Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon featured
Features
Deddy Prasetyo, Pelatih Tenis

Saya Bukan Atlet Berprestasi, tapi Ingin Lahirkan Atlet Berprestasi

Kamis, 10 May 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Pelatih Tenis,

MODERNISASI OLAHRAGA: Deddy Prasetyo, di sela-sela pembukaan coaching clinic di Kaliwates, beberapa hari lalu. (Dwi Siswanto/Radar Jember)

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pola pelatihan olahraga pun ikut berubah. Atlet berbakat tidak semata mengandalkan kekuatan dan semangat, tetapi juga dari pola pelatihan yang tepat dengan berbasiskan sains. Seperti yang dilakukan oleh Deddy Prasetyo, pelatih tenis nasional yang lusa kemarin datang ke Jember. 

Permainan tenis di Lapangan Tenis GOR PKPSO pada sore itu tidak seperti biasanya. Dua orang atlet bermain tenis dengan hanya menggunakan setengah lapangan. Sesi selanjutnya malah lebih unik lagi. Lapangan tenis yang digunakan bermain hanya seperempat saja. 

“Ini adalah pola pelatihan tenis untuk atlet usia dini dan remaja yang mengandalkan inteligensi, bukan semata kecepatan,” tutur Deddy Prasetyo yang sore itu menjadi fokus perhatian dari puluhan pasang mata. 

Ini bukan sekadar latihan tenis biasa. Deddy merupakan pelatih tenis kaliber nasional. Sederet atlet tenis kaliber nasional telah dilahirkan tangan dinginnya. Salah satunnya adalah Christopher Rungkat, pemain tenis kedua asal Indonesia yang mampu merengkuh gelar di turnamen Grand Slam setelah Angelique Widjaja. Menariknya, semasa muda, Deddy justru bukan termasuk atlet tenis yang berprestasi di level nasional. 

 “Dia memang pemain (tenis, Red), tapi bukan level nasional. Ya mungkin level daerah lah,” tutur Soetriono, ketua Pengkab Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Jember. Pelti Jember, lanjut Soetriono, sengaja mendatangkan coach Deddy dalam acara coaching clinic selama tiga hari, bersamaan dengan gelaran Unej Cup IV tahun 2018. 

 “Kita ingin ada sentuhan modern sains dalam pola pelatihan tenis di Jember. Oleh karena itu, di hari terakhir, kita juga undang empat klub tenis yang ada di Jember,” jelas Soetriono. Tak hanya dari Jawa Timur, peserta coaching clinic yang dihelat Pelti Jember juga berasal dari berbagai daerah. Bahkan, ada pula yang datang dari Papua. 

Dalam dunia sepak bola, kiprah Deddy bisa disamakan dengan beberapa nama pelatih klub sepak bola besar Eropa yang bukan berlatar belakang pemain. Sebut saja Jose Mourinho, salah satu pelatih tersukses asal Portugal yang justru tidak pernah menjadi pemain sepak bola senior. Jose menyerap ilmu kepelatihan justru dari berbagai kursus kepelatihan. 

Begitu pula dengan Deddy Prasetyo yang sukses sebagai pelatih berkat aneka ragam kursus kepelatihannya. "Awalnya coach Deddy belajar secara autodidak. Dia banyak buku ilmu kepelatihan yang memadukan pendekatan sains,” jelas Soetriono. 

Jalan kepelatihan Deddy makin moncer setelah dia berkawan dan berguru dengan Frank van Fraayen Hoven dari KNLTB, Belanda. Frank pula yang selama beberapa tahun terakhir didapuk oleh pengurus pusat Pelti untuk memodernisasi pola pelatihan tenis di Indonesia. “Bisa dibilang, coach Deddy ini adalah murid terbaik dari Mr Frank. Jadi, Mr Frank ini semacam konsultan pelatihan dari Pelti nasional,” tutur Soetriono yang juga atlet veteran tenis lapangan ini. 

Selama beberapa tahun pula, Deddy mengikuti berbagai macam kursus kepelatihan resmi yang diadakan oleh International Tennis Federation (ITC), induk cabang olahraga tenis lapangan dunia. “Om Deddy bisa dibilang hobi sekolah. Dia kursus kepelatihan ke berbagai negara, seperti Belanda, Jerman, Australia, dan lain-lain,” tutur pria yang juga menjabat sebagai guru besar Fakultas Pertanian Universitas Jember ini. 

Karena kiprahnya itu pula, Deddy didaulat sebagai Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar (PB) Pelti. “Coach Deddy memang cinta tenis, karena menurutnya ini olahraga yang unik. Ada seninya,” jelas Soetriono. 

Dalam coaching clinic selama tiga hari di Jember, ada banyak materi yang bisa dibilang baru didapatkan oleh insan olahraga tenis di Jember. “Kita baru tahu, ternyata selama masa pubertas, atlet tenis itu tidak boleh digenjot pola latihannya. Karena secara sains, itu memberikan dampak yang tidak baik pada anatomi tubuh,” tutur Soetriono. 

Pola latihan yang berlebih pada masa remaja, bisa membuat otot-otot yang seharusnya tidak menonjol, akan menjadi menonjol. “Itu bisa bikin cedera. Makanya, kalau masih masa pubertas, tidak disarankan untuk angkat beban,” tutur Soetriono. 

Selain itu, para orang tua dan pelatih juga diharapkan untuk tidak menggenjot anak-anak yang masih berusia antara 10 hingga 14 tahun, untuk menjadi juara dalam setiap kejuaraan yang diikutinya. “Anak usia segitu yang paling penting adalah konsistensi permainan, bukan power. Karena dengan begitu, inteligensinya akan lebih berkembang dan mampu membaca kekuatan lawan,” lanjut Soetriono. 

Jika pada usia 10 hingga 14 tahun seorang atlet sudah digenjot untuk mengejar juara, akan berakibat negatif ketika menginjak usia 16 tahun. “Di usia dini, yang lebih penting adalah pemahamannya,” tutur  Soetriono. 

Oleh karena itulah, pada coaching clinic kemarin, Deddy Prasetyo menerapkan pola latihan dengan menggunakan setengah dan kemudian seperempat halaman. “Tidak perlu bermain dengan cepat. Kalau lapangannya cuma setengah atau seperempat, pukulannya tidak mengandalkan power, tapi kejelian. Karena mengasah kejelian itu yang lebih penting untuk atlet usia dini. Kalau power nanti akan mengikuti sendiri,” jelas Deddy memberikan alasan. 

Ditemui Jawa Pos Radar Jember usai pembukaan coaching clinic, Deddy nampak cukup antusias diundang untuk memberikan pelatihan di Jember. “Jawa Timur di masa lalu itu gudangnya atlet berprestasi. Maka, saya harap kita bisa mengulanginya lagi, antara lain dengan coaching clinic seperti ini,” pungkas Deddy.

(jr/ad/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia