Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengenal Hastra 132, Patrol Jember sejak 1980

Safitri • Jumat, 20 Mei 2022 | 19:45 WIB
BERDENDANG: Grup Hastra 132 memainkan alat musik patrol di lapangan terbuka.
BERDENDANG: Grup Hastra 132 memainkan alat musik patrol di lapangan terbuka.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Sebagai relawan seni, Didik Afrianto dengan telaten mengurus anggota grup musik patrol yang diketuainya. Hastra 132 ialah salah satu grup yang tergabung dalam Paguyuban Seni Musik Patrol Jember (PSMPJ), yang terbentuk pada 1980. Sejak 2017, Didik mulai memegang tongkat estafet sebagai penerus dari bapak mertuanya.

BACA JUGA : Akhirnya Jalan Multiyears Cakru Selesai

Dengan niat agar musik asli Jember ini tetap lestari, dia pelan-pelan mulai belajar. Baik mengarahkan sampai terjun secara langsung ikut memahami teknik permainan musiknya. Meskipun, kata Didik, dirinya belum terlalu lihai memainkannya.

Kini, anggota grupnya sudah sampai pada generasi ketiga. Ada 12 orang anggota senior dan 8 orang junior sebagai regenerasi. Semuanya memiliki pegangan alat masing-masing. Mulai dari remo, bas, kontra bas, tengtong keter, selingan, gendang, tamborin, kenong, hingga seruling.

Hanya ada satu penyanyi di dalam musik grup patrol itu. Didik mengungkapkan, sangat sulit mencari penyanyi musik patrol yang benar-benar mau. Menurutnya, selain tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, alasan gengsi membuat penyanyi tak mau untuk bergabung. "Sebenarnya alasan utamanya adalah gengsi," ucapnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Kenanga, Gebang, Rabu (18/4).

Dia menuturkan, jumlah anggota grup musik patrol di tiap-tiap grup memang rata-rata sedikit. Dia menganggap bahwa minat masyarakat mulai meredup. Ditambah dengan minimnya dukungan dari pemkab untuk masa depan musik patrol di Jember.

Semakin ke sini, gairah dalam mengakui bahwa Jember adalah rumah asli jenis musik ini kurang dibangun. Bahkan, Didik mengungkapkan bahwa musik patrol dianaktirikan oleh pemkab. Hal itu, tambah dia, karena kurangnya apresiasi dan lebih menganakemaskan grup musik yang malah bukan milik Jember sendiri.

Selain itu, jika pada awal-awal kejayaan musik patrol banyak event budaya, sekarang bisa dikatakan melempem. Tidak ada kegiatan khusus yang bertajuk musik ini. Misalnya saja pertunjukan atau lomba. "Terakhir ada pawai budaya, terakhir 2018, dan sampai saat ini sudah tidak pernah ada lagi," ucap pria asal Tegal Besar itu.

Minimnya pengakuan juga semakin terbukti dengan tidak diberikannya fasilitas atau kebijakan agar musik ini memiliki generasi yang pasti. Didik berharap, musik patrol bisa menjadi bagian dari ekstrakulikuler sekolah di Jember. "Hanya ada satu sekolah yang mau menjadikan musik patrol sebagai ekstrakulikuler," tambahnya.

Kesadaran itu dirasa sangat perlu, mengingat tak banyak kabupaten atau kota yang memiliki kesenian khas. Anak-anak sudah harus mulai dikenalkan agar tidak merasa asing apalagi gengsi dengan musik asli daerahnya. Sebab, bisa mengangkat nama Jember dan lebih dikenal oleh pihak luar.

Namun, Didik mengatakan bahwa Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Jember sampai saat ini masih merangkul. Jika ada agenda pemkab, Disparbud kerap mengundang musik patrol untuk tampil. Walaupun dukungan secara morel dan materiel belum dirasakannya. “Harapan ke depan, musik patrol bisa dikenal luas dan menjadi ekstrakurikuler di sekolah-sekolah,” ucapnya. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #musik #Jember Hari Ini