Minggu, 19 Aug 2018
radarjember
icon featured
Features

Ngerumpi Masa Lalu Sambil Bikin Kripik Tempe

Senin, 18 Sep 2017 07:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

BIKIN KREASI: Mantan buruh migran rutin berkumpul di Pusat Pelayanan Terpadu (PTT) Desbumi, Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan.

BIKIN KREASI: Mantan buruh migran rutin berkumpul di Pusat Pelayanan Terpadu (PTT) Desbumi, Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan. (Khawas Auskarni/Radar Jember)

Menyimak kisah para buruh migran di Pusat Pelayanan Terpadu (PTT) Desbumi, Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan ibarat mendengar curhatan colongan (curcol) yang lebih banyak berisi penyesalan.

Mengorbankan waktu selama sekian tahun tidak bertemu anak dan suami, serta memperoleh hasil yang tak sesuai ekspektasi membuat mereka enggan kembali lagi mencari penghidupan dengan bermigrasi ke negara orang. 

Dalam ruangan yang tidak bisa dikatakan luas, hanya berkisar 5 x 2,5 meter, tiap Jumat sore (15/9) sejumlah ibu-ibu berkumpul. Mereka datang dari dusun-dusun yang berbeda di Desa Dukuh Dempok. 

Latar belakang sejarah yang sama, yaitu sebagai mantan buruh migran yang kapok. Lantas menjadi perekat yang membuat mereka bertemu, berkumpul, dan belajar sejumlah hal baru tiap minggunya. 

Selain sekadar bercerita masa lalu masing-masing di tempat perantauan di ruang sempit itu mereka juga belajar membuat kerajinan dari limbah bungkus makanan sachet, mengolah jahe menjadi ekstrak minuman, dan mengiris serta memproses tempe menjadi keripik. Para ibu-ibu itu berharap, lantaran kegiatan mingguan itu pada nantinya tercipta peluang ekonomi baru. 

Sembari memantapkan skillnya, mereka juga dijanjikan bakal dibekali permodalan oleh pemerintah desa setempat untuk menggerakkan motor usaha rintisan tersebut.

Saat bantuan permodalan dan permintaan pasar yang diharapkan datang, melalui kealian membuat kerajinan, mengekstrak jahe, dan membuat keripik tempe itulah mereka bermimpi bisa berbagi peran dengan suami menyokong tiang ekonomi keluarga. 

Siti Marpuah, 52, salah seorang dari tiga enumerator PPT Desmbumi menuturkan, sebenarnya ada kurang lebih 460 mantan buruh migran di Desa Dukuh Dempok. Enumerator merupakan petugas yang fungsinya mendata, baik mantan buruh migran juga buruh migran aktif yang berasal dari Desa Dukuh Dempok. 

Namun demikian, dari 400 ratus lebih mantan buruh mingran asal Dukuhdempok, pihaknya terpaksa hanya mampu menampung 40 orang saja untuk nimbrung dalam kegiatan mingguan PPT Desbumi. ”Dari empat dusun di Desa Dukuh Dempok, masing-masing kami ambil 10 per dusun,” ujarnya. 

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Marpuah mengisahkan pengalamannya selama merantau ke Arab Saudi pada kurun 2006 hingga 2008 silam. Kala itu, dia terdesak oleh kebutuhan biaya sekolah anak-anaknya. Sementara, penghasilan suaminya dari hasil bertani dipandang tidak cukup. 

Lantas, dia terpaksa menenteng tas keluar rumah untuk berburu Real ke negeri Bani Saud itu. Padahal, kala itu anaknya yang paling bungsu masih duduk di bangku PAUD. “Dia saya titipkan ke neneknya. Berat sekali sebenarnya,” kisahnya.

Dia mengaku, ada bayangan ketakutan yang hampir dialami  buruh mingran selama dia jauh dari rumah. Mulai takut anaknya tidak terurus, kurang kasih sayang, dan salah didikan. Hingga takut suaminya kawin lagi dengan perempuan lain. 

Beberapa kasus semacam itu benar-benar terjadi menimpa keluarga buruh migram. Bahkan, ada juga mantan buruh migran yang saat pulang menjadi berubah selera terhadap suaminya, dan pada akhirnya mengahiri rumah tangga  lantaran kawin dengan orang lain. 

Kisah yang kurang lebih sama disampaikan oleh Sundari, 43, mantan buruh migran asal Dusun Dukuh, Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan. Dia merantau selama dua tahun di Arab Saudi, sejak 1995 hingga 1997. Beberapa saat sebelum memutuskan menjadi buruh migran, hasil pertanian cabainya bangkrut. 

Lantas, dia bermaksud untuk memulihkan modal suaminya dengan merantau ke Arab Saudi. Anaknya yang paling kecil waktu itu masih berusia tiga tahun. Dan terpaksa dia titipkan ke kakak perempuannya untuk diasuh. 

Selama di Saudi, dia merasa menyesal lataran kenyataan yang didapat tidak sesuai kenyataan. Gaji yang dijanjikan oleh agen PJTKI yang katanya mencapai Rp 7 juta per bulan hanya dibayar Rp 3 juta per bulan. Selain itu, hasil perolehan merantau ternyata urung dijadikan modal lantaran habis untuk membangun rumah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Anak saya jadi nggak mau ngaji waktu itu. Saat mulai besar menodong saya jika kecilnya dulu tidak mendapat kasih sayang dari saya,” tuturnya. 

Kini, Sundari lebih memilih bekerja menjadi penjual tempe keliling. Kendati hasilnya tidak seberapan, namun sempatan tiap hari untuk berkumpul keluarga, dan mengasuh anak-anaknya lebih bermakna ketimbang mencari gaji besar di negeri orang. 

“Sekarang saya berpikir, senyampang masih ada kerjaan di sini, walaupun hasilnya tidak seberapa, lebih baik daripada harus jadi buruh migran di luar negeri,” terangnya. 

Kisah pilu juga disampaikan oleh Ninik Kusmawati, 34, mantan buruh migran lain yang kini juga aktif di PPT Desbumi. Dia sempat mendapat aduan dari rekannya sesama buruh migran di Arab Saudi yang dikunci oleh majikannya di dalam rumah lantaran melakukan kesalahan. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, buruh migran asal Indonesia sama sekali tidak bisa mendapatkan perlindungan secara hukum. 

(jr/was/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia