Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Harga Daging Ayam Bisa Meroket sampai Lebaran Haji

Jumat, 27 Jul 2018 10:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Harga, Daging, Ayam, Meroket,

Daging ayam di Jember memang tak semahal Lebaran lalu, sampai tembus harga Rp 50 ribu per kilogram. Tetapi, harga pasaran Rp 38 ribu seperti kemarin, rupanya masih di atas normal. Sebab, biasanya daging ayam potong hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Tinginya harga ayam itu bukannya membuat keuntungan pedagang naik berlipat. Mereka justru buntung alias merugi. Pembelinya makin sedikit. Seperti diungkapkan salah seorang pedagang daging ayam potong di Pasar Tanjung, M. Saleh. Katanya, mahalnya daging ayam yang dijualnya tak sebanding dengan keuntungannya. “Lebih enak harga murah,” katanya, saat diwawancarai di lapaknya, Rabu (25/7) kemarin.

Kata Saleh, daging ayam mahal, peminat berkurang. Selain itu, pasokan dagingnya juga ikut berkurang. Terlebih saat ini. Menurut Saleh, berdasarkan pengakuan juragan ayam, mahalnya daging ayam karena stok dari kandang yang minim. “Saya normalnya dijatah 1,5 kuintal. Sekarang hanya 120 kilo, dan itu belum tentu laku semua. Ya jadi rugi,” akunya.

Dia pun meyakini, daging ayam bakal kembali melambung tinggi hingga Rp 50 ribu, setelah nanti mendekati Lebaran Haji. “Prediksinya begitu. Karena stoknya sampai sekarang belum stabil,” tuturnya.

Saat ditanya tentang upaya memperoleh tambahan stok daging yang dilakukan pedagang seperti dirinya, Saleh mengaku tak bisa berbuat banyak. Pertama, dia tak punya modal. Daging yang dijualnya pun hasil utang ke juragannya. Setelah laku, baru dia disetor.

Selain itu, menembus peternak ayam diakuinya tak mudah. Sebab, kini peternak umumnya menjalin kemitraan ke perusahaan. Artinya, peternak hanya boleh menjual hasil panen ayam ke mitranya tersebut. “Pedagang kecil seperti saya hanya bisa pasrah,” katanya.

Belum lagi, jika sepi pembeli, karena enggan beli daging ayam yang mahal. Saleh harus menjualnya “di-injury time” dengan harga lebih murah Rp 2 ribu. “Ketimbang di-es,” imbuhnya.

Ya. Diakui Saleh, daging ayam yang tidak laku harus dia beri es batu agar bisa lebih awet. Seperti itu tentu menambah biaya operasional. Karena pastinya dia harus beli es dan daging yang diawetkan dengan cara demikian tidak lagi segar. Pembeli yang jeli, enggan membelinya. “Mau beli kalau lebih murah,” pungkasnya.

(jr/rul/ras/das/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia