Rabu, 19 Sep 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

45 Hektare Hutan Meru Betiri Rusak

Kamis, 17 May 2018 14:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Taman Nasional Meru Betiri, Unej,

PEMAPARAN: Hari Sulistyowati, salah satu peneliti program Mitigasi Berbasis Lahan saat menjelaskan hasil penelitiannya (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Tingkat kerusakan lahan Taman Nasional Meru Betiri (TMNB) hingga tahun 2016 lalu mencapai sekitar 45 hektare. Kerusakan setiap tahun itu berdasarkan data dari peta citra landsat sejak tahun 1999 hingga 2016. Penyebabnya beragam, mulai illegal logging, bencana, penjarahan, kebakaran dan lainnya. 

“Semua kerusakan kawasan membuat fungsinya terganggu,” kata Kholid Indarto, kepala TNMB. Kerusakan itu, kata dia, dari total luas lahan sekitar 52 ribu hektare dari Banyuwangi hingga Jember. Pembahasan perlindungan lahan Meru Betiri itu menjadi diskusi penting di Gedung Soetarjo kemarin (15/5). Yakni dalam Expose Program Mitigasi Berbasis Lahan. 

Menurut Kholid, TNMB memiliki fungsi  perlindungan pada ekosistem, mengawetkan keanekaragaman hayati dan memanfaatkan potensi untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan itu, TNMB tidak bisa bergerak sendiri, perlu bekerja sama dengan masyarakat dan instansi lainnya. 

Salah satu sinergi yang dibangun dengan Universitas Jember dalam Program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan yang didukung oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bappenas serta USAID. “ICCTF bisa mempercepat pemanfaatan potensi,“ ujarnya. 

Pengelolaan lahan TNMB, lanjut dia, perlu melibatkan berbagai pihak, terutama warga di sekitar  kawasan. Mereka bisa menjadi subjek atau pelaku dalam kegiatan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. 

Dalam perlindungan, upaya yang dilakukan adalah dengan berpatroli, seperti masyarakat mitra polhut. Ada juga pokdarwis yang bertugas menyinergikan dalam pengelolaan potensi  di dalam dan luar kawasan. “Pemanfaatan lahan ini juga harus memberikan andil terhadap pelestarian,” ucapnya. 

Bentuk lainnya, kata dia, pemberdayaan masyarakat, pendidikan dan penelitian yang dilakukan oleh akademisi. “Kerja sama itu bisa menjadi pemicu untuk membuka komponen masyarakat di sekitar kawasan tentang pentingnya pemanfaatan berbasis pelestarian,” jelasnya. 

Sementara itu, Sudaryanto, project leader ICCTF Indonesia menilai Unej berhasil  menjalankan program Mitigasi Bencana Berbasis Lahan. Salah satunya adalah melalui penanaman 91 ribu bibit tanaman durian, langsep, kemiri, dan pakem, dari target yang awalnya hanya 82 ribu bibit tanaman. “Penyerapan karbon yang ditarget 1,135 ton per hari, naik menjadi 1,913 ton per hari,” imbuhnya. 

Program tersebut, kata dia, mendapat  dukungan dana dari  ICCTF, bahkan  melampaui target yang sudah ditetapkan. Program yang dijalankan selama 17 bulan itu diharapkan mendapat balasan dari instansi terkait seperti Pemkab Jember, agar tujuan penurunan emisi rumah kaca sebagai bagian dari penanggulangan efek perubahan iklim dapat tercapai. 

ICCTF, kata dia, merupakan lembaga wali amanah yang mengelola dana internasional. Dana itu digunakan untuk menanggulangi efek perubahan iklim. Seperti pengurangan emisi rumah kaca di Indonesia. Indonesia telah bertekad untuk mengurangi emisi rumah kaca hingga 41 persen hingga tahun 2030. 

Hari Sulistyowati, salah satu peneliti  program itu memaparkan, ada empat program yang dijalankan. Yakni produktivitas kawasan rehabilitasi, nilai ekologi kawasan rehabilitasi, peningkatan kualitas tanah, dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. 

Selain penanaman bibit tanaman di kawasan rehabilitasi dalam kawasan TNMB, juga memberikan berbagai keterampilan bagi warga Desa Wonosari, sehingga warga tidak lagi merambah TNMB. Seperti budidaya semut angkrang, pembuatan silase, pembuatan batik dengan pewarna alami, dan keterampilan lainnya. 

Rektor Universitas Jember Moh Hasan menambahkan, Unej akan melanjutkan rintisan yang ada untuk pengelolaan lahan tersebut. Yakni,  menjadikan Desa Wonoasri sebagai desa binaan Universitas Jember. “Program ini banyak manfaat yang diperoleh, baik bagi peneliti dan mahasiswa kampus Tegalboto maupun masyarakat,” pungkasnya. 

(jr/gus/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia