Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Trauma, Nelayan Memilih Tak Melaut

Kamis, 26 Jul 2018 06:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Perahu, Nelayan, Puger, Parkir,

MEMARKIR PERAHUNYA: Perahu milik nelayan terpaksa diparkir di sepanjang Sungai Besini, Puger Kulon, setelah melihat ombak di Pancer terus membesar Selasa (24/7). (Jumai/Radar Jember)

Pasca terbaliknya perahu Joko Berek milik Haji Dirman, 50, warga Dusun Mandaran 1, Desa Puger Kulon, Puger, Kamis (19/7) pukul 08.15, nelayan memilih libur. Sebab, dalam kecelakaan laut sebelumnya, sedikitnya 8 ABK meninggal dunia dan satu ABK masih belum berhasil ditemukan.

Akibat masih besarnya ombak tersebut, nelayan memilih tidak berangkat melaut, baik nelayan yang menggunakan perahu besar maupun jongkong. Banyaknya ABK yang meninggal dalam satu kejadian membuat pemilik perahu (juragan) dan ABK-nya memilih untuk libur.

Musafa, 45, warga Dusun Watu Ireng, Desa Puger Wetan, saat ditemui di break water (pemecah ombak) memilih libur. Dia bersama nelayan lainnya juga sepakat untuk tidak berangkat melaut setelah ada imbauan dari Polairud Jember. 

Sebenarnya, pasca terbaliknya perahu milik Haji Dirman tersebut, masih banyak nelayan yang tetap nekat untuk berangkat. Namun, setelah melihat selebaran, baik yang dipasang di Polairud maupun di sekitar TPI, nelayan memilih tidak melaut. “Apalagi sudah ada bendera warna merah dan hitam yang di pasang di atas tiang yang ada di dermaga”, ujar Musafa, salah seorang nelayan.

Tidak hanya Mustaha, ABK perahu milik Matruhji, beberapa juragan atau pemilik perahu serta ABK juga banyak yang libur. Rohim, 40, warga Puger Kulon, bersama beberapa pemilik perahu juga tidak melaut. “Saya sengaja tidak berangkat karena informasinya ombak terus besar hingga hari Rabu (25/7)”, ujarnya.

Kasatpol Air Polres Jember AKP Hari Pamuji saat ditemui di lokasi mengatakan, pasca kejadian terbaliknya perahu yang menewaskan 8 ABK dan satu hilang, banyak nelayan tidak pergi melaut. Memang ada sekitar tiga perahu dan sekoci yang baru bisa pulang setelah semalam di tengah laut. Tetapi lebih banyak nelayan yang tidak berangkat.

Ini setelah ada imbauan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) bahwa ombak akan besar. Tidak hanya itu, pihaknya terus memberikan imbauan kepada nelayan Puger agar tidak melaut hingga ombak kecil.

Pada Selasa ini, banyak nelayan yang memilih mengandangkan perahunya. Dari puluhan juragan dan ABK, malah banyak yang datang ke Pancer untuk melihat kondisi ombak di Plawangan. Ada juga nelayan justru gatel untuk berangkat, setelah melihat di Plawangan tidak ada ombak. “tibak e nang plawangan gak onok ombak blas, ruh ngono kan penak budal, iso oleh duwek. (ternyata di Plawangan tidak ada ombak sama sekali, tahu begitu kan lebih enak berangkat, bisa mendapatkan uang),” ujarnya. 

Bahkan, sampai ada isu bahwa nelayan yang sudah diberi imbauan tetap berangkat dan membawa pulang ikan, akan dirampas. Akhirnya, juga banyak yang tidak berangkat melaut. “Timbang iwak e dirampas karuan gak budal (dari pada ikan dirampas, kan lebih baik tidak berangkat),” ujar salah satu nelayan yang enggan disebutkan namanya. 

(jr/jum/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia