Sri Agustini menjadi salah satu warga yang fokus menggarap bisnis di rumahnya. Perempuan ini memiliki skill khusus, yaitu membuat ecoprint dengan dedaunan di sekitar rumahnya. “Ini tidak masuk kategori batik, karena kalau batik syaratnya harus pakai canting. Jadi, ini dinamakan ecoprint. Yaitu mentransfer warna dan gambar daun ke kain,” katanya.
Siang itu, ibu empat anak tersebut berada di rumahnya bersama putrinya. Saat Jawa Pos Radar Jember datang ke rumahnya, Sri tengah mempersiapkan pembuatan ecoprint. Dia membeber sebuah kain putih dan menyiapkan daun-daun. Di situ juga ada beberapa bunga yang juga dipersiapkan untuk membuat ecoprint.
Perempuan yang tampak sibuk memilih daun dan bunga itu menyebut, ada dua konsep yang dapat dipelajari untuk membuat ecoprint. Pertama, yakni transfer warna dan gambar dengan cara menumbuk daun. Sementara, yang kedua adalah dengan cara mengukusnya seperti orang memasak air.
“Teknisnya bisa dilakukan dengan berbagai cara. Asalkan tidak sampai merusak daun dan mempertahankan warna daun yang ditransfer ke kain,” papar perempuan yang akrab dipanggil Ibu Citra itu.
Untuk bisa mentransfer warna dan gambar daun ke kain, menurut dia, perlu ketelitian dan kehati-hatian. Jika tidak, maka warna serta gambar daun menjadi kurang sempurna. “Kalau ditumbuk, harus dipastikan betul warna dan gambar daunnya sama. Kalau dikukus, butuh waktu lama. Sekitar empat jam,” bebernya.
Pembuatan ecoprint, lanjut Sri, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Setelah warna dan gambar daun ditransfer ke kain, masih ada proses selanjutnya, yaitu menjadikan warna tersebut menjadi permanen. Bisa dengan memberikan kapur dan tawas. “Setelah itu, didiamkan sekitar enam hari agar warna dan gambar tidak luntur,” kata perempuan yang tinggal di Perumahan Graha Citra Mas, Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, itu.
Dari cerita Agustini, pembuatan ecoprint membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Maklum, daun yang ditransfer ke kain sebisa mungkin memiliki warna berbeda serta gambar daun yang sama.
“Semua daun bisa dipakai. Hijau menjadi hijau, ungu menjadi ungu, kuning menjadi kuning, merah menjadi merah, dan seterusnya. Akan tetapi, tidak semua daun menghasilkan warna yang sama. Ada beberapa daun yang tidak membohongi hasil,” ucapnya.
Daun-daun yang dapat dipakai dan tidak membohongi hasil yaitu ada daun lanang, pucuk jati, serta masih banyak lagi. “Ada juga daun yang hijau, menjadi agak kuning. Jadi, semua daun saya coba. Dengan menggeluti ecoprint ini, saya pun bisa belajar nama-nama daun,” ungkapnya.
Keunggulan ecoprint ini, kata dia, tidak akan ada karya yang sama. Sekalipun satu kain dibuat dengan daun-daun yang sama, namun hasilnya akan berbeda. Sebab, setiap lembar daun tidak akan dapat dipakai dua kali dalam pembuatan ecoprint. Baik dengan cara ditumbuk maupun dikukus.
Alhasil, karya produksi kain ecoprint benar-benar menjadi limited edition untuk satu kain itu saja. “Harganya rata-rata di atas Rp 200 ribu. Kalau pembuatannya bagus, harganya bisa puluhan juta. Tetapi untuk di Jember, masih sangat jarang yang harganya tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, di balik pembuatan ecoprint, menurut Agustini, tidak ada limbah yang bakal muncul dan mengganggu ekosistem. Betapa tidak, setiap daun yang sudah dipakai untuk mentransfer warna dan gambar ke kain, bisa dipakai untuk pupuk. “Tanaman di sekitar rumah saya semuanya saya pupuk dengan sisa daun yang dipakai ecoprint,” bebernya.
Perempuan ini pun mengaku akan terus fokus menggeluti ecoprint dengan nama UKM Citra Anugerah. Bahkan, dia bercita-cita memiliki galeri khusus produksi kain ecoprint.
“Semoga usaha ini jalan. Di Jember ada beberapa yang sudah jalan. Dulu saya ikut pelatihan-pelatihan dan sekarang sudah bisa jalan. Untuk pembuatannya, kadang masih bergantung pada rasa mood atau tidak. Karena ini juga berpengaruh pada bagus dan tidaknya proses ecoprint. Ke depan insyaallah akan konsisten,” pungkasnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Nur Hariri
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : Safitri