Senin, 20 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

KAHMI Bakal Dirikan Pondok Tahfiz Alquran

Jumat, 08 Jun 2018 16:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

HMI Jember, KAHMI,

BELAJAR DI SEMARANG: Empat kader HMI Ritna, Jamil, Hakim, dan Hidayati calon pengelola Pondok Tahfidz Al Qur'an HMI Jember bersama Ustaz Dr M Nasih pendiri dan pembina Pondok Tahfidz Al Qur'an MONASH Institute Semarang. (HMI FOR RADAR JEMBER)

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jember berencana mendirikan pondok Tahfiz Alquran. Gagasan itu mulai dimatangkan dalam beberapa kali pertemuan KAHMI. Baik pertemuan KAHMI di Jember, atau dengan KAHMI yang ada di luar Jember. Salah satunya pertemuan di rumah dinas Mohammad Sarmuji, anggota DPR RI di Jakarta. 

Bahkan, sebagai embrio, KAHMI Jember mengirimkan empat kader HMI ke Pondok Tahfidz Al Qur'an MONASH Institute Semarang. Pondok Tahfidz Al Qur'an Monash Institute Semarang juga dikelola oleh KAHMI. Empat kader HMI yang menimba ilmu di Semarang  adalah Ritna (perwakilan dari HMI Komisariat Ekonomi Unej), Jamil (perwakilan BPL HMI Jember), Hakim (perwakilan pengurus HMI Cabang Jember) dan Hidayati (perwakilan KOHATI-HMI Jember). 

Program magang empat kader calon pengelola Pondok Tahfidz Al Qur'an selama dua minggu yang dibiayai MD KAHMI Jember itu sudah selesai dilaksanakan. Keempat kader sudah balik ke Jember dan siap mulai merintis penyelenggaraan Pondok Tahfiz Alquran yang rencananya akan menempati bangunan belakang Gedung Graha Yabina Jember.

“Kami KAHMI Jember memang sedang menggodok untuk mendirikan Pondok Tahfidz Al Qur'an. Salah satunya saat kumpul-kumpul membahas persiapan pendirian Pondok Tahfidz Al Qur'an seusai buka bersama di rumah dinas Sarmuji,” kata Presiden KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) yang juga sekretaris MD KAHMI Jember Kris Hendrijanto kepada Jawa Pos Radar Jember. 

Dosen FISIP Unej itu menjelaskan, ada beberapa catatan hasil pembahasan tentang Pondok Tahfidz Al Qur'an.  “Rintisan program Tahfiz Alquran akan dimulai pada awal semester satu tahun ajaran 2018/2019. Sosialisasi program akan mulai dilaksanakan bersamaan dengan masa pendaftaran ulang atau awal perkuliahan mahasiswa baru,” imbuhnya. 

Dia menjelaskan, pada tahap awal diharapkan bisa menjaring 20 orang mahasiswa-mahasiswi baru yang dinilai memiliki kualifikasi untuk mengikuti program. “Dari jumlah minimal 20 orang tersebut, diharapkan setiap komisariat bisa mengirimkan calon santri/santriwatinya,” ungkapnya.

“Setiap santri atau santriwati yang mengikuti program wajib mengikuti kegiatan perkaderan LK 1 HMI,” ujarnya. Fasilitas yang disediakan berupa  pemondokan di Gedung Graha Yabina. Kedua, dana beasiswa (SPP kuliah). Fasilitas yang lain akan ditambahkan seiring dengan meningkatnya kemampuan finansial pengelola.

Hidayati, salah seorang kader HMI yang magang di Monash Institue Semarang menjelaskan serangkaian kegiatan yang diikutinya. “Jamaah salat lima waktu dan salat Tarawih. Agenda rutin setoran hafalan Alquran. Murojaah atau mengulang hafalan Alquran. Fasilitas untuk Jurusan Kewirausahaan,” ujarnya 

Kegiatan tambahan, kelompok hadrah Monash Institute saat acara launching dan bedah buku karya mahasantri Monash Institute. “Ada kajian dan diskusi rutin,” ujarnya.

(jr/dwi/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia