Rabu, 22 Aug 2018
radarjember
icon featured
Features
Menengok Kiprah Ahmadiyah Selama Ramadan]

Tidak Alami Diskriminasi, Tetap Aktif Donor Mata

Selasa, 12 Jun 2018 23:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Ahmadiyah,

CINTA DAMAI: Salah satu aktivitas sosial Ahmadiyah di Jember. Mereka ditekankan menyebarkan ajaran Islam yang damai. (JAI Jember for Radar Jember)

Kerap dianggap memiliki keyakinan yang berbeda, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) ingin membuktikannya dengan tetap menebarkan Islam yang ramah. Awal puasa ini, salah satu basis Ahmadiyah di Indonesia (di Lombok) diserang kelompok intoleran. Beruntung, di Jember mereka mengaku tidak pernah mengalami persekusi. 

Pada 19 Mei 2018 atau hari ketiga bulan Ramadan tahun ini, kekerasan kembali menimpa warga Ahmadiyah di Indonesia. Kali ini, giliran mereka yang berada di Dusun Gerepek, Desa Greneng, Lombok Timur, NTB. Sejumlah massa intoleran merusak rumah warga Ahmadiyah di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadan. 

Aksi persekusi dan diskriminasi bagi pengikut Ahmadiyah memang bukan hal yang baru sejak reformasi bergulir di Indonesia. Padahal, keberadaan Ahmadiyah di Indonesia telah ada sejak negeri ini belum merdeka. Selama itu pula, mereka bisa hidup rukun dengan sesama. Beberapa warga Ahmadiyah bahkan sempat berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia. Sebut saja seperti WR Supratman yang merupakan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

“Mereka melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah (seperti yang terjadi di NTB, Red) karena ketidaktahuan mereka terhadap Ahmadiyah. Faktor kecemburuan sosial saja, lantas akidahnya yang dijadikan alasan,” tutur Hamid Ahmad, Ketua Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Jember, ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, saat berbuka puasa bersama. Dalam perbincangan tersebut, Hamid ditemani Wahib Rahman, mubalig Ahmadiyah untuk wilayah Jember dan sekitarnya. 

Menurut Hamid, kekerasan dan diskriminasi terhadap warga Ahmadiyah di Indonesia hanya terjadi di daerah tertentu saja, seperti Jawa Barat ataupun NTB. Selain ekonomi, faktornya adalah politis. 

"Biasanya kalau mau ada pilkada, untuk merebut simpati masyarakat banyak, kepala daerah bisa membuat larangan beribadah terhadap Ahmadiyah. Bisa juga ketika usaha bersama warga Ahmadiyah maju, seperti di NTB kemarin, ada yang cemburu, lantas akidahnya dikait-kaitkan," tutur pria yang baru saja pensiun dari dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Unej ini. 

Meski demikian, selama ini Hamid mengaku Ahmadiyah di Jember tidak pernah mengalami diskriminasi. "Kalau di Jatim dan Jateng tidak akan berani, karena di sini toleran. Saya di kampus semua sudah tahu sejak lama kalau saya Ahmadi (sebutan untuk pengikut Ahmadiyah, Red)," tutur bapak tiga anak ini. Begitu pula dengan istrinya, Titien Suhermiatien yang tidak pernah dianggap berbeda selama menjalankan profesi sebagai dosen di Polije. 

Hamid mengenang, saat awal reformasi bergulir dan kelompok intoleran di Indonesia mulai menguat, dirinya langsung mendapat pembelaan dari warga NU, khususnya GP Anshor. "Saya kadang diajak salat jemaah dan dijadikan imam. Mereka bilang, lha wong salatnya sama, apanya yang sesat," kenang Hamid. 

Selama ini, Hamid kerap berdiskusi dengan beberapa tokoh NU dan Muhammadiyah di Jember, untuk menjelaskan bahwa keyakinan Ahmadiyah tidak berbeda dengan umat Islam kebanyakan. "Ada beberapa yang memang sedikit berbeda. seperti masalah tahlil, kan tidak bisa satu pendapat," tutur Hamid. 

Di Jember, warga Ahmadiyah memang hanya sedikit. "Hanya sekitar 10 kepala keluarga," terang Hamid. Karena masih sedikit, mereka belum membangun masjid sendiri. Untuk aktivitas bersama, mereka biasanya berkumpul di rumah Hamid di Kelurahan Tegalgede, Sumbersari. 

Meski berjumlah sedikit, tidak menghalangi Ahmadiyah di Jember untuk beraktivitas sosial. Di Indonesia, salah satu kegiatan sosial yang menjadi program Ahmadiyah adalah donor darah dan donor mata. "Karena donor mata ini kan masih jarang dan harus segera dilakukan beberapa jam setelah meninggal. Karena itu, anggota sudah tanda tangan surat donor mata ketika masih sehat," tutur Hamid. 

Meski kerap mengalami berbagai kekerasan dan diskriminasi, Hamid menjamin Ahmadiyah tidak akan pernah melawan dengan kekerasan. Sebab, dalam organisasi Ahmadiyah, ditekankan untuk menyampaikan Islam secara damai. "Di beberapa daerah yang kami diserang, sebenarnya kami mayoritas di desa tersebut. Tetapi kami tidak pernah membalas," tutur alumnus Fakultas Pertanian Unej ini. 

Jangankan membalas, berdemonstrasi pun, warga Ahmadiyah juga dilarang. "Karena kami ditekankan untuk setia pada negara," sambung Hamid. 

Karena ajarannya yang menekankan Islam damai itulah, Ahmadiyah sangat menentang terorisme, apalagi yang berkedok agama. Sebab itu pula, Ahmadiyah ,menurut Hamid, berkembang cukup pesat di Eropa. "Beberapa masjid terbesar di beberapa kota besar di Jerman dan negara Eropa lain, itu dibangun dari Ahmadiyah. Kita juga berperan menepis Islamophobia di Barat," ujar Hamid. 

"Bukan karena kami ingin membanggakan. Tetapi yang kami tekankan, jika kita sampaikan Islam yang damai, cinta pada negara dan rasional, itu bisa menekan Islamophobia," sambung Hamid. 

Kebetulan, pemimpin dan pusat Ahmadiyah sedunia saat ini berada di London. Ahmadiyah memang menganut sistem khalifah untuk menyebut pemimpin mereka. "Tapi yang perlu ditegaskan di sini, sistem khalifah di Ahmadiyah berbeda jauh dengan khalifah-nya Hizbut Tahrir atau HTI," tegas Hamid.

Khalifah di Ahmadiyah hanya menyangkut masalah rohani anggotanya dan tidak menghapus nasionalisme atau negara dari setiap anggotanya. "Kami juga dilarang berpolitik praktis dengan membawa nama Ahmadiyah. Boleh saja ikut politik, tapi tidak boleh bawa-bawa nama Ahmadiyah," ujar Hamid. Oleh karena itulah, saat kuliah di Unej, Hamid aktif di GMNI. 

Bahkan nama Hamid, yakni Hamid Ahmad, menurutnya merupakan pemberian dari khalifah di London. Sesuatu yang lazim di kalangan warga Ahmadiyah. "Ayah saya itu muslim biasa, abangan lah. Lalu ikut Ahmadiyah. Sehingga saya Ahmadiyah sejak kecil," pungkas pria asal Surabaya ini. 

(jr/ad/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia