Jumat, 17 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Awas, Boraks pada Bahan Makanan

Jumat, 08 Jun 2018 14:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Sidak daging, Jelang Lebaran,

SIDAK DAGING: Bagian peternakan pada dinas pertanian melakukan pemeriksaan daging di beberapa jagal, (Sholikhul Huda/Radar Ijen)

Berita Terkait

Menjelang Lebaran, kebutuhan daging meningkat. Sebagai antisipasi kesehatan, bidang pertanian Disperta dan tim Diskoperindag Bondowoso melakukan pemeriksaan daging. Pemeriksaan itu sebagai upaya memastikan daging dalam kondisi baik atau layak konsumsi. Selain daging, bahan pembuat bakso juga tak luput dalam pantauan.

Beberapa jagal dan selep daging menjadi sasaran pemeriksaan. Awal kali yang dituju adalah penjual daging. Tim memeriksa kondisi keasaman daging atau pH. Jika pH-nya terlalu tinggi, maka kondisinya tidak layak konsumsi. Sebab, pH standar itu antara 6 sampai 7. “Setelah kami periksa, seluruhnya tidak ada yang melebihi ambang batas untuk daging, jadi aman konsumsi,” jelasnya drh Cendy Herdiawan, Kabid Kesehatan Hewan, Masyarakat Veteriner dan P2HP.

Sementara untuk selep daging, yang diperiksa adalah kandungan boraks. Sebab, kandungan boraks sering kali dipakai untuk campuran daging yang akan dibuat pentol atau bakso. Petugas mengambil sampel bagi masing-masing bahan yang diselep. Selanjutnya, melakukan tes di tempat mengenai kandungan boraks.

Hasil pemeriksaan, kata dia, mayoritas tidak ada kandungan boraksnya. Namun, ada yang indikasinya muncul, namun samar. Sehingga, untuk membuktikan kandungan boraks, maka perlu diuji lagi. 

Namun yang mencengangkan, lanjut dia, pada toko bahan campuran penggilingan daging, ada bahan pengenyal yang dijual. Itulah yang mengandung boraks seratus persen. Petugas mengambil sampel bahan pengenyal yang berwarna putih di salah satu toko. Saat dites, kata dia, indikator berwarna merah. “Ini yang disebut boraks,” ujar Edi Poernomo, tim dari peternakan.

Memang dalam sidak itu tidak ditemukan daging dengan pH tinggi dan tidak ditemukan bahan pentol yang positif mengandung boraks. Namun, yang menjadi imbauan adalah adanya pencampuran bahan pengawet dan bahan pengenyal makanan. Biasanya, bahan itu menggunakan boraks. “Boraks itu biasanya dipakai untuk membuat campuran detergen, pengawet kayu. Jika ditaruh di makanan, ini sangat berbahaya,” tegasnya. 

(jr/hud/sh/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia