Jumat, 21 Sep 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Pemilik Warung Puyeng

Jumat, 27 Jul 2018 10:20 | editor : Dzikri Abdi Setia

Harga, Daging, Ayam, Meroket,

Mahalnya daging ayam potong yang berkepanjangan sukses membuat pemilik warung makan puyeng. Supaya tidak merugi, siasat membeli ayam kerdil pun dilakukan. Mereka, harus main “selundupan” dengan peternak ayam kemitraan.

Seperti informasi yang disampaikan Mami (bukan nama sebenarnya), pemilik warung makan di wilayah Tanggul. Katanya, semenjak harga daging ayam mahal menjelang Lebaran kemarin, dia harus memilih cara berbeda dalam membeli ayam. “Kalau dulu saya beli dagingnya di pasar. Sekarang beli ayam hidup di kandang,” akunya.

Dia mengaku, sudah punya langganan pedagang daging ayam di pasar. Karena langganan, harga dagingnya bisa lebih murah. “Kalau beli ayam hidupnya, hanya Rp 21 ribu,” ungkapnya.

Namun, ayam hidup yang dibelinya bukan standar pasaran. Karena ukurannya jauh lebih kecil. Peternak menyebutnya ayam kerdil. Sehingga, tak masuk kategori ke perusahaan yang jadi mitranya. “Kalau yang standar pasar, ayam hidup dijual Rp 25 ribu per kilogramnya,” imbuhnya.

Ayam yang dibelinya memang harus disembelih sendiri. Masih ada bulu yang harus dibuang. Pun kotorannya. Sehingga pasti susut. Apalagi, ada kepala, ceker, dan bagian daging lain yang tak masuk kategori super. Namun, jika dihitung, itu jauh lebih irit. “Hitungannya bisa lebih irit Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kg,” katanya.

Diakuinya, ayam kerdil mencolok di bagian paha dan ceker. Bagian lainnya nyaris sulit dicari bedanya. Supaya pembelinya tidak perhatian dengan ukuran daging ayam yang dijual, dia tidak menjual dengan model ayam goreng. Melainkan diberi tepung atau dibumbu merah.

Meski judulnya beli ke peternak, namun dia tetap tak bisa mengakses ke pemilik kandang langsung. Sebab, setiap harinya dia disuplai seorang pemasok yang dikenalnya dengan nama Noval.

Wartawan Jawa Pos Radar Jember sempat dikenalkan ke pemasoknya. Katanya, ayamnya memang didapat dari kandang yang sedang panen. “Istilahnya ini ayam apkiran,” akunya.

Dia sempat menjelaskan, ayam apkiran hanya ukurannya saja yang lebih kecil. Sehingga, bobotnya tak masuk kriteria perusahaan kemitraan. Soal umurnya, memang harus dipanen. “Kalau mau tetap dipelihara, ya endak akan berkembang. Tetap segitu. Kerdil,” paparnya.

Ayam apkiran memang tak selamanya ada. Namun, saat harga daging ayam mahal seperti ini, semakin banyak peminatnya. “Ada juga yang harusnya belum dipanen, sudah dijual masuk apkiran. Tapi saya tidak,” elaknya.

Pedagang lain seperti dia membujuk pemilik kandang menjual ayam yang seharusnya belum dipanen. Tentu yang begini main gelap. Pihak perusahaan kemitraan dijamin tidak tahu. Namun diakuinya, tidak banyak yang digelapkan. “Paling tidak sekandang diambil 10 ekor. Tapi rata,” ungkapnya.

(jr/rul/ras/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia