Selasa, 21 Aug 2018
radarjember
icon featured
Features
Mufid, Kaligrafer yang Fokus Pembinaan

Dirikan Sanggar Gratis, Mendidik 13 Lembaga di Jember

Senin, 18 Jun 2018 10:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Kaligrafi, Kaligrafer,

FOKUS PEMBINAAN: Mufid, mantan kaligrafer nasional yang kini mengabdikan diri mengabdikan sebagai pembina kaligrafi di Jember. (Rangga Mahardika/Radar Jember)

Membuat tulisan Arab indah atau biasa yang disebut kaligrafi bukanlah hal yang mudah. Ternyata, Jember sudah bisa menghasilkan banyak kaligrafer nasional. Jalan ini sudah dirintis oleh Mufid sejak tahun 1993 lalu.

Kaligrafer sebenarnya bukan menjadi jalan pilihan bagi Mufid. Saat itu, dia belajar kaligrafi dengan tidak sengaja. Yakni sekitar tahun 1984 saat dirinya yang menjadi santri angkatan pertama di Pondok Pesantren Nurul Islam, Antirogo, Sumbersari, Jember.

Mufid ‘dipaksa’ oleh pengasuh pesantren, KH Muhyidin Abdussomad untuk belajar kaligrafi. Kemudian dia belajar kepada Ustaz (alm) Abdullah. “Dulu pertama belajar kaligrafi karena di pondok tidak ada yang bisa menulis bagus,” ucapnya mengenang masa kecilnya.

Menurut pria kelahiran Jember, 15 Juni 1967 ini, saat itu dia belajar menulis huruf Arab indah untuk dituangkan ke dalam kitab yang diajarkan di ponpes yang diasuh oleh KH. Muhyidin Abdussomad terebut. Hingga kemudian berkembang menjadi belajar di kanvas dan media lainnya. 

“Dulu belajarnya pakai lidi pohon aren dengan tinta cina dan media ares (dalam pohon) pisang,” terang putra kedua dari enam bersaudara ini.

Dirinya juga sempat mengikuti berbagai lomba tingkat lokal. Tidak puas, pada 1992 suami dari Zamrani ini pun memperdalam ilmu kaligrafi kepada Ustaz Faiz Abdul Rozak di Bangil, Pasuruan, yang merupakan kaligrafer tingkat Internasional. Bahkan, Uztaz Faiz menjadi pembina dan juri nasional kaligrafi tingkat nasional.

Di Bangil inilah, Mufid bisa belajar berbagai jenis kaligrafi. Mulai dari kaligrafi murni yang sesuai dengan kaidah pakem kaligrafi, hingga kontemporer, yakni yang kekinian dengan berbagai tambahan yang rumit. Dirinya pun kemudian mulai berani mengikuti lomba tingkat provinsi dan nasional. “Pertama ikut MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) tingkat provinsi tahun 1993 di Banyuwangi,” jelasnya.

Di tingkat ini, dirinya belum mendapatkan juara, dia kalah dengan para seniornya. Apalagi, dirinya di tiga jenis kategori kaligrafi. Untuk setiap jenis lomba, dia diberikan waktu selama delapan jam dan bertarung di tiga kategori. “Tantangan jika ikut lomba adalah berperang dengan kesabaran,” ucapnya. Bahkan, di angkatannya, dari enam orang hanya dirinya yang terus bertahan di kaligrafi.

Baru pada MTQ provinsi di Jombang tahun 1996 dirinya meraih juara harapan dua untuk jenis kaligrafi mushaf. “Baru mendapatkan juara dua tingkat nasional di MTQ Bali tahun 2000 di jenis kategori yang sama,” tutur bapak dari Alifa Mustafidah dan Nanda Farha Mufidah ini. Baru, di tahun 2006 dirinya tidak bisa ikut MTQ karena terkendala umur, yakni dengan batasan usia 35 tahun.

Dirinya pun kini terus memperdalam ilmu kaligrafi. Pasalnya, untuk jenis ini, ada kejuaraan hingga ke tingkat internasional. “Selain itu, kaligrafi ini sebenarnya yang paling sulit, namun paling mudah dibaca orang,” terangnya. Hal inilah yang membuatnya juga terus menularkan hingga ke generasi muda.

Jenis kaligrafi yang terus dikembangkannya ada cukup banyak. Kini, dirinya menguasai empat jenis kaligrafi, yakni selain hiasan mushaf ada naskah, dekorasi, dan kontemporer. “Ada sekitar delapan jenis tulisan Arab yang saya pelajari,” terangnya menambahkan.

Usai tidak mengikuti MTQ, dirinya bukan berarti berhenti dari kaligrafi. Dirinya masih sering menjadi juri di tingkat provinsi dan nasional. Mufid juga banyak menyumbangkan karyanya yang digambar manual untuk sejumlah masjid di Jember. Seperti di Masjid Baitun Nur di Ponpes Nuris Antirogo, RSD dr. Soebandi, Terminal Arjasa, Masjid Rambipuhi, dan Masjid Nur Inka Mako Brigif 9 Jember, serta masih banyak masjid lainnya.

Dirinya juga tidak ingin ilmu yang dimilikinya berhenti padanya saja. “Pada 2006 juga mendirikan Sanggar Kaligrafi Darul Qalam di rumah Antirogo,” tuturnya. Di sanggar ini, dirinya mengabdikan diri untuk mengajari anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar kaligrafi. Bahkan, kini sudah berkembang mendidik hingga ke seluruh Jember, bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa

“Semuanya gratis, tidak dipungut biaya,” jelasnya. Semua kalangan bisa belajar kaligrafi di sini. Dia juga menjadi pembina di Jember. Bahkan pernah melanglang buana menjadi pembina pada 2008, yakni di Ambon, Maluku. Sejak tahun tersebut, dirinya sudah banyak menelurkan juara-juara nasional kaligrafi dari Jember. 

Di antaranya ada Reska, Jimli, Alifa Mustafidah, Afif Binuril Aribi, Qoimatul Adila, Siti Nur Azizah, dan Miftahul Jannah. Saat di Maluku, yang juara nasional ada Endang dan Ika Raihani. “Yang akan berangkat tahun ini di nasional mewakili Jember ada Viona dari SMPN 3 Jember dengan kaligrafi kontemporer dan M. Nasihin dengan kaligrafi mushaf,” jelasnya.

Bukan hanya di sanggar, ternyata Mufid terus menelurkan anak didik binaannya. Karena dirinya kini mendidik hingga ratusan murid. “Saya juga mengajar kaligrafi di 13 lembaga di Jember. Ada sekolah negeri, swasta, dan pondok pesantren,” jelasnya. Dengan harapan akan semakin banyak anak Jember yang berprestasi melalui kaligrafi di tingkat nasional dan internasional nantinya.

Mufid menuturkan, kaligrafi masih menjadi harapan untuk masa depan yang cerah. Bukan hanya untuk ekonomi kreatif yang karyanya dijual, namun juga bisa menjadi jalan prestasi bagi penggiatnya. “Karena sertifikat juara kaligrafi bisa digunakan untuk melanjutkan ke sekolah favorit. Baik jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi,” pungkasnya. 

(jr/ram/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia