BACA JUGA : Pengemis Lampu Merah Pakai Trik Pincang hingga Bawa Anak
Pengasuh Pesantren Al Gofilin, Baiquni Purnomo, menjelaskan, malam tersebut tidak hanya berpotensi turun di 10 malam terakhir bulan puasa. Malam penuh rahmat itu bisa turun kapan pun selama masih memasuki bulan suci Ramadan. “Perlu digarisbawahi. Jadi, mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan di setiap malam,” ungkap pria yang akrab dipanggil Gus Baiqun itu.
Sesuai dengan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, malam Lailatul Qadar biasanya akan turun di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Hal itu sesuai dengan ayat suci Alquran. “Sesungguhnya ada suatu malam yang namanya Lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan,” demikian kata Gus Baiqun.
Menurutnya, makna dari malam tersebut adalah sebuah permintaan tambahan dari Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT. “Maksud dan tujuan adanya malam yang mulia itu adalah sebagai ibadah tambahan. Sebab, umur umat Nabi Muhammad lebih singkat dibandingkan dengan nabi yang lain,” ungkapnya.
Hal itu menjadi sebuah momentum yang berharga bagi umat muslim di seluruh dunia agar bisa meraih malam yang penuh ampunan tersebut. Dikatakan, dulu ada seseorang yang diyakini menyandang gelar nabi bernama Syam’un (atau disebut Nabi Samson). Nabi tersebut dianugerahi oleh Allah memiliki kekuatan yang sangat besar. Sehingga Syam’un bisa memerangi pasukan orang kafir seorang diri.
Nabi pada saat diceritakan kisah Syam’un oleh malaikat, maka berdoa bahwa umat muslim tidak mungkin bisa beribadah seperti Syam’un. Maka, turunlah ayat yang menyebut ada sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan di bulan Ramadan. “Maka dari itu, atas jasa Nabi kita, umat muslim diberikan sebuah momentum yang pahalanya bisa melebihi Nabi Syam’un,” pungkasnya. (faq/c2/nur) Editor : Safitri