alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Cahaya Puasa di Balik Pandemi Korona

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Selalu ada celah terbaik dalam situasi serumit apa pun.” Inilah salah satu kata mutiara yang disampaikan Ustad Abu Hasanudin dalam tausiah Ramadan di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin (3/5). Ya, dalam puasa Ramadan kali ini, seluruh warga lagi-lagi dihadapkan pada kondisi sulit. Salah satunya karena adanya pembatasan-pembatasan lantaran wabah korona yang tak kunjung pergi. Mudik dilarang, kegiatan dibatasi, dan perekonomian masih cukup sulit.

Dalam menghadapi situasi yang demikian, pria yang akrab disapa Ustad Abu Hasan ini menyebut, pasti ada celah untuk keluar dari masa sulit. “Kondisi yang rumit pasti bisa diselesaikan dengan prestasi,” ucapnya.

Dia mencontohkan, puasa Ramadan yang masih dibayangi dengan korona, tetap banyak melahirkan peluang-peluang bagi banyak orang. Momen Ramadan, menurutnya, banyak memberi keberkahan walau sifatnya musiman. “Momen yang baik ini harus dimanfaatkan. Apa saja yang nilainya memberi manfaat, pasti akan bisa bertahan. Sebaliknya, yang tidak bermanfaat pasti tenggelam,” jelasnya.

Untuk itulah, usaha dan doa harus terus dilakukan. Abu Hasan menyebut, orang yang terus bekerja memang lelah. Tetapi demikian, orang yang tidak bekerja pun akan merasakan capek. “Pada zaman Nabi Muhammad, perang juga pernah dilakukan pada saat puasa. Ini mencontohkan bahwa bulan puasa adalah bulan perjuangan,” cetusnya.

Selain itu, lanjut dia, semua proses pasti menuju hal yang baik. Dirinya mencontohkan kisah Nabi Musa yang juga pernah mengalami kesulitan. “Pada bulan puasa ini banyak orang yang bisa, mengambil berkah, maka manfaatkan momen puasa ini dengan baik,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/