Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Features
Riski Al Mubarok, Santri Desa yang Tembus Bea

Beasiswa Sejak SMP, Ikut Banyak Ujian Kuliah Gagal

Rabu, 25 Jul 2018 20:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Santri, IPB,

BANGGA: Meskipun santri desa, namun Riski Al Mubarok berhasil menembus ketatnya persaingan meraih beasiswa penuh di Institut Pertanian Bogor (IPB). (Rangga Mahardika/Radar Jember)

Kegagalan bukan berarti akan berakhir mengenaskan. Malah ada hikmah tersembunyi di balik kegagalan tersebut. Seperti dialami Riski Al Mubarok, santri desa di Ponpes Al Amien, Desa Sabrang Ambulu yang sempat gagal mengikuti ujian masuk kuliah. Di detik-detik terakhir, malah dirinya diterima di kampus besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan beasiswa penuh. 

Wajah yang semringah terus ditunjukkan oleh seorang siswa di MA Al Amien, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu ini. Dirinya masih tidak percaya baru mendapatkan pengumuman diterima di salah satu kampus terbesar dan terbaik di Indonesia, yakni Institut Pertanian Bogor (IPB) di jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Kalimat syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir Riski Al Mubarok. Riski tentu sangat bersyukur dan tidak menyangka bahwa dirinya meraih beasiswa penuh selama kuliah di sana. Bukan hanya untuk kuliah, namun juga biaya hidup selama berkuliah di IPB ini. Kebetulan, dirinya memang ingin mengembangkan daerahnya yang ada di pesisir pantai selatan ini.

Riski menerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama. “Sangat senang sekali. Apalagi, yang mendapatkan kabar terlebih dahulu saya diterima di IPB ibu,” ucap anak bungsu dari pasangan Sumiati dan almarhum Bonaji ini. Dia mengaku memang tidak memiliki ponsel, sehingga saat ujian, dia mencantumkan nomor ponsel milik ibunya.

Maklum, Riski memang dari keluarga buruh tani. Sedangkan ayahnya sudah meninggal sejak dia berusia enam tahun. Sehingga, dia hidup sederhana dengan ibunya di rumah, karena kedua kakaknya sudah berkeluarga. Namun, sang ibu selalu mendorongnya untuk terus menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Riski mengaku bersyukur karena tidak pernah merepotkan orang tuanya saat bersekolah. Dia sudah berhasil mendapatkan beasiswa sejak masih duduk di kelas 1 MTs Al Amien Ambulu karena selalu menjadi juara 1 di sekolahnya. “Mungkin ini semua karena doa ibu,” ucap remaja kelahiran Jember, 10 Juli 2010 lalu ini.

Apalagi, Riski memang sempat down. Dirinya mengaku, saat mendaftar PBSB dan mengikuti ujian di UIN Malik Ibrahim Malang, tidak ada kabar hingga waktu yang cukup lama. Dari lima orang yang mengikuti ujian PBSB dari MA Al Amien Ambulu ini, ada lima anak dan semua mendapat kabar. Seperti yang hendak kuliah di Surabaya, Bandung, dan sebagainya, juga banyak yang mendapatkan kabar.

Bahkan, dirinya sudah pasrah dengan tidak adanya kabar mengenai lolos atau tidaknya PBSB tersebut. Remaja yang hobi memancing dan voli ini pun sempat mencoba untuk mendaftar masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN. “Saat ikut ujian masuk itu memilih Teknik Sipil dan FKIP Fisika Universitas Jember,” jelasnya. 

Di kedua jurusan dan dua ujian itu dia gagal. Riski sempat merasa frustrasi karena berbagai kegagalan ujian masuk perguruan tinggi tersebut. “Sempat pasrah dan frustrasi juga,” ucapnya. 

Meskipun demikian, dia mengaku tidak menyurutkan niatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Dia sempat hendak mendaftar kuliah di kampus swasta. 

Belum sempat mendaftar, si ibu mendapatkan telepon yang membawa kabar sangat mengejutkan bagi dirinya, keluarga, dan lembaga pendidikan tempatnya belajar. “Jadi, yang pengumuman PBSB di IPB ini terakhir. Padahal yang lain sudah lebih dahulu,” ucapnya kemarin. Dirinya pun menyambut kabar baik itu dengan sujud syukur.

Riski kini menghadapi tantangan lain. Sebab, pada 5 Agustus 2018 dirinya harus berangkat ke Bogor untuk mengurus pendidikannya di IPB. Dia yang selama ini tidak pernah jauh dari rumah dan ibunya, harus berjuang di daerah baru yang tidak pernah didatanginya. Dia berjuang untuk menjadi mandiri. 

Meskipun diakuinya, untuk berangkat ke sana juga menjadi kendala. “Insyaallah siap berangkat. Biayanya dari tabungan ibu,” ucap Riski. Oleh karena itu, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini dan akan berjuang keras untuk mewujudkan doa dan impiannya tersebut.

Bahkan, jika sudah lulus, dia mengaku tidak akan berpuas diri. “Kalau inginnya terus kuliah sampai S2 lah minimal. Dan semoga bisa membahagiakan ibu,” tuturnya dengan penuh harap. Sementara itu, Kepala MA Al Amien Sabrang Ambulu, Zainal Arifin mengaku bangga dengan keberhasilan anak didiknya. “Mungkin ini salah satu buah dari pengabdiannya selama 6 tahun sekolah di sini,” jelas Zainal. Sebab, Riski termasuk anak yang sering membantu guru dan sekolah setiap ada kegiatan dan hal apa pun.

“Dia termasuk anak yang patuh dan selalu mengiyakan perintah guru,” jelasnya. Dirinya menjelaskan, untuk menuju kesuksesan, pintar saja tidak cukup, tetapi juga perlu restu orang tua dan juga berkah para guru. 

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia