Jumat, 21 Sep 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Jember Hasilkan 1.350 Ton Sampah Tiap Hari

Jumat, 27 Jul 2018 11:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Sampah, DLH, Jember, Emisi,

KURANGI SAMPAH: Selain memanfaatkan sampah agar tidak dibuang sembarangan, juga perlu mengurangi. (dwi siswanto/radar jember)

Setiap harinya, ada 1.350 ton sampah yang  tercatat oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember. Namun, jumlah itu hanya sepuluh persen yang terdata. Sebab, masih banyak sampah yang belum dikelola.

“Dari jumlah itu, kami baru bisa menangani 600 ton sampah,” kata Arismaya Parahita, kepala DLH Kabupaten Jember. Selebihnya, ada yang dikelola oleh masyarakat sendiri hingga dibuang ke sungai.  Tak heran, masih kerap ditemukan banyak sampah di sungai.

Namun, lanjut dia, ada juga sebagian masyarakat yang sudah memanfaatkan sampah. Mulai dari menjadikan barang yang bernilai ekonomis, seperti pupuk. Hanya saja, jumlahnya masih bisa dihitung. 

Aris menjelaskan penyelesaian persoalan sampah harus dilakukan dari hulu ke hilir. Yakni membangun kesadaran masyarakat agar tak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mengurangi sampah itu sendiri. “Tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga mengurangi jumlah sampah itu sendiri,” ucapnya. 

Sebab, satu warga ada yang membuat sampah mencapai satu kilogram. Tak bisa dibayangkan seberapa banyak sampah yang akan menumpuk di Jember. Selain kesadaran, tambah Aris, perlu adanya peraturan yang menegaskan tentang sampah. Sampai sekarang, perda sampah masih dalam tahap program legislasi daerah (prolegda). “Mau buat perbup tidak bisa, karena belum ada perda,” ujarnya. 

Sebenarnya, lanjut dia, sudah ada undang-udang yang mengatur sampah. Yaki UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Hanya saja, masih terlalu umum dan tidak memunculkan nilai kearifan lokal. “Tahun ini sudah ada prolegda persampahan,” ujarnya. 

Kendati demikian, sudah ada tiga lembaga resmi yang melakukan pengolahan sampah. Terutama di perumahan, misal di Perumahan Dharma Alam, Taman Gading, dan Bumi Mangli Permai. Kemudian di Mumbulsari dan sejumlah kecamatan lain. “Di sana ada bank sampah, mau kami buatkan bank sampah induk,” ucapnya. 

Jember sendiri, lanjut dia, sudah menuju ke arah pengelolaan sampah. Hal itu bisa dilihat dengan munculnya kampong berwarna, kampong proklim, dan lainnya. “Begitu juga dengan kerja sama dengan forum peduli lingkungan, ormas, komunitas pancing dan lainnya,” tuturnya. 

Sementara itu, Hermawan Some, aktivis lingkungan yang juga koordinator Komunitas Nol Sampah menambahkan, banyak cara untuk mengelola sampah. “Misal di perumahan, satu perumahan satu bank sampah, tidak boleh ada sampah yang keluar,” ujarnya.

Hanya saja, perlu terus sosialisasi agar masyarakat mengerti cara mengelola sampah. Memanfaatkannya menjadi barang yang berguna. “Sampah itu menghasilkan gas metan, salah satu emisi gas rumah kaca” terangnya. 

Ketika bisa mendaur ulang sampah plastik, bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. Padahal, itu penyebab pemanasan global karena emisi gas rumah kaca. “Kalau sampah dikelola, punya kontribusi terhadap pemanasan global,” tandasnya.

(jr/gus/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia