Senin, 20 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Cegah Radikalisme Masuk Pesantren

Senin, 11 Jun 2018 16:41 | editor : Dzikri Abdi Setia

Radikalisme, polres jember, pemkab jember,

ANTISIPASI RADIKALISME: Susana kegiatan apel tiga pilar dalam rangka penanggulangan kelompok radikal, di aula PB Soedirman. Acara yang digagas Polres Jember ini diikuti tiga pilar pemerintahan tingkat desa, seperti Babinkamtibmas, Babinsa dan kepala desa (MAHRUS SHOLIH/RADAR JEMBER)

Radikalisme disebut telah masuk ke sejumlah perguruan tinggi. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan, ada beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia yang telah terpapar paham radikal tersebut. Mayoritas mereka mengontaminasi para mahasiswa dan tenaga pendidik di fakultas-fakultas eksakta, seperti pertanian, kedokteran, dan fakultas teknik. 

Terkait hal itu, Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief mewanti-wanti agar jangan sampai radikalisme juga meracuni ajaran di pondok pesantren. Dia meminta agar pesantren berhati-hati dalam menerima aliran baru yang biasanya dikemas dengan cara-cara yang eksklusif. Selain itu, wakil bupati yang juga pengasuh pesantren di Kecamatan Silo ini mengimbau, agar masyarakat lebih selektif dalam memilih pesantren yang bakal menjadi tempat pendidikan anak mereka. Apalagi, menurutnya, di beberapa tempat ada pelaku teror yang juga tercatat sebagai alumni pesantren. 

“Karena sekarang, pesantren sudah tidak didominasi oleh NU dan Muhammadiyah lagi. Tapi dari kelompok mereka juga ada yang mendirikan lembaga pesantren. Makanya harus hati-hati,” katanya. Pernyataan itu dia sampaikan saat diwawancarai sejumlah wartawan usai mengikuti kegiatan apel tiga pilar dalam rangka penanggulangan kelompok radikal, di aula PB Soedirman, Jumat (8/6) kemarin. Acara yang digagas Polres Jember ini diikuti tiga pilar pemerintahan di tingkat desa, seperti Bhabinkamtibmas dari unsur kepolisian, Babinsa dari unsur TNI, dan kepala desa se-Kabupaten Jember. 

Meski secara khusus belum ditemukan pesantren di Jember yang terpapar paham radikal, namun Muqit Arief menuturkan, tak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi jika tak segera diantisipasi. Oleh karenanya, dia kembali mengingatkan bahayanya paham yang dapat memecah belah bangsa ini jika sampai masuk ke pesantren. Sebab, dirinya khawatir, ajaran yang berciri mudah mengafirkan orang lain ini dapat mengancam persatuan umat. Terlebih, jika sampai mengubah kekhasan pesantren yang selama ini dikenal mengajarkan Islam yang rahmatan lil alamin. “Karena biasanya kelompok radikal itu menggunakan berbagai cara agar ajarannya bisa masuk ke pesantren. Sama kayak narkoba,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Muqit Arief menyatakan, untuk menangkal masuknya ajaran paham radikal itu ke pesantren, pemerintah daerah harus bergandengan tangan dengan unsur kepolisian, TNI, maupun organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak hanya itu, sambungnya, pelibatan masyarakat juga penting untuk mencegah menyusupnya radikalisme itu di lembaga pendidikan, baik umum maupun agama. “Saya kira masalah radikalisme adalah musuh bersama, sehingga harus melibatkan semua pihak, termasuk masyarakat,” ujarnya.

Sementara, Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo menyatakan, sejauh ini pihaknya telah berupaya mendeteksi kelompok-kelompok yang menyebarkan ajaran radikal di Jember. Sebab, dari kelompok inilah potensi aksi teror bisa dimulai. Meski tak menyebut seberapa besar jumlah kelompok radikal tersebut, namun Kusworo mengatakan, langkah mendeteksi ini sebagai upaya mengantisipasi terjadinya aksi-aksi terorisme di wilayah hukumnya. “Dan untuk melakukan penanggulangan terorisme ini tak cukup hanya polisi sendiri. Tapi, juga perlu kerja sama dengan instansi terkait yang lain," akunya.

Kerja sama itu, Kusworo mencontohkan, jika potensi radikalisme ada di lembaga sekolah, maka pihaknya perlu bekerja sama dengan dinas pendidikan. Jika di tingkat wilayah dan desa, harus ada sinergitas tiga pilar. Sedangkan penyebaran paham radikal di lembaga pemasyarakatan (lapas), pihaknya juga harus menggandeng kepala lapas. 

Selain itu, Kusworo menambahkan, keterlibatan kelompok masyarakat juga sangat penting untuk mencegah penyebaran radikalisme. Sebab, menurutnya, masyarakatlah yang bisa mengetahui lebih awal jika ada orang yang dicurigai sebagai anggota kelompok radikal tersebut. “Ciri-cirinya, mereka itu biasanya intoleran, merasa paling benar, dan kelompok lain dianggap kafir. Jika ada yang mengetahui segera laporkan ke polisi," imbaunya. 

(jr/hdi/rul/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia