Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Makna Filosofis Dibalik Tradisi Beli Baju Baru Menjelang Lebaran, Masih Relevankah di Tahun 2025 Sekarang Ini?

Radar Digital • Kamis, 27 Maret 2025 | 20:10 WIB
BAJU BARU: Sejumlah anak saat mendatangi salah satu pusat perbelanjaan di Jember kota, belum lama ini.
BAJU BARU: Sejumlah anak saat mendatangi salah satu pusat perbelanjaan di Jember kota, belum lama ini.

radar jember - Membeli baju menjelang perayaan hari raya Idul Fitri merupakan suatu kebiasaan yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia.

Biasanya, di akhir-akhir bulan Ramadhan, pusat perbelanjaan akan dipadati para pembeli yang ingin berburu baju lebaran.

Bahkan, penjual pakaian juga tak segan-segan memberikan diskon besar untuk menarik minat pembeli. Ditambah lagi, dengan tren-tren baju lebaran viral yang sangat bervariasi setiap tahunnya membuat masyarakat berbondong-bodong membeli baju Lebaran. 

Fenomena ini bukanlah sekadar untuk mempercantik diri atau tampil fashionable di hari kemenangan. akan tetapi terdapat makna filosofis di balik tradisi membeli baju lebaran yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia.

Dikutip dari media nasional, ternyata tradisi ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh  Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, tradisi baju baru saat perayaan hari raya Idul Fitri sudah ada sejak masa Kesultanan Banten tahun 1959. 

Pada saat itu, membeli pakaian baru untuk merayakan Lebaran hanya bisa dilakukan oleh kalangan kesultanan saja. Sedangkan, untuk rakyat biasa, mereka harus menjahitnya sendiri.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini terus terus dilakukan, bahkan sampai masa kolonial. Dalam buku berjudul Islam di Hindia Belanda karya Snouck Hurgronje, tertulis bahwa kebiasaan membeli pakaian baru untuk idul Fitri di Batavia waktu itu, mengingatkannya pada perayaan tahun baru di Eropa.

Di era modern ini, membeli baju baru menjelang perayaan Idul Fitri sudah menjadi bagian dari budaya yang melambangkan semangat baru.

Pakaian yang digunakan saat momen lebaran adalah hal yang penting dan merupakan simbol kesucian.

Menurut Agus Aris Munandar, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, pakaian yang digunakan saat perayaan Idul Fitri ini  adalah tanda dari manusia yang suci dan bersih dari dosa setelah menjalankan sebulan penuh puasa Ramadhan atau dapat dikatakan sebagai simbol dari umat islam yang kembali fitri.

Tak hanya itu, tradisi memakai baju baru saat momen Lebaran juga mengandung makna spiritual di dalamnya. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Ali Ra, 

"Pada setiap hari raya, Rasulullah SAW menyuruh kami agar mengenakan pakaian terbaik yang kami miliki, memakai minyak wangi terbaik yang kami punyai, dan menyembelih kurban hewan termahal yang mampu kami sediakan." (HR AI-Hakim).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk menggunakan pakaian terbaik saat merayakan hari kemenangan Idul Fitri. 

Berawal dari anjuran memakai pakain yang bersih, rapi, dan wangi, lalu berkembang menjadi tradisi memakai baju baru di saat Lebaran.

Bahkan,beberapa pendapat juga mengatakan bahwa memakai pakaian baru merupakan sunnah.

Disebutkan pakaian baru di sini karena pakaian baru biasanya identik dengan bersih dan rapi.

Pada momen yang fitri dan penuh kebahagiaan, baju baru seringkali menjadi sebuah harapan baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tak hanya berkaitan dengan penampilan fisik, membeli baju baru juga bisa menjadi bentuk rasa syukur dan cara untuk mengapresiasi diri yang membuat seseorang menjadi lebih bahagia, terlebih lagi setelah menahan hawa nafsu selama Ramadhan.

Meskipun menjadi tren di kalangan masyarakat modern saat ini, membeli baju baru bukanlah suatu kewajiban, akan tetapi sebuah tradisi dan budaya yang dilaksanakan secara turun temurun dan di dalamnya terdapat makna filosofis yang mendalam sehingga patut untuk dihargai.

Editor : M. Ainul Budi
#tradisi lebaran #baju lebaran