Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Kenapa Saat Tobat Cobaannya Seperti Ini?

Kamis, 26 Jul 2018 07:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Pemuda, hilang, berlayar,

Maimanah, orang tua dari Muhamad Saeroji. (dwi siswanto/radar jember)

“Orang tiga itu ke mana-mana sering bareng. Seperti saudara. Kalau Rosi (panggilan Soeroji, Red) saya pukul pun, mereka rasanya terima,” kenang Maimanah, orang tua dari Muhamad Saeroji.

Ketiga pria asal Jember ini punya panggilan akrab tersendiri. Saeroji panggilannya Rosi, Ahmad Alanrobi itu Alan, dan Mohammad Suryanto adalah Mamad. Untuk Rosi, teman sepermainannya sering memanggil dengan sebutan bos. Maimanah mengaku, Rosi adalah anak yang paling nakal dari saudara-saudaranya yang lain. Anak bungsu tersebut sering kali membuat Maimanah marah dan mengelus dada.

Kenakalan Rosi sama dengan kenakalan anak remaja sekarang. Balapan liar, hingga menenggak minuman keras. Dua motor pun habis untuk dipreteli dan dijadikan motor balap. “Dua motor habis dipreteli. Satu motornya masnya, masnya ya diam saja. Kalau anaknya keluar, motornya saya jual murah,” imbuh Maimanah.

Meski sejak kecil Rosi dirawat kakaknya, tetapi di kediaman Maimamah sering dijadikan basecamp. Dia masih ingat malam tahun baru 2018 kemarin, teman-temannya berkumpul. Banyak motor berjajar di halaman depan dan samping. Karpet yang dibeli dari Arab Saudi pun digelar. Bukan membuat Maimamah senang, tetapi justru marah. Sebab, kata dia, kumpul-kumpul tersebut mau buat acara mabuk-mabukan. “Mau saya siram dengan air panas kalau masih sering begitu,” imbuhnya.

Maimanah yang sering melarang kegiatan negatif tersebut, tak digubris Rosi. Dia mengaku, pernah dikelabui miras yang dimasukkan ke dalam botol plastik minuman kemasan. “Sekarang seperti itu saya tahu. Ada botol plastik, airnya bening, dan ada kacang. Berarti ini mau mabuk-mabukan,” paparnya. Dia pun masih ingat anaknya pernah pulang mabuk berat dan diantar Alan pulang ke rumah. 

Lanjut Maimamah, untuk menyuruh Rosi beribadah pun sangat sulit. “Tak suruh salat, tapi gak mau. Jawabannya, sembahyang terus juga tidak buat kaya. Mau salat kalau sudah kaya dulu,” katanya.

Meski kenakalan Rosi membuat hati Maimanah kecewa. Tetapi sebelum kepergiannya bekerja di PT Bali Baramundi itu, dia sudah tobat. “Meski Rosi seperti itu. Tapi sekarang itu sudah tobat. Mengapa saat sudah tobat dan baik, dapat cobaan seperti ini,” paparnya.

Ya, sejak bekerja di Kalimantan berjualan solar, kepribadian Rosi berubah drastis. Lebih sopan, tidak mabuk-mabukan, dan terutama tidak melupakan Maimamah sebagai orang tua. “Saat kerja di Kalimantan, tiap bulan itu kirim uang. Bercita-cita ingin membetulkan rumah dan ingin membuat saya bahagia. Mau berangkat kerja di Bali itu juga pamit dan minta doanya untuk dapat rejeki barokah,” katanya.

Sementara, Khoiriyah ibu dari Alan mengatakan, anak laki-lakinya yang lulusan SMKN Balung jurusan mesin ini adalah anak yang penurut. Tidak neko-neko dan tidak gengsi. Disuruh tetangga ini dan itu, mau dikerjakan. Cita-cita Alan pun tidak muluk-muluk. Cukup ingin punya bengkel motor sendiri. Sebab, jurusan yang diambil di SMKN Balung itu sesuai dengan keinginannya.

Kedekatannya dengan Mamad dan Rosi, membuat Alan punya kegiatan yang disukai. “Mereka ini sama-sama suka mancing,” katanya. 

Sedangkan Mamad atau Suryanto memang usianya lebih tua dari Alan dan Rosi. Alan 23, Rosi 21, sedangkan Mamad 32 tahun. Selisih sepuluh tahun tidak membuat Mamad canggung dengan mereka. Mamad terlebih dahulu bekerja. Kerjanya pun cukup jauh, jadi TKI di Taiwan. Lagi-lagi, mereka berangkat ke Bali untuk bekerja mengarungi lautan itu secara bersama-sama. 

(jr/dwi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia