Senin, 20 Aug 2018
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Indahnya Ranu Pane Tertutup Kiambang

Kamis, 07 Jun 2018 13:05 | editor : Dzikri Abdi Setia

Ranu Pane, Kiambang,

Beberapa tahun terakhir, rimbunan tumbuhan kiambang atau salvinia molesta tumbuh menutupi keindahan permukaan danau Ranu Pane. Sudah dua bulan lebih, puluhan aktivis dari lintas unsur berupaya membersihkan kiambang di permukaan danau yang berada di ketinggian 2.200 mdpl tersebut.

Giat ini dilakukan tiap hari, terhitung sudah 70 hari berjalan sampai saat ini. Sekitar 20 penggiat lingkungan terlibat. Beberapa dari mereka menaiki sebuah perahu untuk menuju ke tengah permukaan. Lantas mendorong tanaman tersebut ke pinggir. ”Dari pinggir diangkat teman-teman yang lain untuk dibuang ke daratan,” ucap Andi Iskandar, salah seorang penggerak giat pembersihan Ranu Pane kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Saat ini, ada sekitar 1 hektare permukaan Ranu Pane yang masih tertutup kiambang. Sebelumnya, sekitar 4 hektare atau hampir seluruh permukaan danau tersebut tertutupi oleh tanaman vegetasi yang daya tumbuhnya begitu cepat itu. 

Tertutupnya permukaan salah satu ranu atau danau Lumajang dari tanaman yang cenderung menyedot kandungan oksigen air itu bukan baru kali pertama terjadi. Andi menuturkan, 2012 dia bersama penggiat lingkungan lainnya sudah pernah melakukan upaya pembersihan serupa. Namun, pada 2015 seluruh permukaan Ranu Pane kembali tertutup kiambang. “Tanaman ini mampu tumbuh dengan cepat. Dalam satu bulan saja sudah akan meluas lagi. Kecenderungannya menyerap oksigen air danau bisa mengancam mahluk hidup lainnya, seperti ikan, yang hidup di dalam danau. Jika kadar oksigennya minim, ikan-ikan berpotensi mati,” papar Andi. 

Lebih dari itu, lanjutnya, tiap tahun luasan Ranu Pane terus mengalami penyusutan. Pada kurun 90-an, danau tersebut memiliki luasan 7 hektare. Namun, sekarang hanya tinggal 4 hektare saja. 

Dari kajian yang dia dapat, penyusutan luasan itu terjadi karena proses sedimentasi atau endapan dari perkebunan warga yang ada di sekeliling danau. Fenomena sedimentasi ini, kata Andi, lebih serius dan lebih susah ditangani ketimbang pertumbuhan kiambang. “Tidak bisa diatasi secara langsung. Upaya pengerukan hanya bisa dilakukan sesaat. Setelah itu akan muncul lagi endapan,” terangnya. 

Hal yang perlu dilakukan, menurutnya, pemerintah harus melakukan sosialisasi tentang tata guna lahan yang ada di sekeliling atau di atas danau tersebut. Jika tidak, Lumajang berpotensi kehilangan salah satu ranunya yang paling unik, lantaran berada di atas ketinggian 2.200 mdpl.

(jr/was/aro/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia