Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menelusuri Jejak Mbah Priok: Ulama, Makam, dan Warisan Ziarah

R
Suasana Haul Mbah Priok - Sumber foto: Media budaya Indonesia
Suasana Haul Mbah Priok - Sumber foto: Media budaya Indonesia

RADAR JEMBER - Nama Mbah Priok mungkin tak asing di telinga warga Jakarta Utara dan para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.


Advertisement

Makamnya yang terletak di kawasan Koja, Tanjung Priok, selalu ramai diziarahi, terutama saat haul tahunan digelar.

Namun siapa sebenarnya Mbah Priok?

Mbah Priok adalah panggilan akrab dari Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman.

Advertisement

Ia dikenal sebagai pendakwah yang datang ke Batavia (sekarang Jakarta) pada abad ke-18 untuk menyebarkan ajaran Islam.

Saat datang, beliau membawa peralatan shalat yang disimpan dalam periuk tanah liat, dan dari sinilah nama "Priok" berasal.

Periuk tersebut dipercaya warga memiliki nilai spiritual tinggi dan menjadi simbol keberkahan.

Advertisement

Habib Hasan dikenal sebagai sosok alim yang rendah hati, serta aktif mengajarkan Islam kepada penduduk lokal di wilayah pesisir.

Menurut cerita turun-temurun, Mbah Priok wafat dan dimakamkan di kawasan Tanjung Priok, namun sempat beberapa kali direlokasi karena pembangunan pelabuhan.

Pada awal 2000-an, sempat terjadi konflik antara warga dan aparat saat makam Mbah Priok hendak dipindahkan.

Warga menolak pemindahan karena makam tersebut dianggap keramat dan menjadi tempat ziarah penting.

Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Makam Mbah Priok pada tahun 2010, yang menewaskan beberapa orang dan memicu gelombang protes.

Akhirnya, pemerintah memutuskan untuk tetap membiarkan makam berada di lokasi sekarang dan menjadikannya situs ziarah religius.

Kini, makam Mbah Priok tidak hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi warga sekitar melalui wisata religi.

Ziarah ke makam ini tidak pernah sepi, terutama pada malam Jumat dan bulan-bulan tertentu seperti Maulid dan haul.

Haul Mbah Priok biasanya digelar pada 1–2 September setiap tahun, dihadiri ribuan jamaah dari berbagai wilayah, bahkan luar Jawa.

Mereka datang untuk mendoakan, berziarah, dan mendengarkan ceramah dari ulama kharismatik.

Beberapa tokoh nasional, termasuk pejabat dan dai ternama, tercatat pernah menghadiri haul ini sebagai bentuk penghormatan pada ulama terdahulu.

Tradisi haul ini memperkuat hubungan spiritual antara generasi sekarang dengan ulama masa lalu yang telah berjasa dalam dakwah Islam.

Bagi sebagian orang, ziarah ke makam Mbah Priok bukan hanya soal tradisi, tapi juga tentang mengenang perjuangan menyebarkan Islam secara damai.

Penulis: Ailatul Miza Zulfa

Advertisement

Artikel Terkait

Balikkan Persepsi, hingga Sentimen Negatif, Strategi Media PTPN I Regional 5 Diganjar Penghargaan Nasional

Balikkan Persepsi, hingga Sentimen Negatif, Strategi Media PTPN I Regional 5 Diganjar Penghargaan Nasional

Capaian ini sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan media relations yang profesional dalam membangun reputasi perusahaan.

Negara Vs Swasta! Perang Layanan Jasa Transportasi Rute Jember - Jakarta Makin Sengit

Negara Vs Swasta! Perang Layanan Jasa Transportasi Rute Jember - Jakarta Makin Sengit

Langkah agresif pemerintah melalui ekspansi besar-besaran moda transportasi pelat merah kini bersaing ketat dengan kelangsungan bisnis swasta yang terancam gulung tikar akibat okupansi yang jeblok

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer