Selasa, 25 Sep 2018
radarjember
icon-featured
Perspektif
Jelajah Destinasi Wisata Turki (2)

Tongkat Nabi Musa Masih Tersimpan Rapi

Jumat, 20 Oct 2017 04:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

gerbang topkapi, turki, radar jember

SITUS BERSEJARAH: Pintu gerbang Istana Topkapi, Istanbul (Choliq Baya/radar jember)

Siapa yang tidak kenal kota Istanbul, kota peradaban sejarah yang sangat tua di dunia. Di kota ini ada Istana Topkapi yang sangat tersohor. Berbagai peninggalan benda bersejarah sejak abad sebelum masehi masih terawat dan tersimpan rapi. Diantaranya tongkat Nabi Musa yang dipakai membelah laut merah saat dikejar pasukan Raja Firaun.  

SETELAH menempuh perjalanan selama 15,5 jam dari Bandara Juanda Surabaya, akhirnya saya sampai di Kota Istanbul, Turki. Perjalanan yang cukup melelahkan itu cukup menyita tenaga karena kurang istirahat. Dari Juanda saya terbang pukul 18.45 WIB dengan Silk Air menuju bandara Changi Singapura. Di Singapura kami transit tiga jam dengan menghabiskan waktu di area bandara. Baru pukul 01.45 dini hari waktu setempat (selisih sehari dengan WIB), kami terbang ke Istanbul dengan Singapore Airlines.

‘’Alhamdulillah…..,’’ ucap saya memanjatkan syukur saat pesawat mendarat di Bandara Ataturk Istanbul pada pukul 7.45 waktu setempat. Perbedaan waktu antara Turki dan Indonesia lebih lambat 4 jam. Begitu lamanya di atas pesawat, sampai-sampai saya merasa kehabisan gaya saat tidur he.. he.. he.. 

Proses pengecekan paspor dan visa di imigrasi Istanbul cukup cepat dan lancar meski antrean cukup panjang. Keluar dari pemeriksaan imigrasi, saya langsung menuju money changer untuk tukar mata uang US dolar ke Lira Turki. Seorang guide lokal bernama Ali Ekinci sudah siap menjemput bersama kendaraan jenis minibus yang sudah disiapkan di parkir pintu kedatangan bandara. Selain Ali yang asli orang Turki, kami juga didampingi Ami, guide asal Indonesia. 

Hari pertama di Turki, kami diajak mengelilingi destinasi wisata yang ada di Istanbul. Bekas ibukota Turki ini merupakan kota paling ramai di Eropa. Sebab, jumlah penduduknya sekitar 20 juta jiwa. Dari Bandara Ataturk, Kami berombongan 10 orang yang terdiri dari pimpinan Radar Jawa Pos, diangkut mobil van Mercy menuju Topkapi Palace. Salah satu destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi wisatawan. 

Istana ini dibangun oleh Sultan Mehmet II setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel tahun 1453. Topkapi Palace menjadi pusat pemerintahan sekaligus merupakan kediaman resmi para Sultan Ottoman (Usmani) selama 400 tahun (1465-1856). Topkapi Palace menjadi museum dan terdiri dari berbagai bangunan yang dibagi dalam beberapa area. Istana Topkapi berubah fungsi menjadi museum pada 1924.

Dalam bahasa Turki, "Topkapi" berarti gerbang meriam. Nama tersebut diambil dari meriam-meriam besar yang ditampilkan di depan gerbang istana. Meriam inilah yang digunakan ketika merebut kota Istanbul yang dahulu dikenal sebagai Konstantinopel. 

Setelah membeli tiket yang dikoordinasi pemandu wisata, kami memasuki pintu gerbang istana yang menjulang tinggi. Di atas pintu gerbang itu ada tulisan kaligrafi besar “Laailaha illallah Muhammadur Rasulullah’’. Istana yang total luasnya 699.000 m2 atau seluas 97 stadion sepak bola ini, setiap tahunnya dikunjungi sekitar 39 juta wisatawan.

Karena arealnya cukup luas, kami tidak sampai terlalu detail mengunjungi berbagai sudut istana. Termasuk tidak masuk melihat dapur yang cukup besar. Konon, dapur itu mampu memasak untuk memenuhi makanan 41 ribu orang. Setelah melewati kebun mawar, saya melihat keindahan selat Bosphorus yang membelah kota Istambul masuk ke dalam benua Asia dan Eropa.  

Puas menikmati selat Bosphorus, saya masuk ke area museum. Di sini tersimpan cukup rapi arsip dan benda-benda bersejarah yang luar biasa. Ada sekitar 300 ribu dokumen yang disimpan di museum ini. Mulai dari benda bersejarah peninggalan sebelum hingga sesudah masehi. Mulai dari peninggalan di zaman Nabi Ibrahim hingga barang pribadi milik sultan dan keluarganya. 

Benda-benda itu antara lain, aneka senjata seperti panah, tombak, pedang, senapan, pistol, trisula hingga pakaian perang yang terbuat dari besi. Ada pedang Nabi Muhammad dan empat sahabat nabi: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Termasuk pedang para pahlawan Islam yang dikenal dengan singa padang pasir Khalid Bin Walid dan Ammr Bin Asyr. Ada pula pedang peninggalan tentara Kerajaan Romawi. Panjangnya sekitar dua meter dengan lebar sekitar 10 cm. Ada tanda salib di bagian bilah pedang yang tajam. 

Selain itu juga ada barang bersejarah peninggalan para nabi. Seperti surban Nabi Ibrahim, Pedang Nabi Dawud, dan tongkat Nabi Musa. Tongkat Nabi Musa yang mampu membelah laut merah saat dikejar tentara Firaun disimpan dalam kotak kaca dengan diterangi lampu kecil. Panjangnya sekitar 1,2 meter. Bentuknya seperti patahan ranting pohon.

Benda bersejarah lainnya, ada jubah Nabi Muhammad yang disimpan dalam kotak emas. Ada jubah Fatimah dan Husin, putri dan cucu Rasulullah. Ada juga bekas cashing hajar aswad, talang emas dan kunci Kakbah. Semua koleksi benda bersejarah di museum ini asli, tidak ada yang replika. Sayangnya, seluruh pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambarnya.

“Benda bersejarah ini sengaja diambil dari beberapa negara untuk diamankan oleh Sultan Ottaman ke-9 karena khawatir dihancurkan oleh penjajah Portugis dan Belanda,” tambah Ali. (choliq baya)

(jr/das/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia