Rabu, 22 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Gandeng Kampus Bentuk Destana

Kamis, 07 Jun 2018 13:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Destana, Fisip Unej,

MENJELASKAN: Widy Prasetyo, kepala BPBD Jember, saat menjadi pemateri workshop kebencanaan di aula FISIP, (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Pengurangan risiko bencana bisa dilakukan dengan menggandeng berbagai instansi. Salah satunya adalah perguruan tinggi negeri. Kuliah kerja nyata (KKN) yang dilakukan mahasiswa bisa menjadi wadah untuk mengedukasi warga tentang bencana. 

Pembahasan itu mengemuka dalam kegiatan workshop transformasi menuju desa tangguh bencana (Destana) di aula Fisip Unej, kemarin (4/5). “Jember berpotensi terjadi bencana, tak hanya banjir, tapi juga tsunami,” kata Widy Prasetyo, kepala BPBD Jember saat menjadi pemateri. 

Menurut dia, ancaman bahaya longsor, tsunami, dan banjir sudah terjadi sejak tahun 1974 hingga 2017 sampai sekarang bencana tetap berpotensi. “Kita hidup berdampingan dengan bencana, sehingga perlu desa tangguh bencana,” tambahnya.

Diakuinya, bencana bukan hanya bencana alam, tetapi juga nonalam dan bencana sosial. Bencana sosial misal kemiskinan, radikalisme, dan lainnya. “Semua itu bisa dicegah melalui Destana,” tuturnya. 

Mitigasi bencana dilakukan secara terstruktur melalui Destana. Hanya saja, belum semua desa mendirikannya. Untuk itu, perlu sinergitas dengan lembaga lain, seperti para mahasiswa. “Destana ada tiga level, Destana pratama, madya, dan utama,” jelasnya.  

Sementara itu, Andri Purnomo, kabid pemerintah, sosial budaya Bappeda Jember menambahkan, peran pemerintah daerah dalam mengurangi risiko bencana melalui regulasi. “Ada dua kebijakan. Pertama perda Nomor 1 Tahun 2015 tentang RTRW, Perda Nomor 5 Tahun 2017 tentang Perubahan RPJMD,” terangnya. 

Dalam RTRW ada tujuh kawasan risiko bencana, mulai dari tanah longsor sampai kekeringan “Perannya berupa regulasi. Ada arahan dan target yang ditetapkan untuk mendukung pengurangan risiko bencana,” tambahnya. 

Djoko Purnomo, pembina korps relawan kampus Unej menambahkan, pembentukan Destana perlu intervensi dari pemerintah. Sehingga, mitigasi bisa dilakukan sejak dini. “Workshop ini targetnya membangun masyarakat tahan bencana secara mandiri,” pungkasnya. 

(jr/gus/wah/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia