Kamis, 19 Jul 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Festival Pegon, Lestarikan Tradisi Leluhur

Senin, 25 Jun 2018 20:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Festival Pegon,

Bupati Jember dr Faida menutup agenda Festival Pegon Hias Tahun 2018 yang dipusatkan di Pantai Watu Ulo Kecamatan Ambulu, Sabtu (23/6) kemarin. Sebelum menutup resmi festival tahunan itu, perempuan pertama yang menjadi Bupati Jember tersebut sempat diarak menggunakan pegon sejauh 200 meter. Sekaligus diiringi oleh tarian reog siswa SMP Negeri 2 Ambulu. 

“Seumur-umur baru sekali ini saya naik pegon. Kalau ditanya rasanya seperti apa? Rasanya itu sesuatu banget,” tutur Faida. Guyonan itu dia sampaikan sesaat sebelum menutup festival yang telah berjalan 20 tahun tersebut.

Pegon merupakan istilah dalam Bahasa Jawa yang mengacu kepada alat transportasi tradisional semacam pedati. Dalam istilah lain, pegon juga disebut cikar. Meski hampir serupa dengan pedati, namun ada beberapa perbedaan mendasar. Pedati digunakan untuk mengangkut orang, sedangkan pegon untuk mengangkut barang seperti pasir atau hasil bumi. 

Perbedaan mencolok lainnya adalah, pengemudi pedati disebut kusir, sementara pengemudi pegon disebut bajingan. Ukuran pegon juga jauh lebih besar dibandingkan pedati. Material pegon juga lebih kuat dan berat, karena dibuat dari balok-balok kayu. Pegon ditarik dua ekor sapi dewasa, sementara pedati ditarik seekor kuda. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, konvoi pegon ini dimulai dari depan kantor Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, dan berakhir di Pantai Watu Ulo yang berjarak sekitar 3 kilometer. Tahun ini, sebanyak 65 pegon dari dua kecamatan, Ambulu dan Wuluhan, yang tercatat mengikuti festival yang telah menjadi tradisi masyarakat lokal tersebut.

Saat naik pegon tersebut, Bupati Faida juga sempat bertanya sembari berkelakar kepada bajingan yang membawanya. Dia berkata, apakah lomba dalam festival pegon ini yang dinilai keindahan atau kecepatannya. 

Jika keindahan dekorasi pegon, maka dirinya tak mempermasalahkan, dan akan naik hingga di garis finish. Namun kalau kecepatan yang dinilai, dia lebih baik turun saja, karena khawatir terjatuh. “Tadi saya sempat berbisik. Ini yang dinilai keindahan atau kecepatan? Kalau kecepatan saya lebih baik turun saja,” kelakarnya.

Menurut Faida, menaiki pegon memiliki sensasi tersendiri. Sebab alat angkut tradisional itu mulai jarang digunakan, karena telah digantikan oleh alat angkut yang lebih modern yang menggunakan tenaga mesin. 

Untuk itu dia mengajak, agar masyarakat di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan terus melestarikan tradisi ini, sehingga masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang. “Tradisi ini penting untuk dilestarikan. Karena selain bernilai seni dan wisata, budaya ini juga merupakan budaya asli dari masing-masing desa dan kecamatan di Jember,” ujarnya.

Pegon atau pedati umum digunakan oleh masyarakat di kawasan perdesaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat wilayah pesisir pantai selatan Jember dalam pemanfaatan pegon, yaitu menyulapnya menjadi pedati yang cantik setiap H+7 Hari Raya Idul Fitri.

Festival pegon merupakan sebuah festival tahunan dengan melibatkan kendaraan tradisional pegon atau cikar yang dihias sedemikian rupa. Setiap Lebaran Ketupat atau tujuh hari setelah Idul Fitri, masyarakat di wilayah pantai selatan menggelar aktivitas pawai pegon yang sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun lalu. Pegon tersebut dihias dengan cantik dan unik, sangat berbeda dengan pegon pada umumnya. 

Seluruh pegon tersebut kemudian dinilai oleh dewan juri untuk kemudian dinyatakan sebagai pemenang. “Ini memang dilombakan, sebenarnya dulu sudah menjadi tradisi namun saat ini kami menyempurnakannya dengan cara mengemas dalam bentuk festival,” ujar Dedi Winarno Kabid Pengembangan Produk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember.

Puluhan pemilik pegon dari wilayah pesisir pantai selatan tak pernah absen mengikuti gelaran tersebut. Pawai pegon ini menyusuri areal persawahan dan berakhir di pesisir pantai. Tradisi ini juga untuk melestarikan keberadaan pegon yang semakin terpinggirkan dan kalah bersaing dengan alat transportasi modern. “Kita juga mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya dan mengingat leluhur kita dengan cara memanfaatkan pegon,” ujarnya.

Meski lebih banyak diikuti masyarakat di Ambulu, namun Dedi tak menutup kemungkinan daerah lain bisa ikut serta memeriahkan gelaran tersebut. “Tahun depan kita ingin seluruh kecamatan di wilayah pesisir pantai selatan bisa mengikuti kegiatan ini,” pungkasnya.

(jr/lin/das/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia