Sabtu, 21 Jul 2018
radarjember
icon featured
Features
Muhammad Jaka Siswono, Penceramah Dongeng

Biar Anak Cepat Nangkap, Mendongeng dengan Kisah-Kisah Lucu

Jumat, 13 Jul 2018 10:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Penceramah, Dongeng,

PENDONGENG: Muhammad Jaka Siswono memberikan siraman rohani kepada anak-anak. Lewat dongeng yang jenaka, ceramahnya mudah diserap anak kecil dengan baik. (ISTIMEWA)

Konsep menghibur dan membuat anak kecil tertawa inilah metode yang dikembangkan Muhammad Jaka Siswono saat ceramah di hadapan anak-anak. Tidak hanya lewat kisah yang lucu, tetapi juga berikan intonasi suara dan mimik muka menggelitik.

Pria bertopi flat atau topi pelukis itu duduk di tengah-tengah anak yatim saat acara keagamaan itu dimulai. Penampilannya beda. Pria itu berdiri dan mengambil mikrofon. 

Siapa dia, banyak yang bertanya?

Penampilan tidak seperti para dai yang identik dengan busana muslim lengkap dengan kopiah. Dia justru bertopi flat, baju jeans, tetapi di dadanya ada serban seperti anak band saja. 

Namun, siapa sangka pria dengan nama lengkap Muhammad Jaka Siswono adalah penceramah. Dia tidak menyajikan ceramah yang berat, tetapi lebih menghibur anak-anak kecil. Intonasi suaranya juga berubah-ubah. Menjadi anak-anak, orang tua, hingga kakek-nenek. “Siapa yang masih takut setan? Ayo acungkan tangan,” pancing Jaka, yang memberikan ceramah dengan tema anak kecil jangan takut setan. Lewat cerita-cerita lucu, ceramah pun mengalir tanpa membosankan.

Pria asal Samarinda tersebut mengaku, mencoba jadi penceramah mulai dari kuliah sekitar tahun 2005. Tidak langsung jadi penceramah anak-anak, tetapi sama seperti penceramah pada umumnya, untuk orang dewasa. “Jadi penceramah sih panggilan batin saja. Ingin jadi pemuda yang dekat dengan dakwah,” katanya. 

Menetap di Jember tahun 2011 dan menjadi guru SD, Jaka mulai menyukai dunia anak-anak. Pria berkacamata itu juga memahami anak kecil ini perlu siraman rohani. Sehingga, Jaka memilih jalan dai, berbeda dengan yang lain. Dia ingin berkonsentrasi sebagai pendongeng Islam untuk anak-anak. Alasannya, karena ingatan anak kecil ini sangat melekat. Sehingga, ilmu keagamaan ini harus diberikan, tetapi dengan versi yang enteng. 

Kendala yang dihadapi sebagai penceramah anak kecil, kata dia, adalah konsentrasi anak kecil ini berbeda dengan orang dewasa. “Konsentrasi anak itu paling tidak 10-15 menit. Agar maksud dan tujuan siraman rohani ini kena, ya harus dibuat santai dan bermain seperti mengajar anak PAUD dan TK,” katanya.

Beruntungnya, Jaka punya anak kecil yang selalu minta dongeng setiap malam. “Jadi, bisa dikatakan anak saya ini yang jadi objek belajar saya dan evaluasi dongeng yang menarik itu seperti apa. Termasuk memakai intonasi yang menggelitik,” tambahnya.

Belajar dan belajar jadi pendogeng islami terus diasah. Mulai banyak menambah literasi keagamaan, hingga menonton film kartun. Berkat mempelajari film kartun itulah Jaka belajar intonasi suara yang menyenangkan anak-anak. “Pengisi suara film kartun itu orang dewasa. Seperti kartun Sin Chan yang mengisi adalah Ony Sahrial. Ngomong mama-mama saja sudah lucu,” imbuhnya.

Sukses jadi pendongeng islami anak-anak di sekolahnya, dia mulai berani fokus sebagai pendongeng islami sejak 2017 kemarin. Jaka menjelaskan, Alquran itu sekitar 80 persen adalah kisah. Apalagi, manusia cenderung suka kisah, karena dari kisah itu kita bisa belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu. “Yang beriman diikuti dan yang kufur dihindari,” katanya.

Menurut dia, dengan berkisah akan lebih mudah menyampaikan pelajaran akhlak melalui cerita lucu dan menyenangkan. Sehingga, tanpa terasa hal tersebut terpatri di dalam diri anak-anak. Menurut pria yang berprofesi sebagai guru agama ini, hingga kini anak didiknya yang telah lulus tetap ingat dongengnya.

(jr/dwi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia