Senin, 20 Aug 2018
radarjember
icon featured
Features
Eni Siti Nurhayati, Guru Penulis Sastra Jawa

Dimotivasi Putri Sulung, Tetap Semangat Meski Sepi Apresiasi

Senin, 19 Mar 2018 08:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Guru Bahasa Indonesia, Sastra Jawa,

PRESTASI LANGKA: Tak berharap apresiasi tinggi, Eni Siti Nurhayati memilih terus berkarya di Sastra Jawa. (Eni Siti Nurhayati for Radar Jember)

Di era kekinian, sastra daerah termasuk sastra Jawa, kian langka. Namun, seorang guru Bahasa Indonesia di Kencong, justru kian produktif menulis sejak usianya menjelang 40 tahun. Termotivasi prestasi sang anak. 

 “Menulislah bu, supaya ibu punya tempat melarikan diri dan mengembangkan potensi diri”. Pesan singkat itu tercetus pada tahun 2012, dari sang anak. Sejak saat itu, Eni Siti Nurhayati, seperti memulai hidup baru dari nol. Di usianya yang kala itu sudah menginjak 37 tahun, Eni memulai sisi lain dari hidupnya, yakni sebagai seorang penulis. 

Dunia tulis-menulis dan perbukuan sejatinya bukan hal baru bagi Eni. Selain karena profesinya sebagai guru Bahasa Indonesia yang menuntutnya untuk banyak terlibat dalam sastra, membaca sudah menjadi kegemarannya sejak remaja. 

Sehari-hari, Eni mengajar di MTsN 9 Jember yang ada di Kencong, Jember. Sebelumnya, sejak tahun 2014 sampai 2016, Eni mengajar di MTsN 4 Jember, juga untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, Eni gemar sastra Jawa sejak masih anak-anak. Beberapa majalah Sastra Jawa yang kini mulai langka seperti majalah Penjebar Semangat (dibaca Penyebar Semangat), sudah menjadi langganannya sejak lama. ”Dulu semasa SMP, saya memang aktif menulis di media lokal. Tetapi, kemudian sempat vakum beberapa tahun,” tutur alumnus D2 PGSD IKIP Malang dan STKIP PGRI Jombang ini. 

Lalu, tiba momen ketika anak sulungnya, Farah Aida Ilmiatul Kulsum pada tahun 2012, meraih Juara Nasional lomba menulis bertajuk LMC yang diadakan Kemendikbud. Prestasi sang buah hati itu yang kemudian menginspirasi sang bunda untuk kemudian menulis. 

Beberapa bulan kemudian, terbitlah cerpen pertamanya setelah sekian tahun. Cerpen berjudul “April Mop” itu terbit di majalah Sastra Jawa, Jaya Baya pada edisi April 2013. Selang beberapa waktu kemudian, cerpen yang juga ia tulis dalam Bahasa Jawa berjudul “Layang Kanggo Kancaku Lawas” (artinya: Surat untuk Teman Lamaku) dimuat di Majalah Penjebar Semangat. Majalah bersejarah yang sudah terbit sejak Indonesia belum merdeka itu memuat cerpen karya Eni pada November 2013. 

Sejak itulah, silih berganti, tulisan Eni dimuat berbagai majalah. Semuanya dalam bentuk cerpen berbahasa Jawa, khususnya romansa. Sesuatu yang kini jarang ditekuni oleh kebanyakan penulis di Indonesia. “Tahun 2013 itu, saya seperti menemukan hidup baru,” tutur ibu dari dua anak, Farah Aida Ilmiatul Kulsum (kuliah di Pariwisata-UGM) dan  Salman Al Farizi Zamzam (kelas 3 SMPN 1 Kencong)  ini. 

Diakui Eni, ia sempat sedikit tidak percaya diri saat awal memulai karier kepenulisan. Bukan semata karena usia. “Saat itu saya masih gaptek untuk teknologi. Mengetik di laptop saja masih pakai dua jari,” tutur Eni sembari tersenyum. 

Namun, dorongan semangat dari buah hati yang menjadi energi tersendiri bagi Eni untuk terus berkarya di bidang yang jarang ditekuni orang, Sastra Jawa. Nyaris setiap malam, Eni berkutat dengan tulisan-tulisan, setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai guru di pagi hingga siang hari. “Dari cerpen-cerpen itu, beragam hal yang tidak bisa saya gapai, lakukan, atau hanya sebatas keinginan, bisa dengan mudah saya peroleh,” tutur Eni sembari tersenyum. 

Hingga lebih dari lima tahun menjalani karier sebagai penulis sastra Jawa, sudah ratusan cerpen yang Eni hasilkan. “Ada sedikit penyesalan. Kenapa baru mulai saat usia sudah tidak muda. Mungkin takdir ya,” tutur Eni sembari tertawa. 

Setelah ratusan cerpen romansa berbahasa Jawa dihasilkan, pada tahun 2016, Eni terdorong untuk mengumpulkan karya-karyanya yang terserak. Ia memberanikan diri untuk menerbitkan buku kumpulan cerpennya secara indie melalui Penerbit 9 Mutiara, Trenggalek. “Saya dapat nama penerbit itu dari browsing di dunia maya,” tutur penggemar novel-novel klasik karya sastrawan angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru itu. 

Dari awal, buku yang diterbitkan secara mandiri pada tahun 2016 itu, Eni makin bersemangat untuk terus berkarya. Total sudah ada empat buku yang merupakan antologi cerpennya dalam bahasa Jawa. Masing-masing berjudul: Kadhung Kepencut,  Ngrembuyunge Kembang Tresna, Gogroge Kembang Tresna, dan  Timbangan Tresna. 

Diakui Eni, bergelut dengan Sastra Jawa di era saat ini bukan sesuatu yang menarik. Pasalnya, penggemar Sastra Jawa kian hari kian menipis. “Saya tak pernah berharap muluk, meski karya-karya saya sepi apresiasi. Karena menulis bagi saya merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan luka,” tutur alumnus Magister Pendidikan Islam, Unipdu Peterongan Jombang ini. 

Meski sepi apresiasi, bukan berarti karya Eni tak mengantarkannya pada prestasi. Pada awal November 2017, Eni berkesempatan mengikuti Teacher Supercamp 2017 yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, bekerja sama dengan Kementerian Agama. Saat itu, Eni menjadi satu-satunya guru asal Jember dari 100 guru yang lolos seleksi ketat. Eni bisa lolos mengikuti ajang bergengsi itu berkat karya cerpennya yang berjudul “Hati yang Terbunuh”. 

Bagi Eni, menulis juga bisa sekaligus memperluas jalinan silaturahmi. Berkat karya-karyanya itu misalnya, nama Eni bersilaturahmi dengan orang-orang di banyak tempat. “Surprise sekali saat tahu buku-buku saya di baca oleh komunitas warga Jember yang ada di Berau,” tutur perempuan yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Keting, Kecamatan Jombang ini. 

Saat ini, Eni sedang mempersiapkan dua buku barunya. Masing-masing berjudul “Prasasti” yang merupakan novel Jawa, serta kumpulan cerita anak yang berjudul “Mereka Memanggilku Kandi Kuprit”. Kedua buku yang masih dalam proses terbit itu diterbitkan oleh Penerbit Media Guru. “Buku-buku saya sebelumnya saya promosi dan distribusikan lewat jalur media sosial, terutama Facebook,” pungkas penggemar N.H. Dini dan Nugroho Notosusanto ini.

(jr/ad/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia