Selasa, 21 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Terminal Pemkab Seperti Mangkrak

Senin, 18 Jun 2018 12:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Terminal Balung, Dishub Jember,

TINGGAL STATUS: Terminal yang dikelola pemkab tergolong terminal gersang. Aktivitasnya sepi, sehingga angkutan umum pun seperti ogah-ogahan masuk. Seperti terminal Balung ini. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Tidak semua terminal di Kabupaten Jember statusnya milik Pemkab Jember. Sebab, pasca penerapan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 132 Tahun 2015 tentang pengelolaan terminal, Pemkab Jember hanya kebagian terminal tipe C.

Kepala Dinas Perhubungan Jember menyebut, terminal tipe C hanya Terminal Pakusari dan Balung. Sedangkan di Ajung, sejatinya hanya subterminal. Sementara terminal paling besar di Jember, Tawang Alun, kini milik Kementerian Perhubungan karena masuk kategori A. “Kalau terminal Ambulu dan Arjasa, itu masuk Dishub Provinsi Jatim,” ungkapnya.

Praktis, terminal yang hanya dimiliki pemkab tergolong terminal gersang yang aktivitasnya sepi naik-turunnya penumpang. Sehingga, angkutan umum pun seperti ogah-ogahan masuk ke terminal tersebut. “Kami hanya mengandalkan Terminal Pakusari,” tuturnya.

Diakui Isman, karena Terminal Balung mangkrak, fasilitas penunjangnya pun tak terpenuhi. Sehingga diakuinya, terminal di Balung hanya tinggal status. Sementara aktivitas layaknya keterminalan, praktis tidak ada.

Padahal, kata Isman, Terminal Balung dinilainya berpotensi bisa kembali eksis. Terlebih, Pemkab Jember mulai menyeriusi pembangunan di wilayah pesisir laut selatan Jember. “Sedangkan Balung, lokasinya strategis karena ada di tengah-tengah antara Ambulu, Puger, bahkan Kencong,” jelasnya.

Sehingga, kata Isman, dia berharap DPRD Jember juga bisa ikut memberi dukungan anggaran untuk revitalisasi Terminal Balung. Supaya lebih menarik, kata Isman, konsep terminal harus diintegrasikan dengan semangat wisata. “Sehingga, orang ke terminal bukan hanya mau naik angkutan,” paparnya.

Masih kata Isman, target PAD 2018 yang bersumber dari terminal milik pemkab, tak lebih dari Rp 63 juta. Bahkan tahun sebelumnya, PAD terminal hanya Rp 60 jutaan. “Jauh berkurang. Penurunannya pun sangat drastis,” ungkapnya.

Meski demikian, dia menegaskan itu masih dalam kategori yang wajar. Sebab, pihaknya tak bisa lagi melakukan optimalisasi, setelah terminal unggulannya di take over kementerian dan Dishub Provinsi Jatim.

Namun, soal total PAD Dishub Jember, meski terminal tak lagi bisa diandalkan, faktanya target PAD dari tahun-tahun sebelumnya terus mengalami kenaikan. Bahkan, di tahun 2018, secara global kenaikan PAD untuk Dishub Jember mencapai Rp 400 jutaan. 

(jr/rul/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia