Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Menggapai Mimpi Bersama Bank Jatim

Mampu Mandiri Melalui Bisnis Cilok

Minggu, 12 Aug 2018 18:33 | editor : Dzikri Abdi Setia

bank jatim, cilok edy,

SEMAKIN MANDIRI: Salah satu rombong cilok Edi yang berada di Jalan Kalimantan, daerah kampus Universitas Jember (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Siapa yang tidak kenal dengan cilok edi, cilok pertama yang ada di Jember. Keterbatasan ekonomi membuatnya memulai bisnis makanan ini. Bermodal pinjaman  uang senilai Rp 15 juta dari Bank Jatim Cabang Jember 

Bagus Supriadi, Jember

Di Jember, siapa yang tidak kenal dengan kuliner yang disenangi anak-anak hingga orang tua ini. Namanya cilok edi. Bisnis yang digeluti  oleh  Harsono dan Siti Fatimah, warga Kelurahan Tegalgede Kecamatan Sumbersari. Tak banyak yang tau, awalnya bisnis cilok ini hanya bermodal Rp 150 ribu.

bank jatim, cilok edy,

SUKSES BERSAMA BANK JATIM: Harsono saat menerima hadiah undian berupa uang Rp 50 juta dari Bank Jatim Jember (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Ceritanya, pasangan suami istri itu mulai menjual cilok tahun 1997 lalu. Idenya berawal dari sang ayah yang berjualan cilok di Bali. “Waktu itu di Jember  masih belum ada cilok daging,” kata Harsono.

Harsono sendiri merupakan seorang tukang ojek dengan sepeda kredit. Karena tidak mampu membayar, akhirnya sepeda itu diambil dan uang mukanya dikembalikan. Kemudian, uang muka itu dibelikan becak, jadilah suaminya sebagai abang becak.

Namun demikian, penghasilan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun dia juga sebagai honorer pasukan kuning Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya. 

Setelah bapaknya pulang dari Bali tahun 1997. Sang istri menirukan bisnis bapaknya, yakni cilok daging. Di Jember sendiri hanya  ada  cilok tepung, sedangkan yang dicampur dengan daging tidak ada. “Modalnya hanya Rp 150 ribu, Rp 100 ribu untuk gerobak, Rp 50 ribu untuk daging,” tambah Fatimah.

Waktu itu, kenang ibu tiga anak tersebut, dirinya nyellep sendiri daging ke Kelurahan Kreongan setengah kilogram, kemudian diolah sampai menjadi cilok. Sedangkan yang memasarkan cilok ke berbagai tempat adalah suaminya. “ternyata daripada becak, lebih baik jual cilok,” ujarnya.

Setiap pagi sampai malam, Harsono berjualan keliling alun-alun Jember, dari Kelurahan Antirogo hingga Kaliwates. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan, sebab jualan tidak pernah habis. Bahkan, dulu ketika menjual ke sekolah, wali murid tidak memperbolehkan anaknya karena makanan baru.

Tak kunjung mendapatkan hasil yang maksimal, Harsono mulai patah arang. Sebab, penghasilan tak sesuai dengan harapan. Akhirnya dia memilih jadi abang becak lagi selama dua bulan. “Namun Saya minta suami agar berjualan cilok lagi, mungkin rejekinya dari sana,” tutur Fatimah.

Waktu itu, penghasilan becak hanya Rp 5000. Sedangkan berjualan cilok Rp 10 ribu. Itu kerja dari dua orang. Sehingga hasilnya sama saja antara becak dan jual cilok. Karena mendapat dorongan dari istri untuk bersabar, Harsono kembali menjual cilok sampai sekarang.

Ada air ada ikan, ada usaha, ada rejeki, peribahasa itu tepat untuk menggambarkan Harsono dan Siti fatimah. Cilok Edi semakin dikenal. Orang tua siswa yang awalnya tak mau, kini mulai ketagihan karena memiliki rasa yang berbeda.

Harsono semakin semangat, setiap pagi pukul 09.00 dia menjual cilok di SD, jam 13.00 di SMP, lalu sore hari berkeliling di daerah perkotaan. Setahun berlalu, permintaan semakin banyak. “Akhirnya kami mengajak karyawan untuk ikut bekerja,” akunya.

Selain itu, daging yang diselip terus bertambah setiap waktu, dari 1,5 kilogram, sekarang menjadi 25 kilogram. Bahkan, memasang telpon rumah, ketika cilok sudah habis, Harsono tinggal menelpon istrinya untuk membuat lagi. “Tahun 2000-an itu mulai dikenal, hingga ambil tenaga orang lain karena sudah tidak nutut,” paparnya.

Sejak saat itulah, cilok Edi mulai naik daun. Dia memilih memberi nama cilok Edi karena mudah diingat, meskipun nama itu tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Permintaan datang dari berbagai daerah untuk ikut menjualkan makanan tersebut. Mulai dari Probolinggo, Bondowoso dan Lumajang.

Saat itu, Harsono hanya memiliki satu rombong keliling untuk menjual cilok. Dirinya ingin menambah armada, namun tidak memiliki modal. Akhirnya dia memberanikan diri mengajukan kredit uang  pada Bank Jatim. “Waktu itu pinjam Rp 15 juta,” akunya. 

Kredit itu diangsur selama dua tahun dengan cicilan Rp 700 perbulan,  bunga  0,5 persen. Dari uang pinjaman itu, Harsono menambah rombongnya menjadi lima. Tersebar di beberapa tempat seputar kampus. Mulai dari Jalan Jawa, Jalan Kalimantan hingga Jalan Karimata. 

Ternyata, rezeki tidak lari. Dia mampu membayar  cicilan itu dengan lancar hingga lunas. Bisnisnya pun terus berkembang. bahkan sampai memiliki sepuluh rombong. “Namun sekarang hanya tinggal enam rombong yang ada di sekitar kampus,” ucapnya. 

Satu hari, kata dia, omset jualan itu mampu mencapai penghasilan Rp 6 juta. “Sekarang sudah semakin banyak yan jualan cilok, itu tantangannya, padahal dulu bisa dapat Rp 10 juta sehari,” imbuhnya.

Semakin meningkatkan persaingan bisnis cilok, Siti Fatimah selalu mengawasi proses pembuatan cilok agar mutunya tidak  berubah. Mulai dari rasa, besar kecilnya cilok dan lainnya. Selain itu, juga mengatur keuangan yang diperoleh dari dari penjualan cilok.

Bahkan, uang itu terus diputar agar memiliki penghasilan lain. Seperti membeli rumah untuk dijadikan rumah kontrakan. Kemudian, membeli rumah kos dan sawah. Bahkan dia sempat pinjam uang lagi ke Bank Jatim Jember untuk membeli sawah senilai Rp 150 juta. 

“uang itu untuk beli sawah, cicilan Rp 2.400 ribu perbulan selama 10 tahun,” akunya. Akhirnya, sawah itu dikelola agar bisa menghasilkan uang tambahan. Bahkan, rumah kos dan kontrakan sudah memiliki lebih dari satu. 

Keberuntungan Harsono memanfaatkan Bank Jatim tak hanya selesai disitu. Dia menjadi nasabah yang mujur. Sebab, terpilih meraih undian bersama nasabah lainnya, yakni Kartono Arif. Tak tanggung, total hadiah senilai Rp 150 juta. Kartono meraih undian  Rp 100 juta dan Harson omendapatkan Rp 50 juta. “Ini sangat membantu kami mengembangkan usaha,” ucapnya.

Pimpinan Kantor Cabang Bank Jatim Jember, M. Islah Noer mengatakan undian  itu dilakukan persemester. Hadiah pertama setiap cabang Rp 100 juta, sedangkan hadiah kedua Rp 50 juta. “Undian itu dilakukan denga cara acak melalui komputer,” tandasnya. 

(jr/gus/das/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia