Minggu, 19 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Revolusi Pangan dari Dapur

Sabtu, 16 Jun 2018 09:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

revolusi pangan, Pola makan alami, pangan sehat,

KAMPANYE SEHAT: Farha Ciciek (berdiri) saat sesi diskusi di acara Semiloka Pangan Sehat beberapa waktu lalu. (Adi Faizin/ Radar Jember)

Seiring perubahan zaman dan pesatnya informasi, gerakan kembali ke alam kian menguat. Gaya hidup natural itu salah satunya diwujudkan dalam gerakan pangan seperti yang dilakukan Komunitas Tanoker yang berbasis di Ledokombo, Jember. 

“Berawal dari keprihatinan kami melihat jajanan yang dibeli anak-anak kita di sekolahnya. Banyak yang mengandung bahan kimia yang tidak baik, apalagi jika dikonsumsi terus-menerus,” tutur Farha Ciciek, salah satu pendiri komunitas Tanoker. 

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Tanoker sejak beberapa tahun terakhir menginisiasi Gerakan Pangan Sehat. Sejak awal berdirinya, Tanoker fokus melakukan pendampingan anak-anak buruh migran terutama yang berada di kantong-kantong pekerja migran seperti di Ledokombo. Gerakan itu lantas berlanjut pada kampanye pangan sehat, karena kesemuanya itu menurut Ciciek sangat berkaitan. 

“Karena kami menganggap, pola konsumsi yang tidak sehat itu berpengaruh tidak baik kepada kesehatan dan prestasi belajar anak-anak. Kondisi saat ini sudah mengkhawatirkan karena mengarah pada adiksi, ketergantungan terhadap makanan-makanan yang mengandung micin misalnya,” bebernya. 

Bukan hal yang mudah, menurut dia, untuk merubah kebiasaan pola makan anak-anak. “Di sekolah-sekolah, jajan yang dijual kan didominasi makan yang tidak sehat. Mulai dari zat pewarna atau pengawet yang kita tidak tahu keamanannya,” ungkap alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini. 

Karena itu dibutuhkan strategi yang tepat untuk mengajak anak-anak sekaligus mengedukasi para orang tuanya, untuk memastikan makanan yang dikonsumsi benar-benar aman dan menyehatkan. Untuk itu, Tanoker memilih strategi Revolusi Pangan dari dapur. Dengan program tersebut, Tanoker mengajak para orang tua untuk mulai memasak bahan-bahan yang alami. “Seperti jaman kakek-nenek kita, makanannya kan didominasi kulupan (sayur yang dikukus, Red). Beda dengan sekarang yang didominasi makanan berminyak. Itu juga minyaknya kadang tidak jelas juga,” tuturnya. 

Secara perlahan, melalui gerakan Revolusi Pangan dari Dapur ini, Tanoker juga mengedukasi petani untuk menggunakan cara-cara semi organik dalam bercocok tanam. Begitu pula kalangan rumah tangga, diajak menggunakan bahan makanan dan bumbu yang alamiah. “”Memang rasanya tidak seenak jika dibandingkan dengan yang instan. Tapi lama-lama akan terbiasa kok,” kata Ciciek. 

Edukasi juga dilakukan Tanoker dengan hanya menyuguhkan makanan yang sehat kepada setiap tamu yang berkunjung ke Komunitas Tanoker di Desa Ledokombo. “Kami buat makanan tradisional, tidak hanya sedap dipandang mata tapi juga sehat,” jelasnya. 

Tak hanya pangan alami, keanekaragaman pangan juga menjadi perhatian tersendiri bagi Komunitas Tanoker. Nasi, sebut Ciciek selama ini sudah kadung jadi makanan pokok yang terlalu dominan bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Padahal, beras menurut Ciciek juga tidak lepas dari resiko penyumbang diabetes. “Kita juga mulai kampanyekan ini di luar Ledokombo. Kita undang perwakilan dari beberapa desa di Jember, meski respon yang ada belum sesuai harapan. Nampaknya masalah ini belum menjadi perhatian serius bagi banyak kalangan,” ungkapnya. 

Untuk mendorong keberhasilan program tersebut, Komunitas Tanoker bekerjasama dengan beberapa elemen lain. Seperti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unej, serta sejumlah NGO asing seperti Hivos (Belanda) dan IIED (Inggris).  

(jr/ad/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia