Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Resah Kabar Beli Gas Pakai KTP

Selasa, 31 Jul 2018 21:30 | editor : Dzikri Abdi Setia

elpiji, mahal, langka, KTP,

Dwi Siswanto/Radar Jember (PERMINTAAN TINGGI: Aktivitas di salah satu agen elpiji.)

Sulitnya mendapat elpiji tiga kilogram (tabung melon) rupanya membuat masyarakat ketar-ketir. Apalagi, sempat muncul kabar bahwa untuk membeli elpiji tiga kilogram, harus menggunakan fotokopi KTP. 

Seperti yang terjadi di kawasan Jember Lor, Patrang. Beredar kabar bahwa pembelian elpiji bersubsidi itu dibatasi. Bahkan, untuk bisa mendapatkannya  harus menggunakan fotokopi KTP. Tak pelak, kabar ini pun membuat masyarakat gelisah.

Alfian, pemilik warung di Patrang membenarkan kabar itu. Dia mengaku mendapat laporan dari warga jika pembelian elpiji 3 kilogram harus menggunakan fotokopi KTP. "Saya tadi dikabari di warung. Apakah ini benar? Kok tidak ada sosialisasi dari pemerintah jika ada program ini," tuturnya yang juga merasa kebingungan. 

Dirinya berharap ada penjelasan terkait hal itu. Sebab, masyarakat khawatir kondisi sulitnya elpiji melon ini dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab. “Fotokopi KTP nanti dikhawatirkan justru disalahgunakan. “Apalagi ini tahun politik,” katanya. 

Sementara itu, M. Satib, salah satu agen elpiji 3 kilogram di Jember mengakui juga mendapatkan kabar tersebut.  Dia buru-buru menegaskan jika hal itu tidak benar. "Tidak ada itu, kami beberapa waktu lalu mengadakan pertemuan dengan Hiswanamigas (Himpunan Wirausaha Nasional Minyak dan Gas). Tidak ada harus membeli gas dengan pakai fotokopi KTP," tuturnya. 

Oleh karena itu, jika ada yang mensyaratkan demikian, dia meminta masyarakat tak menurutinya. “Tolak saja sebab dasar hukumnya tidak jelas dan tidak ada instruksi itu dari Pertamina,’’ katanya.

Dia mengakui, memang di awal pelaksanaan peredaran elpiji 3 kilogram, ada pembagian untuk memisahkan warga miskin dan mampu. Tetapi seiring dengan waktu hal itu tidak terjadi lagi dan gas 3 kilogram masih bisa dikonsumsi seluruh masyarakat. Hanya saja, memang saat ini ada tulisan : Hanya untuk Masyarakat Miskin di tabung elpiji melon. "Kalau itu imbauan agar masyarakat bijak. Yang mampu seharusnya membeli elpiji 12 kilogram atau bright gas-lah," tuturnya. 

Dengan demikian, subsidi melon dari pemerintah ini bisa lebih tepat sasaran kepada masyarakat yang membutuhkan.

Diakuinya, saat ini permintaan elpiji memang  sangat banyak. Sehingga, gas yang beredar di lapangan cepat habis dikonsumsi masyarakat. "Ini bukan langka, tetapi memang permintaan masyarakat sedang tinggi. Apalagi jelang bulan haji," jelasnya. 

Satib menegaskan, pihaknya akan melaporkan temuan-temuan di masyarakat itu kepada Hiswanamigas dan Pertamina. "Kami juga akan minta tambahan pasokan," jelasnya. 

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia