Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Duh, 25 Persen Nikah karena Hamil Duluan

Selasa, 31 Jul 2018 21:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Nikah Dini, Hamil,

Pernikahan dini jadi hal yang harus ditekan untuk menciptakan generasi emas bangsa. Dari sisi kesehatan, pernikahan dini juga tidak dianjurkan. Meski demikian, pernikahan dini masih lumayan banyak di Jember. Pengadilan Agama (PA) Jember juga sering kali menerima sidang permintaan dispensasi nikah. 

Penyebab permohonan untuk mendapatkan dispensasi pernikahan banyak faktor. Bikin miris, sekitar 25 persen karena pihak perempuan hamil duluan. 

Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Jember Anwar mengatakan, dalam UU pernikahan telah diatur batasan usia. “Jika ingin menikah, laki-laki itu kurang dari 19 tahun dan perempuan kurang dari 16 tahun harus mengajukan dispensasi pernikahan,” katanya.

Dia mengakui, untuk pernikahan negara tidak melarang. Tetapi untuk usia laki-laki di bawah 19 tahun dan perempuan di bawah 16 tahun ini ada persidangan di PA. “PA memeriksa itu dari sisi manfaat dan kerugiannya. Jika banyak ruginya, maka dispensasi pernikahan itu tidak diterima,” ujarnya.

Selama menjadi hakim di PA Jember, Anwar mengaku tidak pernah menolak dispensasi pernikahan. “Seingat saya selama kerja, sidang dispensasi pernikahan tidak pernah ditolak,” paparnya. 

Dia menerima dispensasi pernikahan tersebut karena melihat lebih banyak manfaat menikah dari pada tidak. Menurutnya, kedua calon mempelai suami istri ini begitu lengket dan melebihi pacaran. Bahkan, tak jarang mengajukan dispensasi pernikahan ini karena hamil terlebih dahulu. “Sekitar 25 persen, ajukan dispensasi nikah itu karena hamil dahulu. Kalau kami tidak menyetujui, akan banyak ruginya dan nasib anak tersebut juga seperti apa,” katanya.

Anwar mengaku, dari sekian banyak pengajuan dispensasi pernikahan adalah punya latar belakang pendidikan yang rendah. “Rata-rata lulusan SD dan SMP,” imbuhnya. Pendidikan yang rendah tersebut juga membuat wawasan mereka sempit untuk urusan menjalin hubungan seperti apa. Maka, kata dia, tidak mengherankan jika dari usia rata-rata yang mengajukan perceraian itu sekitar 30 tahun. 

Dalam sidang dispensasi pernikahan, tambah Anwar, pihaknya juga melakukan pemeriksaan kepala rumah tangga punya penghasilan atau tidak. “Dari semua yang mengajukan dispensasi ini punya pekerjaan. Rata-rata pekerjaannya adalah buruh, baik buruh tani atau sekadar penjaga toko,” imbuhnya. 

Anwar mengaku, kemudahan teknologi terutama kecanggihan gawai saat ini juga jadi salah satu faktor banyaknya pernikahan dini. Oleh karena itulah, masyarakat harus mewaspadainya. 

Pria asal Banyuwangi ini menjelaskan, untuk prosedur pengajuan dispensasi pernikahan ini, orang tua yang harus mengajukan. “Bisa orang tua dari laki-laki atau perempuan. Semisal yang laki sudah di atas 19 tahun tapi yang perempuan di bawah 16 tahun. Berarti yang mengajukan itu dari orang tua perempuan,” jelasnya. 

(jr/dwi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia