Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Features
Mengintip Penelitian Mahasiswa IKIP PGRI

Lamajang Tigang Juru, Jejak Kebesaran Sejarah yang Terlupakan

Jumat, 27 Jul 2018 09:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Lamajang Tigang Juru, Penelitian, Sejarah, Mahasiswa, IKIP, PGRI, Jember,

LITERASI SEJARAH: Rombongan mahasiswa dan dosen Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember saat berkunjung ke kawasan Situs Biting, Lumajang. (Rina Rohmawati for Radar Jember)

Kerajaan Majapahit dengan pendirinya, Raden Wijaya, selama ini masyhur dalam penulisan sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah. Namun, tak banyak yang mengenal sosok Arya Wiraraja, dengan Lamajang Tigang Juru-nya yang jejaknya masih kukuh di Lumajang. Padahal, peran Arya Wiraraja sangat strategis dalam perpolitikan Nusantara pada masa itu. 

Menempuh jarak puluhan kilometer, tak tampak kelelahan di wajah rombongan itu. Dipimpin Rina Rohmawati, rombongan tersebut merupakan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember. Mereka sengaja datang ke kawasan situs Biting, sebuah situs arkeologis seluas sekitar 135 hektare yang ada di Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang. 

 “Agar mereka lebih mengenal realitas sejarah, termasuk yang ada di sekitarnya. Karena kalau Cuma membaca di kelas, perpustakaan, atau laboratorium sejarah, pemahamannya menjadi utuh,” tutur Rina Rohmawati, dosen pembimbing para mahasiswa tersebut. 

Rina merupakan dosen yang mengampu mata kuliah Sejarah Nasional di Prodi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Jember. Bersama seorang rekannya, Rina membawa beberapa mahasiswa bimbingannya untuk terjun langsung ke kawasan situs Biting, termasuk berdiskusi dengan kalangan aktivis LSM yang fokus melakukan advokasi kawasan situs Biting. 

Rina menuturkan, dari segi bangunan, kawasan situs Biting memiliki keistimewaan tersendiri. Selain karena luasnya, benda-benda arkeologis seperti candi dan reruntuhannya memiliki identitas pembeda dan menunjukkan kemajuan masyarakat setempat pada masa itu. “Di sini ada 12 jenis motif yang beragam ukurannya. Candi-candi ini bisa kokoh hingga ratusan tahun,” tutur alumnus Jurusan Sejarah FIB Universitas Jember ini. 

Ada perbedaan motif yang mencolok antara candi di Jawa Tengah dengan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, kebanyakan candi peninggalan zaman klasik terbuat dari batu andesit. “Ini karena di sana banyak gunung berapi. Berbeda dengan di Jawa Timur, candinya terbuat dari tanah liat. Dengan kunjungan seperti ini, mahasiswa bisa melihat secara langsung,” jelas Rina. 

Kawasan Situs Biting sejatinya merupakan benteng yang mengelilingi sebuah kawasan pusat pemerintahan kerajaan pada masa itu. Tak heran, jika luasnya mencapai ratusan hektare. “Yang menarik, benteng ini bentuknya melekuk sesuai arah aliran sungai Bondoyudo yang merupakan sungai kuno. Dan di setiap lekukan, terdapat menara pengintai, untuk mengamankan kawasan di dalamnya,” ujar alumnus Magister Sejarah Undip ini. 

Hasil penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1982-1991, Kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektare yang mencakup 6 blok/area merupakan blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha. Dalam Babad Negara Kertagama, kawasan ini disebut Arnon lalu dalam perkembangan pada abad ke-17 disebut Renong, dan dewasa ini masuk dalam desa Kutorenon yang dalam cerita rakyat identik dengan "Ketonon" atau terbakar. Nama Biting sendiri merujuk pada kosakata Madura bernama "Benteng", karena daerah ini memang dikelilingi oleh benteng yang kukuh. 

Arti penting kawasan situs Biting ini dikonfirmasi oleh Mansur Hidayat, penggiat sejarah yang juga Ketua Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT). MPPMT merupakan LSM yang fokus pada advokasi pelestarian peninggalan Kerajaan Majapahit Timur, termasuk kawasan Situs Biting. Situs tersebut tak bisa dilepaskan dari nama Arya Wiraraja yang merupakan penguasa di wilayah tersebut. 

 “Kawasan Situs Biting ini diperkirakan merupakan ibu kota Kerajaan Lamajang Tigang Juru yang wilayah kekuasaannya meliputi daerah di sebelah Gunung Semeru sampai selat Bali atau kalau sekarang disebut Tapal Kuda, ditambah wilayah Madura,” tutur Mansur. 

Menurut Mansur, Arya Wiraraja merupakan tokoh besar, bahkan disebut paling jenius pada masanya. Sayangnya, kebesaran dan kiprahnya justru terlupakan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Bahkan, nama Arya Wiraraja seolah-olah kalah dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. “Hubungannya, Arya Wiraraja ini merupakan semacam penasihat politik bagi Raden Wijaya. Kalau zaman sekarang, ibaratnya Arya Wiraraja ini adalah Megawati, dan Raden Wijaya adalah Jokowinya. Jadi, seperti King Maker,” tutur penulis buku Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru ini. 

Tak hanya sebagai penasihat politik, Arya Wiraraja juga menjadi donatur saat Raden Wijaya melarikan diri ke Madura usai kalah dari Prabu Jayakatwang, Raja Kediri. “Yang membuka Hutan Tarik, itu sebenarnya bukan Raden Wijaya, karena dia saat itu masih di Kediri. Yang membuka itu adalah Pasukan Madura atas perintah Arya Wiraraja yang saat itu menjadi Adipati Sumenep,” jelas Mansur. 

Salah satu kiprah terbesar dari Arya Wiraraja adalah saat dia merencanakan strategi bagi Raden Wijaya untuk “mengarahkan” Pasukan Mongol mengalahkan Kerajaan Singosari. “Itu semua strategi dari Arya Wiraraja yang diberikan kepada Raden Wijaya. Karena saat itu Majapahit masih berupa desa dan belum memiliki pasukan sendiri. Jadi, yang dipakai pasukan dari Madura,” tutur mantan dosen sejarah di IKIP PGRI Jember ini. 

Dalam penulisan sejarah ditulis, setelah menghancurkan pasukan Jayakatwang, pasukan dari Mongol itu justru dipukul mundur melalui jebakan oleh pasukan Raden Wijaya selaku penguasa Majapahit. “Sebenarnya, itu yang merencanakan adalah Arya Wiraraja. Dengan iming-iming rampasan perang dan putri-putri cantik sebagaimana kelaziman pada masa itu, pasukan Mongol bersedia melepaskan senjata. Setelah tidak bersenjata, pasukan Mongol justru dipukul mundur oleh pasukan Arya Wiraraja,” tutur penulis buku Membangkitkan Majapahit Timur ini. 

Secara resmi, Mansur bersama LSM Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMT) aktif melakukan advokasi kawasan advokasi situs Biting sejak tahun 2010. “Sayangnya memang di bawah Bupati Lumajang saat ini, perhatian pemerintah amat kurang. Saya harap, di bawah bupati yang baru, kawasan situs Biting ini bisa lebih diperhatikan kelestariannya,” pungkas Mansur. 

(jr/ad/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia