alexametrics
31.6 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pandemi Tak Boleh Kurangi Kekhusyukan Ibadah

Tetap Guyub di Antara Perbedaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi masyarakat Islam di seluruh dunia untuk berlomba-lomba menjalankan ibadah. Bahkan ibadah yang hukumnya sunah sekalipun, menjadi berlipat ganda pahalanya jika dilakukan di bulan suci ini. Karena itu, pandemi seakan tak memengaruhi semangat masyarakat untuk beribadah.

Tak terkecuali umat muslim di Jember. Meskipun Ramadan kali ini masih dalam suasana pandemi, namun hal itu dianggap tidak mengurangi nuansa khidmat pelaksanaan ibadah. Mereka sepakat, Ramadan harus memunculkan spirit kebersamaan dalam hal menjalankan ibadah, pun dalam sosial keagamaan lainnya.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember Kusno mengungkapkan, pelaksanaan ibadah di momen Ramadan tidak menjadi masalah sekalipun berada di tengah kondisi pandemi. Menurut dia, prinsip dalam menjalankan ibadah Ramadan di tengah pandemi saat ini perlu tetap berdasar menjaga jiwa atau hifdzun nafs, meminimalisasi kemungkinan terburuk. “Karenanya, kami memberikan imbauan kepada warga kami, agar amaliyah selama Ramadan tetap berjalan,” ujar Kusno.

Mobile_AP_Rectangle 2

Berbagai imbauan itu, kata dia, tak jauh berbeda seperti halnya yang sering disuarakan sejak sebelum Ramadan. Yakni menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan hand sanitizer di musala atau masjid, membiasakan bermasker dalam berbagai aktivitas, dan sederet kebiasaan baru lainnya. “Ramadan menjadi momen meningkatkan ketakwaan kita. Maka mari kita jalankan segala perintah, larangan kita tinggalkan, dan imbauan kita ikuti sepenuh hati,” imbuhnya.

Selain itu, dalam pelaksanaan Ramadan saat ini, dia juga mengharapkan masyarakat agar dewasa menyikapi berbagai perbedaan. Terlepas perbedaan itu dalam berbagai pelaksanaan, apakah lebih awal, atau menyusul. “Setiap perbedaan dalam amaliyah tidak perlu dibesar-besarkan, itu rahmat. Karena semuanya memiliki dasar dan pemahaman masing-masing,” pesannya.

Dia juga mengharapkan, sekalipun nanti dalam akhir Ramadan hingga memasuki Lebaran, perbedaan pelaksanaan salat Idul Fitri pun tak perlu dipermasalahkan. Pihaknya meyakini, sejatinya perbedaan bukanlah suatu masalah. Karenanya, perlu saling mendukung dan menghargai.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi masyarakat Islam di seluruh dunia untuk berlomba-lomba menjalankan ibadah. Bahkan ibadah yang hukumnya sunah sekalipun, menjadi berlipat ganda pahalanya jika dilakukan di bulan suci ini. Karena itu, pandemi seakan tak memengaruhi semangat masyarakat untuk beribadah.

Tak terkecuali umat muslim di Jember. Meskipun Ramadan kali ini masih dalam suasana pandemi, namun hal itu dianggap tidak mengurangi nuansa khidmat pelaksanaan ibadah. Mereka sepakat, Ramadan harus memunculkan spirit kebersamaan dalam hal menjalankan ibadah, pun dalam sosial keagamaan lainnya.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember Kusno mengungkapkan, pelaksanaan ibadah di momen Ramadan tidak menjadi masalah sekalipun berada di tengah kondisi pandemi. Menurut dia, prinsip dalam menjalankan ibadah Ramadan di tengah pandemi saat ini perlu tetap berdasar menjaga jiwa atau hifdzun nafs, meminimalisasi kemungkinan terburuk. “Karenanya, kami memberikan imbauan kepada warga kami, agar amaliyah selama Ramadan tetap berjalan,” ujar Kusno.

Berbagai imbauan itu, kata dia, tak jauh berbeda seperti halnya yang sering disuarakan sejak sebelum Ramadan. Yakni menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan hand sanitizer di musala atau masjid, membiasakan bermasker dalam berbagai aktivitas, dan sederet kebiasaan baru lainnya. “Ramadan menjadi momen meningkatkan ketakwaan kita. Maka mari kita jalankan segala perintah, larangan kita tinggalkan, dan imbauan kita ikuti sepenuh hati,” imbuhnya.

Selain itu, dalam pelaksanaan Ramadan saat ini, dia juga mengharapkan masyarakat agar dewasa menyikapi berbagai perbedaan. Terlepas perbedaan itu dalam berbagai pelaksanaan, apakah lebih awal, atau menyusul. “Setiap perbedaan dalam amaliyah tidak perlu dibesar-besarkan, itu rahmat. Karena semuanya memiliki dasar dan pemahaman masing-masing,” pesannya.

Dia juga mengharapkan, sekalipun nanti dalam akhir Ramadan hingga memasuki Lebaran, perbedaan pelaksanaan salat Idul Fitri pun tak perlu dipermasalahkan. Pihaknya meyakini, sejatinya perbedaan bukanlah suatu masalah. Karenanya, perlu saling mendukung dan menghargai.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi masyarakat Islam di seluruh dunia untuk berlomba-lomba menjalankan ibadah. Bahkan ibadah yang hukumnya sunah sekalipun, menjadi berlipat ganda pahalanya jika dilakukan di bulan suci ini. Karena itu, pandemi seakan tak memengaruhi semangat masyarakat untuk beribadah.

Tak terkecuali umat muslim di Jember. Meskipun Ramadan kali ini masih dalam suasana pandemi, namun hal itu dianggap tidak mengurangi nuansa khidmat pelaksanaan ibadah. Mereka sepakat, Ramadan harus memunculkan spirit kebersamaan dalam hal menjalankan ibadah, pun dalam sosial keagamaan lainnya.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember Kusno mengungkapkan, pelaksanaan ibadah di momen Ramadan tidak menjadi masalah sekalipun berada di tengah kondisi pandemi. Menurut dia, prinsip dalam menjalankan ibadah Ramadan di tengah pandemi saat ini perlu tetap berdasar menjaga jiwa atau hifdzun nafs, meminimalisasi kemungkinan terburuk. “Karenanya, kami memberikan imbauan kepada warga kami, agar amaliyah selama Ramadan tetap berjalan,” ujar Kusno.

Berbagai imbauan itu, kata dia, tak jauh berbeda seperti halnya yang sering disuarakan sejak sebelum Ramadan. Yakni menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan hand sanitizer di musala atau masjid, membiasakan bermasker dalam berbagai aktivitas, dan sederet kebiasaan baru lainnya. “Ramadan menjadi momen meningkatkan ketakwaan kita. Maka mari kita jalankan segala perintah, larangan kita tinggalkan, dan imbauan kita ikuti sepenuh hati,” imbuhnya.

Selain itu, dalam pelaksanaan Ramadan saat ini, dia juga mengharapkan masyarakat agar dewasa menyikapi berbagai perbedaan. Terlepas perbedaan itu dalam berbagai pelaksanaan, apakah lebih awal, atau menyusul. “Setiap perbedaan dalam amaliyah tidak perlu dibesar-besarkan, itu rahmat. Karena semuanya memiliki dasar dan pemahaman masing-masing,” pesannya.

Dia juga mengharapkan, sekalipun nanti dalam akhir Ramadan hingga memasuki Lebaran, perbedaan pelaksanaan salat Idul Fitri pun tak perlu dipermasalahkan. Pihaknya meyakini, sejatinya perbedaan bukanlah suatu masalah. Karenanya, perlu saling mendukung dan menghargai.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/