ditekuninya mendapat dukungan warga Desa Amerta Bhuana.

Arnawa mengakui sempat pemeran ke beberapa tempat di Bali. Pengemasan gula merah juga dibuat khusus agar menarik.

Untuk menghasilkan gula semut diperlukan produksi tuak dari aren sebagai bahan baku. Beda dengan lau atau tuak yang mengandung alkohol.

Sekalipun bahan bakunya sama, namun cara mengolah tuak aren berbeda. Proses produksi sekitar 30 lliter tuak aren manis dipanaskan selama 4,5 jam dengan suhu 120 derajat.

Sedangkan suhu dalam oven tidak boleh terlalu panas sekitar 40 derajat. Ini dilakukan untuk menurunkan kadar air gula agar kering.

“Kadar air akan turun sampai 2 persen,” ujar Arnawa. Proses selanjutnya didinginkan 15- 20 menit yang kemudian dikemas. Soal izin, kata dia, sudah lengkap sehingga siap dipasarkan.

Sementara untuk bahan baku berupa tuak dia dapat dari warga desa setempat. Karena Desa Amerta Bhuana memang dikenal sebagai penghasil tuak aren manis.

Di Amerta Bhuana, lanjutnya, sekitar 30 orang petani tuak aren. Mereka inilah yang selalu menyuplai bahan ke usahanya tersebut.

Dia mengakui memulai usaha ini sejak 13 Oktober 2018 lalu. Produksi gula merah yang dilakoninya juga ide sang ibu yang memang perajin gula merah.

Dia mengaku mendapatkan pelatihan dari kementerian. Belakangan ini banyak warga mulai tertarik. Ada 30 warga yang mengikuti pelatihan.

Awalnya membuat gula semut tidaklah mudah. Dia mengaku beberapa kali mengalami kegagalan. Salah satu penyebabnya adalah bisa karena bahan baku yang kurang bagus.

Untuk menjadi gula semut bahan baku harus bagus dan bening. ”Sempat enam bulan mempelajari tipe tuak aren yang bisa digunakan barulah berhasil.

Produk ini aman untuk diabetes, sudah pernah kita coba malah kadar gulanya menurun,” ujarnya dengan mantap.

Saat ini, dia mendapat permintaan dari Jerman 2,5 ton per bulan. Hanya saja masih terkendala produksi. Ini karena minim tenaga kerja sehingga produksinya juga tidak banyak.

“Sebulan baru mampu produksi 300 kg sehingga belum bisa memenuhi permintaan tersebut,” ujar Arnawa.

Kedepan gula ini juga akan dipasarkan ke luar Bali. Soal harga per kemasan Rp 20 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 140 ribu untuk ukuran yang besar.

(rb/tra/mus/JPR)