alexametrics
23.8 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Menanti Maju Mundur Pemberangkatan Kereta Api

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Larangan mudik yang digelorakan pemerintah guna mencegah terjadinya gelombang susulan pandemi Covid-19 nyatanya berdampak pada banyak orang. Khususnya bagi para pelanggan kereta api. Pengguna jasa angkatan darat satu jalur tersebut dipastikan gigit jari.

Yulias Anggraeni, misalnya. Karena ada larangan mudik pada Ramadan tahun lalu, dirinya tidak bisa pulang kampung. Sebab, kereta api sempat tidak beroperasi untuk beberapa waktu. Menurut dia, akan sangat disayangkan jika dua kali berturut-turut hanya bisa mendengar takbir di perantauan.

Moda transportasi lain pun tak bisa dia pilih, dengan alasan keamanan. Banyak stigma negatif yang dia terima terkait dengan angkutan bus. Mulai dari banyak copet, macet, hingga mengulur waktu untuk mendapatkan penumpang. “Karena itu, saya sama sekali belum pernah naik bus,” ungkap wanita yang bekerja di Jalan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur, tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bagi wanita berusia 26 tahun itu, perjalanan dengan menggunakan kereta api lebih praktis jika dibandingkan dengan angkutan lain. Meski begitu, pihaknya masih berharap pembatasan dapat berjalan dengan beberapa kelonggaran. “Misalnya, boleh lewat asalkan membawa surat rapid antigen atau swab test,” ujar wanita asal Kecamatan Gumukmas itu.

Vice President KAI Daop 9 Jember Broer Rizal menerangkan bahwa pihaknya bakal mengikuti segala peraturan yang dibuat pemerintah. Baik keputusan Kementerian Perhubungan maupun satgas Covid-19. “Jadi, kalau memang kereta api tidak boleh beroperasi sama sekali, tentu kami tak akan mengoperasikannya,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Larangan mudik yang digelorakan pemerintah guna mencegah terjadinya gelombang susulan pandemi Covid-19 nyatanya berdampak pada banyak orang. Khususnya bagi para pelanggan kereta api. Pengguna jasa angkatan darat satu jalur tersebut dipastikan gigit jari.

Yulias Anggraeni, misalnya. Karena ada larangan mudik pada Ramadan tahun lalu, dirinya tidak bisa pulang kampung. Sebab, kereta api sempat tidak beroperasi untuk beberapa waktu. Menurut dia, akan sangat disayangkan jika dua kali berturut-turut hanya bisa mendengar takbir di perantauan.

Moda transportasi lain pun tak bisa dia pilih, dengan alasan keamanan. Banyak stigma negatif yang dia terima terkait dengan angkutan bus. Mulai dari banyak copet, macet, hingga mengulur waktu untuk mendapatkan penumpang. “Karena itu, saya sama sekali belum pernah naik bus,” ungkap wanita yang bekerja di Jalan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur, tersebut.

Bagi wanita berusia 26 tahun itu, perjalanan dengan menggunakan kereta api lebih praktis jika dibandingkan dengan angkutan lain. Meski begitu, pihaknya masih berharap pembatasan dapat berjalan dengan beberapa kelonggaran. “Misalnya, boleh lewat asalkan membawa surat rapid antigen atau swab test,” ujar wanita asal Kecamatan Gumukmas itu.

Vice President KAI Daop 9 Jember Broer Rizal menerangkan bahwa pihaknya bakal mengikuti segala peraturan yang dibuat pemerintah. Baik keputusan Kementerian Perhubungan maupun satgas Covid-19. “Jadi, kalau memang kereta api tidak boleh beroperasi sama sekali, tentu kami tak akan mengoperasikannya,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Larangan mudik yang digelorakan pemerintah guna mencegah terjadinya gelombang susulan pandemi Covid-19 nyatanya berdampak pada banyak orang. Khususnya bagi para pelanggan kereta api. Pengguna jasa angkatan darat satu jalur tersebut dipastikan gigit jari.

Yulias Anggraeni, misalnya. Karena ada larangan mudik pada Ramadan tahun lalu, dirinya tidak bisa pulang kampung. Sebab, kereta api sempat tidak beroperasi untuk beberapa waktu. Menurut dia, akan sangat disayangkan jika dua kali berturut-turut hanya bisa mendengar takbir di perantauan.

Moda transportasi lain pun tak bisa dia pilih, dengan alasan keamanan. Banyak stigma negatif yang dia terima terkait dengan angkutan bus. Mulai dari banyak copet, macet, hingga mengulur waktu untuk mendapatkan penumpang. “Karena itu, saya sama sekali belum pernah naik bus,” ungkap wanita yang bekerja di Jalan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya Timur, tersebut.

Bagi wanita berusia 26 tahun itu, perjalanan dengan menggunakan kereta api lebih praktis jika dibandingkan dengan angkutan lain. Meski begitu, pihaknya masih berharap pembatasan dapat berjalan dengan beberapa kelonggaran. “Misalnya, boleh lewat asalkan membawa surat rapid antigen atau swab test,” ujar wanita asal Kecamatan Gumukmas itu.

Vice President KAI Daop 9 Jember Broer Rizal menerangkan bahwa pihaknya bakal mengikuti segala peraturan yang dibuat pemerintah. Baik keputusan Kementerian Perhubungan maupun satgas Covid-19. “Jadi, kalau memang kereta api tidak boleh beroperasi sama sekali, tentu kami tak akan mengoperasikannya,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/